Tribunlampung.co.id, Pesawaran - UPTD Puskesmas Hanura memperkuat upaya deteksi dini malaria dengan melibatkan kader kesehatan di dusun-dusun endemis melalui penggunaan Rapid Diagnostic Test (RDT) atau tes cepat malaria.
Baca juga: Tambak Terlantar dan Aktivitas Malam Jadi Pemicu Malaria Tinggi di Pesisir Teluk Pandan Pesawaran
Langkah ini dilakukan untuk mempercepat penemuan kasus sekaligus memperluas jangkauan layanan kesehatan hingga ke wilayah pesisir yang sulit dijangkau fasilitas puskesmas.
Kader kesehatan di lapangan kini dibekali alat RDT sehingga masyarakat yang mengalami demam atau gejala yang mengarah pada malaria dapat segera diperiksa tanpa harus langsung datang ke puskesmas.
Kepala UPTD Puskesmas Hanura, Nazlina Mayanti, mengatakan strategi tersebut terbukti membantu mempercepat deteksi kasus di wilayah kerja Puskesmas Hanura, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran.
“Kami membekali kader di dusun-dusun endemis dengan RDT. Jadi ketika ada warga yang demam atau menunjukkan gejala mengarah ke malaria, mereka bisa langsung diperiksa di tempat,” kata Nazlina kepada Tribun Lampung, Rabu (1/7/2026).
Ia menjelaskan, RDT merupakan metode pemeriksaan cepat dengan mengambil sedikit sampel darah pasien. Hasil pemeriksaan dapat diketahui dalam waktu singkat sehingga mempercepat proses penanganan awal.
“Tesnya sederhana, hanya dengan sampel darah sedikit, lalu hasilnya bisa langsung diketahui apakah positif malaria atau tidak,” ujarnya.
Meski dapat melakukan pemeriksaan awal, kader kesehatan tidak diperkenankan memberikan obat kepada pasien. Setiap hasil positif wajib dilaporkan kepada petugas Puskesmas Hanura untuk memastikan jenis malaria dan penanganan medis yang tepat.
“Kader hanya melakukan pemeriksaan dan pelaporan. Setelah itu, pengobatan tetap dilakukan oleh puskesmas sesuai jenis malaria yang ditemukan,” jelasnya.
Menurut Nazlina, pendekatan berbasis kader ini membuat penemuan kasus dapat dilakukan lebih cepat, terutama di dusun-dusun pesisir yang lokasinya cukup jauh dari fasilitas kesehatan.
Selain mempercepat deteksi, pihak puskesmas juga menekankan pentingnya kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan hingga tuntas. Hal ini terutama pada kasus malaria Plasmodium vivax yang membutuhkan terapi selama 14 hari agar parasit tidak kembali muncul.
“Untuk malaria vivax, pengobatan harus dijalani sampai 14 hari. Pasien perlu dipantau agar obat benar-benar diminum sampai selesai,” katanya.
Ia menambahkan, pemantauan kepatuhan minum obat saat ini juga didukung oleh kegiatan penelitian dari Kementerian Kesehatan yang berlangsung di wilayah kerja Puskesmas Hanura.
“Beberapa tahun terakhir ada penelitian dari Kementerian Kesehatan terkait malaria. Pasien yang menjalani pengobatan juga ikut dipantau kepatuhan minum obatnya,” ujarnya.
Selain tenaga kesehatan, kader di desa-desa endemis juga dilibatkan dalam pemantauan pasien untuk memastikan proses pengobatan berjalan sesuai ketentuan.
“Kader juga ikut memantau pasien di lapangan. Masyarakat di sini sudah cukup memahami malaria karena penyakit ini memang sudah lama ada di wilayah kami,” kata Nazlina.
Data Puskesmas Hanura menunjukkan, kasus malaria masih banyak ditemukan melalui berbagai metode pemeriksaan, yakni laboratorium, RDT, dan Mass Blood Survey (MBS).
Pada 2024, dari total 1.883 kasus positif malaria, sebanyak 1.730 kasus ditemukan melalui pemeriksaan laboratorium, 136 kasus melalui RDT, dan 17 kasus melalui MBS.
Memasuki 2025, penggunaan RDT meningkat menjadi 457 kasus, sementara pemeriksaan laboratorium menemukan 790 kasus dan 22 kasus melalui MBS. Tren ini menunjukkan peningkatan jangkauan deteksi di tingkat dusun.
Hingga Mei 2026, tercatat 280 kasus ditemukan melalui pemeriksaan laboratorium, 283 kasus melalui RDT, dan 5 kasus melalui MBS. Data ini menunjukkan peran RDT semakin signifikan dalam mempercepat penemuan kasus di masyarakat.
Selain pelayanan kesehatan, wilayah kerja Puskesmas Hanura juga menjadi lokasi berbagai penelitian malaria, baik oleh perguruan tinggi maupun Kementerian Kesehatan. Penelitian tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari resistensi obat hingga efektivitas pengobatan.
“Sudah puluhan tahun berbagai penelitian dilakukan di sini, mulai dari obat, resistensi, hingga efektivitas pengobatan malaria,” ujar Nazlina.
Ia berharap hasil penelitian dan penguatan deteksi dini melalui kader kesehatan ini dapat mempercepat pengendalian malaria di wilayah pesisir Teluk Pandan, sehingga target eliminasi malaria di Kabupaten Pesawaran dapat segera tercapai.
