Mulai 1 Juli 2026, Biodiesel B50 Resmi Dijual di SPBU, Harga Diperkirakan Rp6.800 per Liter
Wawan Akuba July 01, 2026 02:47 PM

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Pemerintah resmi mulai memasarkan Biodiesel B50 di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) mulai Rabu, 1 Juli 2026.

Kebijakan ini menjadi kelanjutan program transisi energi nasional setelah sebelumnya diterapkan Biodiesel B35 dan B40.

B50 merupakan bahan bakar diesel yang terdiri dari campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak kelapa sawit atau Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dan 50 persen solar berbasis fosil.

Peningkatan kandungan energi baru terbarukan tersebut diharapkan mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar sekaligus memperkuat industri sawit nasional.

Baca juga: Jennifer Coppen Bongkar Tabiat Asli Justin Hubner Setelah Menikah, Ternyata Begini Kelakuannya

Dibandingkan program sebelumnya, komposisi Biodiesel B50 mengalami peningkatan porsi biodiesel.

Pada B35, kandungan biodiesel mencapai 35 persen dan solar fosil 65 persen, sedangkan B40 menggunakan campuran 40 persen biodiesel dan 60 persen solar.

Biodiesel B50 dirancang untuk kendaraan dan mesin diesel yang membutuhkan torsi besar serta konsumsi bahan bakar tinggi.

Pengguna utamanya meliputi kendaraan angkutan, alat berat, transportasi laut, perkeretaapian, industri pertambangan, alat dan mesin pertanian (alsintan), hingga pembangkit listrik.

Berdasarkan skema yang disiapkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), harga Biodiesel B50 diperkirakan berada di kisaran Rp6.800 per liter.

Hasil Uji Dinilai Memuaskan

Kementerian ESDM menyebut hasil pengujian Biodiesel B50 menunjukkan performa yang positif. Sekitar 80 hingga 90 persen indikator pengujian dinyatakan memenuhi standar dan berkinerja baik.

Selain memiliki performa yang lebih baik, B50 juga diklaim memiliki kandungan air yang lebih rendah sehingga lebih bersih dibandingkan Biodiesel B40.

Berpotensi Hemat Devisa Rp157 Triliun

Pemerintah memproyeksikan implementasi B50 pada semester II 2026 mampu memberikan dampak ekonomi yang besar.

Kementerian ESDM memperkirakan kebijakan ini dapat menghemat devisa negara hingga Rp157,28 triliun atau sekitar 9,18 miliar dolar Amerika Serikat melalui pengurangan impor bahan bakar fosil.

Selain itu, konsumsi solar fosil diperkirakan berkurang sekitar 4 juta kiloliter per tahun, sehingga impor solar jenis C48 dapat ditekan secara signifikan.

Dorong Industri Sawit dan Serap Jutaan Tenaga Kerja

Program Biodiesel B50 juga diperkirakan memberikan nilai tambah sebesar Rp24,68 triliun bagi industri kelapa sawit nasional.

Tak hanya itu, implementasinya diproyeksikan mampu menyerap lebih dari 2,2 juta tenaga kerja di sepanjang rantai pasok industri sawit, mulai dari sektor hulu hingga hilir.

Dari sisi lingkungan, pemanfaatan biodiesel berbasis kelapa sawit diperkirakan mampu menurunkan emisi karbon nasional hingga 46,72 juta ton setara CO₂, sehingga mendukung target transisi energi dan pengurangan emisi gas rumah kaca Indonesia. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.