SURYA.CO.ID - Misteri tewasnya Ruly Yunis Setiawati (50) yang jasadnya ditemukan dalam mobil dinas Toyota Innova M 1090 GP di area parkir Bandara Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur pada Rabu (24/6/202), mulai terkuak.
Tewasnya Sekretaris Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) Pemkab Bangkalan ini diduga terkait dengan pria berinisial E.
Sosok pria berinisial E ini diketahui berkat temuan sandal di dalam mobil dinas yang menjadi tempat ditemukannya jasad Ruly.
Kuasa hukum keluarga, Risang Bisa Wijaya membocorkan sosok pria berinisial E yang fotonya banyak beredar di media sosial.
"Inisial terduga pelakul E, berasal dari luar pulau (Jawa) tapi berdomisili di Kabupaten Malang. Usianya sekitar 45 tahun dan pekerjaannya tercatat sebagai wiraswasta," ungkap Risang pada Selasa (30/6/202).
Baca juga: Ternyata Keluarga Tahu Identitas Pria Berkacamata Bersama Ruly Sebelum Pejabat Bangkalan ini Tewas
Risang menyebut sandal yang ditemukan di mobil itu berwarna merah maron bertuliskan nama sebuah hotel di Kota Batu.
"Ditemukan dalam mobil dinas. Sandal hotel itu ada ditemukan di TKP pembuangan mayat (area parkir Juanda)," tegas Risang.
Risang menyebut sandal hotel berwarna merah maroon itu cocok dengan yang dipakai terduga pelaku seperti dalam foto-foto yang beredar.
Sebelumnya banyak beredar foto-foto kebersamaan almarhumah dan sosok terduga pelaku.
Pada pojok bawah sisi kiri bertuliskan A9 2020 dan 06/19 dengan keterangan waktu 14:09.
Risang membenarkan bahwa perempuan dalam video berdurasi 33 detik yang beredar luas itu adalah almarhumah Ruly. Adapun keterangan bertuliskan A9 merupakan jenis ponsel Oppo milik korban Ruly.
"Keterangan 19 itu adalah tanggal Hari Jumat di Alun-alun Kota Batu," beber Risang.
Disinggung terkait belum ada kejelasan berkaitan perkembangan ungkap perkara kematian Ruly hingga H+6, Risang memastikan pihak kepolisian juga telah memiliki profil bahkan lebih lengkap terkait terduga pelaku.
"Info terakhir belum tertangkap, tim dari Polresta Sidoarjo masih melakukan pencarian dan pengejaran terhadap terduga pelaku," pungkas Risang.
Sosok E yang bersama Ruly di alun-alun Batu ini sama dengan pria bermasker yang tertangkap kamera CCTV sedang masuk ke area loket parkir Bandara Juanda pada Sabtu (20/6/2026).
Dari CCTV itu terpantau mobil dinas tempat Ruly ditemukan tewas, masuk ke area bandara.
Tampak seorang pria mengenakan masker wajah di kursi kemudi, sementara jok depan sisi kiri posisinya direbahkan.
Di situ tempat duduk jenasah Ruly dalam posisi kaki menekuk.
Kesesuaian antara sosok di alun-alun Kota Batu dan pengemudi mobil dinas Ruly itu dibenarkan kuasa hukum keluarga, Risang Bima Wijaya.
"Dari kaca mata pribadi, saya cocok. Ada kesesuaian pada rambut, kaca mata, lebar dahi, kaos. Paling mencolok itu pada gagang kaca mata ada tanda kuning, apalagi kaos paling cocok," ungkap Risang kepada sejumlah awak media pada Minggu (28/6/2026).
Kini, penyidik kepolisian tengah mendalami dugaan kekerasan yang mengakibatkan tewasnya Ruly.
Dugaan penganiayaan mencuat, menyusul hasil autopsi yang menunjukkan adanya indikasi asfiksia atau kondisi kekurangan oksigen pada tubuh korban sebelum mengembuskan napas terakhir.
Selain itu, ditemukan pula tanda kekerasan fisik pada bagian luar tubuh korban.
Baca juga: Kronologi Penemuan Jenazah Perempuan di Parkiran Bandara Juanda, Ini Identitas Korban
Berdasarkan hasil pemeriksaan luar, tim medis menemukan luka robek pada cuping telinga kiri korban.
Luka tersebut diduga kuat terjadi akibat benturan atau kekerasan benda tumpul.
Kepala Tim Humas Rumah Sakit Bhayangkara Pusdik Sabhara Porong, AKBP Ni Made Wiatini, memaparkan sejumlah temuan khas terkait kondisi asfiksia yang dialami korban saat pemeriksaan dilakukan.
"Ditemukan pelebaran pembuluh darah pada kedua selaput lendir kelopak mata. Yang ketiga, ditemukan kebiruan pada selaput lendir bibir atas maupun bawah. Kelainan ini lazim ditemukan pada mati lemas atau karena asfiksia," terang AKBP Ni Made Wiatini pada Sabtu (27/6/2026).
Baca juga: Terungkap Perjalanan Terakhir Ruly Sebelum Ditemukan Meninggal di Bandara Juanda
Indikasi meninggal lemas ini juga diperkuat oleh hasil pemeriksaan organ dalam korban.
Sejumlah organ vital mengalami perubahan warna akibat pembendungan darah atau kongesti yang mengarah pada kondisi kekurangan oksigen sebelum meninggal.
Selain itu, tim dokter memastikan bahwa korban tidak dalam kondisi hamil. Perut korban yang tampak membesar saat ditemukan, murni disebabkan oleh proses pembusukan alami.
Ruly Yunis diperkirakan telah meninggal dunia sekitar dua hingga tiga hari sebelum proses autopsi dilakukan, sementara hasil swab vagina dinyatakan negatif dari jejak sperma.
Guna mengungkap penyebab pasti meninggalnya Ruly Yunis, penyidik telah mengirimkan sejumlah sampel organ dalam korban ke Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jawa Timur.
Sampel-sampel tersebut kini tengah menjalani uji toksikologi secara mendalam.
Langkah medis ini diambil untuk memastikan apakah kondisi asfiksia yang dialami korban dipicu oleh pengaruh zat beracun tertentu, penyumbatan saluran napas secara paksa, atau faktor medis lainnya.
Pihak kepolisian menegaskan bahwa penyelidikan intensif akan terus berjalan untuk mengungkap kebenaran di balik meninggalnya Ruly Yunis yang tragis ini. (Kompas.com)