Tingginya kasus malaria di wilayah kerja UPTD Puskesmas Hanura ternyata tidak tersebar merata di seluruh Kecamatan Teluk Pandan. Dari 10 desa yang ada, hanya enam desa pesisir yang ditetapkan sebagai lokus malaria karena memiliki habitat alami nyamuk Anopheles, vektor penyebab penyakit tersebut.
Kepala UPTD Puskesmas Hanura, Nazlina Mayanti, mengatakan enam desa yang masuk wilayah endemis malaria yakni Sukajaya Lempasing, Hurun, Hanura, Sidodadi, Gebang, dan Batu Menyan.
Sementara desa-desa yang berada di kawasan perbukitan atau pegunungan tidak termasuk wilayah endemis karena jauh dari lokasi perkembangbiakan nyamuk.
“Di Kecamatan Teluk Pandan ada 10 desa, tetapi yang menjadi daerah endemis hanya enam desa di sepanjang garis pantai. Desa-desa yang berada di atas gunung tidak masuk karena jauh dari tempat perindukan nyamuk malaria,” kata Nazlina kepada Tribun Lampung, Rabu (1/7/2026).
Menurut dia, keberadaan nyamuk Anopheles sangat dipengaruhi kondisi lingkungan.
Berbeda dengan jenis nyamuk lainnya, Anopheles berkembang biak di kawasan air payau yang banyak ditemukan di sepanjang pesisir Teluk Pandan.
“Walaupun di daerah pegunungan juga ada nyamuk, jenisnya berbeda. Nyamuk malaria hidup di daerah pesisir, di sekitar air payau,” ujarnya.
Nazlina menjelaskan, bahkan di enam desa endemis tersebut tidak seluruh dusun menjadi wilayah penularan malaria.
Kasus hanya terkonsentrasi di dusun-dusun yang berada di sekitar garis pantai, terutama yang berdekatan dengan tambak, rawa, laguna, kolam, kubangan, maupun saluran air yang menjadi habitat perkembangbiakan nyamuk.
“Enam desa itu pun tidak semuanya menjadi kantong malaria. Yang menjadi lokus hanya dusun-dusun tertentu yang berada dekat tempat perindukan nyamuk,” katanya.
Berdasarkan pemetaan UPTD Puskesmas Hanura, kantong-kantong penularan malaria tersebar di sejumlah dusun pesisir yang memiliki karakteristik lingkungan sesuai habitat Anopheles.
Di Desa Sukajaya Lempasing, wilayah yang menjadi lokus meliputi Dusun 3 Laut dan Dusun 7 Mutun yang dikelilingi tambak, laguna, rawa, kubangan, kolam, sungai, serta saluran air.
Di Desa Gebang, penyebaran malaria tercatat di lima dusun, yakni Tanjung Jaya, Seribu, Induk, Hilir, dan Suko Agung. Seluruhnya memiliki kombinasi habitat berupa tambak, rawa, kolam, selokan, maupun kubangan yang berpotensi menjadi lokasi perkembangbiakan nyamuk.
Sementara di Desa Hanura, kantong malaria berada di Dusun B dan Dusun C yang berada di kawasan pesisir dengan tambak, rawa, laguna, serta kubangan. Di Desa Sidodadi, wilayah yang menjadi lokus adalah Dusun 1 dan Dusun 2 yang dikelilingi tambak, laguna, rawa, kolam, kubangan, dan saluran air.
Adapun di Desa Batu Menyan, penyebaran malaria terkonsentrasi di Dusun Ketapang, Dusun Cibeurem, serta kawasan RT 7, RT 8, dan RT 9 yang berada di sekitar kawasan pesisir dengan habitat nyamuk berupa laguna, rawa, kolam, kubangan, dan saluran air.
Sementara itu, di Desa Hurun, sejumlah dusun pesisir juga masuk dalam lokus malaria karena berada di sekitar tambak, laguna, rawa, kubangan, dan genangan air payau yang menjadi habitat Anopheles. Wilayah-wilayah tersebut terus menjadi sasaran surveilans, pemeriksaan aktif, penyemprotan, serta pemantauan rutin oleh petugas Puskesmas Hanura.
Nazlina menegaskan, pemetaan hingga tingkat dusun menjadi dasar seluruh program pengendalian malaria. Penanganan tidak dilakukan secara menyeluruh di tingkat desa, melainkan difokuskan pada dusun-dusun pesisir yang memiliki risiko penularan paling tinggi.
“Kami tidak menyasar satu desa secara keseluruhan. Penanganan difokuskan pada dusun-dusun yang memang berada di sekitar pesisir dan dekat tempat perindukan nyamuk,” ujarnya.
Selain memetakan wilayah penularan, Puskesmas Hanura juga mengidentifikasi sejumlah titik utama perkembangbiakan nyamuk malaria. Salah satunya berada di kawasan tambak terlantar di Desa Hanura yang selama ini menjadi habitat Anopheles.
Data Puskesmas Hanura menunjukkan sebagian besar lokasi perindukan berada di tambak yang tidak lagi produktif, laguna, rawa, kubangan bekas tambak, saluran air, hingga kolam yang tidak terawat.
Menurut Nazlina, karakteristik lingkungan tersebut menjadi faktor utama yang membedakan wilayah pesisir dengan desa-desa di kawasan perbukitan sehingga penyebaran malaria lebih terkonsentrasi di sepanjang garis pantai.
“Karena tempat perindukannya memang banyak sekali di daerah pesisir. Itulah sebabnya penyebaran malaria terkonsentrasi di dusun-dusun dekat pantai, bukan di seluruh desa,” tegasnya.
(Tribunlampung.co.id/ Oky Indrajaya)