TRIBUNJOGJA.COM - Cilok merupakan salah satu camilan khas asal Bandung yang terbuat dari tepung tapioka. Teksturnya yang kenyal menjadi ciri khas sekaligus alasan mengapa makanan ini digemari oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga remaja. Tidak heran jika cilok menjadi salah satu jajanan yang mudah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia.
Meskipun berasal dari Jawa Barat, di Yogyakarta terdapat salah satu penjual cilok yang sangat terkenal, yaitu Cilok Gajahan.
Usaha yang telah berdiri sejak tahun 2008 ini masih mampu mempertahankan eksistensinya hingga sekarang. Bahkan, sampai tahun 2026, Cilok Gajahan telah memiliki sembilan cabang yang tersebar di berbagai wilayah Yogyakarta. Perkembangan tersebut membuat banyak orang penasaran dengan kisah dan fakta menarik di balik kesuksesan usaha cilok yang satu ini.
Berikut lima fakta menarik di balik suksesnya Cilok Gajahan di Yogyakarta.
1. Alasan Dinamakan "Cilok Gajahan"
Dalam wawancara yang dilakukan tim Brilio Video Indonesia bersama Syahrul selaku pemilik Cilok Gajahan, dijelaskan bahwa nama "Gajahan" diambil dari lokasi awal tempat ia berjualan, yaitu di kawasan Alun-alun Selatan atau yang biasa disebut masyarakat Jogja sebagai Alkid.
Dahulu, kawasan tersebut merupakan tempat kandang gajah milik Keraton Yogyakarta. Karena itulah, masyarakat pada masa itu menyebut wilayah tersebut sebagai Kampung Gajahan.
Melihat hal tersebut, Syahrul kemudian berinisiatif mengganti nama usahanya dari "Cilok Bandung" menjadi "Cilok Gajahan". Siapa sangka, nama tersebut justru menjadi daya tarik tersendiri. Meskipun menggunakan nama "Gajahan", ukuran cilok yang dijual justru tergolong kecil-kecil sehingga mudah diingat oleh para pelanggan.
2. Memanfaatkan Tenaga Masyarakat Setempat
Dikutip dari Mojok.co, seiring berkembangnya usaha yang dimiliki, Syahrul kini mempekerjakan karyawan yang berasal dari masyarakat di sekitar tempat tinggalnya.
Selain membuka lapangan pekerjaan, langkah tersebut juga menjadi salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat sekitar. Dengan begitu, perkembangan usaha Cilok Gajahan tidak hanya memberikan keuntungan bagi pemiliknya, tetapi juga membawa manfaat bagi lingkungan sekitar.
3. Memiliki Mindset "Yang Penting Murah, Tapi yang Jual Banyak"
Dalam tulisan Mojok.co yang ditulis oleh Rahma Ayu, disebutkan bahwa sejak awal Syahrul sangat jarang menaikkan harga cilok yang dijualnya. Kalaupun mengalami kenaikan, jumlahnya tidak terlalu besar.
Dahulu harga cilok dijual sekitar Rp250 per biji, kemudian naik menjadi Rp350 per biji. Kini, pembeli cukup membayar Rp7.000 untuk mendapatkan sekitar 20 butir cilok.
Menurut Syahrul, strategi usahanya bukan mengambil keuntungan besar dari setiap pembelian, melainkan menjual dengan harga yang tetap terjangkau agar pembelinya banyak. Ia juga menilai strategi harga murah akan berjalan maksimal apabila didukung dengan jumlah cabang yang banyak, sehingga penjualan tetap tinggi meskipun keuntungan per porsi relatif kecil.
4. Berinovasi dengan Menjual Cilok Frozen
Tidak hanya menjual cilok siap santap, Syahrul juga terus melakukan inovasi dengan menghadirkan berbagai produk baru.
Dikutip dari Brilio Video Indonesia, selain membuka usaha sempol dengan harga Rp5.000 untuk tujuh tusuk, kini Cilok Gajahan juga menjual produk cilok frozen. Produk tersebut dibanderol sekitar Rp14.000 per kemasan dengan isi sekitar 40 butir cilok, sehingga pelanggan dapat menikmati Cilok Gajahan di rumah kapan saja.
5. Menggunakan Bahan-Bahan Premium
Salah satu faktor yang membuat cita rasa Cilok Gajahan tetap konsisten adalah penggunaan bahan-bahan berkualitas.
Syahrul mengungkapkan bahwa seluruh bahan baku yang digunakan dipilih dengan kualitas premium. Tepung yang digunakan berasal dari merek yang sudah terpercaya, cabai dipilih dengan kualitas terbaik, sementara sausnya diracik kembali menggunakan resep khusus sehingga memiliki cita rasa yang khas dan berbeda dari cilok pada umumnya.
(MG ABIL PRAMUDYA)