TRIBUN-SULBAR.COM, POLMAN - Sebanyak 83 ekor hewan ternak babi di Dusun Salupaku, Desa Indomakombong, Kecamatan Matakali, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar), mati diduga terserang flu babi Afrika atau African Swine Fever (ASF), Rabu (1/7/2026).
Kematian ternak babi diduga akibat ASF ini terjadi mulai 5 Juli atau sudah hampir satu bulan terakhir.
Data Pusat Kesehatan Hewan (PKM) Mapilli Polman mencatat, hingga saat ini sebanyak 83 ekor babi mati.
Baca juga: Ternak Babi Mati Mendadak di Papalang Mamuju Diduga Terserang Penyakit ASF
Baca juga: Pesta Babi, Sapiens dan Ilusi di Atas Piring Kita
Dari total populasi 312 ekor babi milik 17 peternak di wilayah Dusun Salupaku.
Petugas kesehatan hewan dari PKM Mapilli telah mendatangi lokasi dan mengambil sampel untuk pemeriksaan uji laboratorium.
"Kematian hewan ternak babi ini sudah mencapai 83 ekor, dan hari ini masih akan bertambah," kata Kepala PKM Mapilli, drh. Isnaini Bagenda, kepada wartawan.
Dia menjelaskan, kematian hewan ternak babi tersebut diduga kuat disebabkan oleh virus ASF.
Pasalnya, kejadian serupa juga pernah terjadi di wilayah Kecamatan Polewali pada 2023 lalu.
Isnaini menjelaskan, kronologi kejadian bermula dari adanya dugaan penularan melalui seekor babi yang dibawa dari Kabupaten Mamasa.
"Ada hajatan saat itu di Dusun Salupaku. Ada keluarga yang datang membawa babi dari Mamasa, dan babi itu dalam kondisi sakit," ungkapnya.
Disebutkan, babi yang sakit dari Kabupaten Mamasa itu sempat ditempatkan di kandang ternak babi milik warga.
Diduga, penyebaran virus ASF berasal dari babi yang sakit tersebut hingga menular ke ternak babi di Dusun Salupaku.
Isnaini menyebut, sekitar satu pekan setelah babi dari Mamasa itu datang, hewan ternak milik warga Dusun Salupaku mulai sakit.
Hingga akhirnya mati secara bertahap setiap hari selama satu bulan terakhir, sehingga jumlah kematian mencapai 83 ekor.
"Kasus flu babi Afrika ini memang sudah pernah terjadi pada 2023 lalu, tetapi saat itu Dusun Salupaku tidak terdampak," ungkapnya.
Dia menambahkan, sampel hewan ternak babi telah diambil petugas untuk dikirim ke Balai Besar Veteriner Maros (BBVM).
Sementara itu, bangkai hewan yang mati telah ditangani petugas kesehatan hewan sesuai standar prosedur. (*)
Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com, Fahrun Ramli