Kelebihan dan Kekurangan B50
Hari Susmayanti July 01, 2026 10:14 AM

TRIBUNJOGJA.COM – Pemerintah menerapkan kebijakan Biodiesel 50 (B50) mulai Rabu (1/7/2026). 

B50 adalah bahan bakar diesel yang terdiri atas campuran 50 persen biodiesel jenis fatty acid methyl ester (FAME) dan 50 persen solar.

Biodiesel berasal dari minyak nabati yang diolah menjadi bahan bakar untuk mesin diesel.

Pencampuran tersebut dilakukan sebagai bagian dari pemanfaatan energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.

Kebijakan ini menjadi strategi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus kemandirian energi.

Kepastian Indonesia memberlakukan implementasi B50 ini disampaikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

Menurut politisi Partai Golkar ini, implementasi B50 dilakukan untuk meningkatkan kemandirian energi nasional. 

“Sebagai bagian dari upaya kemandirian energi dan efisiensi energi, pemerintah menerapkan kebijakan B50. Ini mulai berlaku 1 Juli 2026," ujarnya beberapa waktu yang lalu.

Saat itu Airlangga menyebut penerapan B50 mampu menghemat subsidi hingga puluhan triliun rupiah.

Penggunaan BBM fosil diperkirakan berkurang hingga 4 juta kiloliter (KL) dalam satu tahun.

Baca juga: Kenapa Lampu Merah di Jogja Terasa Banyak? Ini Penjelasannya

Kelebihan dan Kekurangan B50

Dikutip dari Kompas.com, pemberlakuan B50 mulai 1 Juli 2026 in dinilai memberikan dampak positif bagi sektor energi dan perekonomian nasional.

Guru Besar Departemen Kimia FMIPA Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Karna Wijaya, mengatakan implementasi B50 ini bisa menekan jumlah impor BBM Indonesia.

Berkurangnya impor BBM ini dapat membantu menekan kebutuhan devisa negara, memperbaiki neraca perdagangan, sekaligus mendukung penguatan nilai tukar rupiah. 

"Selain itu, kebijakan ini juga memberikan efek positif bagi industri kelapa sawit," ujar Karna saat dihubungi Kompas.com, Kamis (2/3/2026).  

"Permintaan terhadap crude palm oil (CPO) diperkirakan akan meningkat sehingga dapat membantu menjaga harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani," tambahnya.

Ia menambahkan, kondisi tersebut juga berpotensi meningkatkan kesejahteraan petani dan memperkuat ekosistem industri sawit dari hulu hingga hilir.

Selain itu, Karna menilai, biodiesel lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar fosil karena menghasilkan emisi gas rumah kaca yang lebih rendah.

Selain memiliki kandungan sulfur yang lebih sedikit, biodiesel lebih mudah terurai.

Ia menambahkan, implementasi B50 dalam skala lebih luas dapat membuka peluang terciptanya lapangan kerja baru, terutama pada sektor agribisnis dan energi terbarukan.

Di sisi lain, meski memiliki sejumlah kelebihan, B50 juga memiliki sejumlah kekurangan.

Dosen Program Studi Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Wahyudi, menilai bahwa peningkatan kandungan biodiesel menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mempercepat transisi menuju energi yang lebih berkelanjutan.

 “Peningkatan kandungan biodiesel ini menunjukkan semakin besarnya pemanfaatan energi terbarukan di sektor transportasi,” ujarnya, dilansir dari laman resmi UMY, Sabtu (20/6/2026).

Kendati demikian, Wahyudi mengingatkan kesiapan teknologi kendaraan tetap menjadi aspek penting dalam penerapan B50.

Menurutnya, kendaraan diesel keluaran terbaru umumnya telah dirancang untuk menggunakan campuran biodiesel dengan kadar yang lebih tinggi.

Sebaliknya, kendaraan diesel yang lebih tua masih dapat menggunakan B50, tetapi memerlukan perhatian lebih karena berpotensi mengalami penurunan performa.

Ia menjelaskan, biodiesel memiliki beberapa karakteristik yang berbeda dibandingkan solar murni, yakni viskositas atau tingkat kekentalan lebih tinggi, densitas atau kepadatan lebih tinggi, serta nilai kalor yang lebih rendah.

“Karakteristik biodiesel yang lebih kental dapat memengaruhi proses pembakaran,” kata Wahyudi.

"Pada kendaraan yang lebih lama, kondisi ini berpotensi menyebabkan penurunan performa dan tenaga dibandingkan ketika menggunakan solar murni," lanjutnya.

Di sisi lain, penggunaan B50 juga berpotensi memicu terbentuknya endapan pada sistem bahan bakar apabila kualitas biodiesel tidak terjaga dengan baik.

Oleh sebab itu, pemilik kendaraan diesel disarankan lebih rutin memeriksa kondisi filter bahan bakar.

Wahyudi menilai pengaruh B50 terhadap ketahanan mesin secara umum tidak terlalu besar.

Namun, kendaraan yang sudah berusia tua berpotensi mengalami keausan lebih cepat pada beberapa komponen berbahan karet di sistem bahan bakar.

Ia juga menyebut, konsumsi bahan bakar dapat sedikit meningkat karena mesin membutuhkan pasokan lebih banyak untuk menghasilkan tenaga yang setara dengan solar murni.

Menurut Wahyudi, tantangan utama implementasi B50 bukan berasal dari pengguna kendaraan, melainkan dari konsistensi mutu biodiesel yang diproduksi dan didistribusikan.

Ia mengingatkan, proses oksidasi harus dicegah karena dapat menurunkan kualitas biodiesel selama penyimpanan maupun distribusi.

“Pengguna kendaraan pada dasarnya tidak perlu melakukan penyesuaian khusus," jelas Wahyudi.

"Yang lebih penting adalah memastikan kualitas biodiesel yang beredar tetap baik dan sesuai standar. Jika kualitasnya terjaga, dampak negatif terhadap kendaraan dapat diminimalkan,” pungkasnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.