TRIBUNSORONG.COM, SORONG – Pembina Barisan Merah Putih (BMP) RI Provinsi Papua Barat Daya, Frangky Umpain, menegaskan kehadiran organisasinya tidak hanya berorientasi pada kegiatan sosial.
Tetapi juga menjadi jembatan kolaborasi yang memfasilitasi pengembangan potensi generasi muda, termasuk para seniman dan budayawan di Tanah Papua.
Hal tersebut disampaikan Frangky saat menjelaskan penyelenggaraan kegiatan Ekspresi Seni Budaya: Simfoni Papua Barat Daya 2026 – Anugerah Agung Zona Kepala Burung yang digelar di Sorong City.
Menurutnya, semangat yang diusung BMP berangkat dari spirit merah putih sebagai simbol persatuan, dengan tujuan menghadirkan ruang kolaborasi tanpa sekat bagi seluruh elemen masyarakat.
“Kehadiran Barisan Merah Putih spiritnya adalah semangat merah putih. Kerja-kerja organisasi ini bagaimana menjadi jembatan yang memfasilitasi dan mengakomodasi ruang bagi setiap anak Papua bahkan setiap anak bangsa di Papua untuk mempersiapkan diri sesuai kemampuan masing-masing,” kata Frangky kepada tribunsorong.com, Selasa (30/6/2026).
Ia menegaskan BMP tidak ingin membatasi diri dalam sekat organisasi.
Baca juga: BMP dan HIPMI Kota Sorong Gelar Pelatihan Coffee Shop, Dorong Kemandirian Ekonomi Generasi Muda
Sebaliknya, BMP ingin menjadi fasilitator yang membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari organisasi kepemudaan, pelaku usaha, komunitas hingga organisasi kemasyarakatan.
“Jangan karena kami organisasi yang bernafaskan lambang negara lalu tidak bisa berkolaborasi dengan HIPMI, organisasi kampus atau organisasi lainnya. BMP hadir hanya sebagai fasilitator dan mediator agar gerakan-gerakan positif dari kelompok muda, ekonomi dan kegiatan sosial bisa tumbuh bersama,” ujarnya.
Frangky menjelaskan, sejak hadir sekitar enam bulan lalu, BMP lebih banyak bergerak dalam aksi-aksi sosial. Namun dalam tiga bulan terakhir, organisasi tersebut mulai menggeser fokus pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia, khususnya generasi muda Papua.
Menurutnya, langkah tersebut penting agar pembangunan sumber daya manusia berlangsung secara berkelanjutan dan tidak menciptakan ketergantungan terhadap organisasi.
“Kita ingin anak-anak Papua memiliki kemampuan dan keahlian sehingga mereka bisa mandiri. Jangan sampai bergantung pada organisasi, tetapi organisasi hanya menjadi penghubung menuju kesempatan yang lebih besar,” katanya.
Dalam bidang seni dan budaya, BMP melihat masih minimnya ruang bagi seniman Papua untuk menampilkan karya mereka. Berangkat dari kondisi tersebut, BMP menggagas kegiatan bertajuk Ekspresi Seni Budaya: Simfoni Papua Barat Daya 2026 – Anugerah Agung Zona Kepala Burung.
Baca juga: Kecam Aksi KKB di Tanah Papua, BMP Sorong Serukan Perdamaian dan Perlindungan Warga Sipil
Frangky mengatakan tema tersebut dipilih karena Papua Barat Daya merupakan wilayah kepala burung di Tanah Papua yang harus dijaga sebagai kawasan yang aman, damai dan menjadi pusat lahirnya berbagai gagasan pembangunan.
“Kita melihat Papua berbentuk burung dan kepala burung ada di Papua Barat Daya. Segala sesuatu dipikirkan dari sini. Karena itu zona ini harus aman, damai, dan kehadiran Provinsi Papua Barat Daya merupakan anugerah Tuhan yang harus kita syukuri,” ucapnya.
Ia menilai seniman dan budayawan memiliki peran strategis dalam menjaga keharmonisan masyarakat. Di tengah kejenuhan sosial maupun politik, karya seni dinilai mampu menjadi media pemersatu masyarakat.
“Ketika masyarakat jenuh dengan politik atau hal-hal lain, seniman melalui lirik dan karya mereka mampu mempersatukan masyarakat. Mereka adalah penjaga sejarah dan budaya Papua,” katanya.
Pada kegiatan tersebut, BMP hanya berperan menyiapkan panggung dan ruang berekspresi bagi para seniman. Sejumlah seniman Papua, sanggar seni hingga pelaku seni budaya dijadwalkan tampil dalam berbagai pertunjukan.
Selain pertunjukan seni, panitia juga menggelar talk show budaya yang menghadirkan pemerintah daerah, Balai Pelestarian Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, serta para pemangku kepentingan untuk membahas masa depan pengembangan seni dan budaya di Papua Barat Daya.
Baca juga: Perkuat Toleransi dan Komunikasi, BMP Papua Barat Daya Gelar Dialog Budaya
“Kami ingin pemerintah melihat bahwa seniman membutuhkan ruang. Harapan kami ke depan ada rumah budaya yang bisa dibangun sebagai pusat aktivitas seni dan budaya di Papua Barat Daya,” ujarnya.
Frangky juga menyebut kawasan Sorong City diharapkan dapat berkembang menjadi ruang ekspresi budaya yang terbuka bagi masyarakat, termasuk komunitas musik, seni pertunjukan hingga stand up comedy.
“Ruang ini kami buka untuk semua. Siapa saja bisa berekspresi, termasuk stand up comedy. Tujuan kami sederhana, agar seniman Papua tidak lagi terpinggirkan dan memiliki panggung untuk berkarya,” katanya.
Ia menambahkan penyelenggaraan kegiatan pada Hari Bhayangkara merupakan bentuk partisipasi BMP dalam mendukung terciptanya keamanan dan ketertiban melalui pendekatan seni dan budaya.
“Kalau daerah ini aman dan damai, seniman bisa berkarya, pelaku UMKM bisa berkembang, sektor ekonomi berjalan. Karena itu mari kita bangun Papua Barat Daya dengan kolaborasi. Kita tidak bisa membangun Papua sendirian, kita membutuhkan super tim, bukan superman,” tutup Frangky. (Tribunsorong.com/ismail saleh)