BMKG Prediksi El Nino Berlansung hingga 12 Bulan, Simak Wilayah Terdampak dan Antisipasinya
Evan Saputra July 01, 2026 03:29 PM

BANGKAPOS.COM - BMKG memperkirakan fenomena El Nino 2026 akan berlangsung selama kurang lebih 9 hingga 12 bulan ke depan di tanah air.

Huna mengantisipasi lonjakan kasus ISPA akibat polusi udara dan penurunan kualitas air bersih, pemerintah daerah diimbau segera mengambil langkah mitigasi mulai dari penyesuaian pola tanam hingga optimalisasi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

BMKG memprediksi fenomena El Nino 2026 berpotensi menyebabkan penurunan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia.

Baca juga: Update Harga BBM Hari Ini 1 Juli 2026, Tiga Jenis BBM Ini Turun

Daerah yang berada di selatan garis khatulistiwa diperkirakan akan mengalami dampak paling signifikan, terutama selama puncak musim kemarau pada Juli hingga Oktober 2026.

BMKG mengimbau pemerintah daerah dan berbagai sektor untuk meningkatkan kesiapsiagaan sejak dini guna mengantisipasi risiko kekeringan, gangguan produksi pangan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga penurunan kualitas udara. 

Berikut wilayah yang diperkirakan terdampak El Nino 2026 beserta potensi dampaknya.

Wilayah yang Berpotensi Terdampak El Nino 2026

Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, beberapa wilayah diperkirakan mengalami penurunan curah hujan di bawah kondisi normal selama periode Juli hingga Oktober 2026.

Wilayah tersebut meliputi:

Jawa, yang diperkirakan menjadi salah satu wilayah dengan penurunan curah hujan paling signifikan selama puncak musim kemarau.

Bali, yang berpotensi mengalami kondisi lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologis.

Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT), yang sejak awal memang memiliki musim kemarau lebih panjang sehingga berisiko mengalami kekeringan.

Sebagian wilayah Sumatra bagian selatan, yang diprediksi mengalami curah hujan di bawah normal.

Kalimantan bagian selatan, terutama wilayah yang rawan kekeringan dan kebakaran hutan maupun lahan.

Sulawesi, yang diperkirakan mengalami penurunan curah hujan pada puncak musim kemarau.

Sebagian wilayah Papua bagian selatan, yang juga diprakirakan mengalami kondisi lebih kering dibandingkan biasanya.

BMKG memperkirakan curah hujan di wilayah-wilayah tersebut akan berada di bawah rata-rata klimatologis.

Kondisi ini dipengaruhi oleh menguatnya fenomena El Nino yang berpeluang mencapai kategori kuat hingga 98 persen.

Mengapa Wilayah Tersebut Lebih Berisiko?

Menurut BMKG, wilayah di selatan garis khatulistiwa lebih berisiko terdampak karena El Nino bertepatan dengan musim kemarau yang memang terjadi setiap tahun di Indonesia.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani menjelaskan, El Nino merupakan fenomena iklim global yang memengaruhi distribusi curah hujan di berbagai belahan dunia, sedangkan musim kemarau merupakan siklus tahunan.

"Yang perlu kita waspadai bukan lamanya El Nino, tetapi ketika fenomena ini bertepatan dengan musim kemarau. Pada periode itulah curah hujan menjadi lebih sedikit dibandingkan kondisi normal sehingga berbagai sektor perlu meningkatkan kesiapsiagaan," ujar Faisal.

BMKG memperkirakan El Nino berlangsung sekitar 9 hingga 12 bulan. 

Namun, kondisi tersebut tidak berarti Indonesia akan mengalami musim kemarau sepanjang periode tersebut. 

Dampak paling nyata diperkirakan terjadi ketika El Nino bertepatan dengan puncak musim kemarau.

Dampak yang Perlu Diwaspadai di Berbagai Sektor

El Nino yang menguat berpotensi memengaruhi berbagai sektor, mulai dari pertanian hingga kesehatan masyarakat.

1. Pertanian dan Ketahanan Pangan

Berkurangnya curah hujan dapat menyebabkan defisit air yang mengganggu pertumbuhan tanaman, menurunkan produktivitas pertanian, hingga meningkatkan risiko puso atau gagal panen akibat kekeringan. 

Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi pasokan pangan dan memberikan tekanan terhadap inflasi daerah.

2. Lingkungan dan Kualitas Udara

Kondisi lahan yang semakin kering meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. 

Selain itu, berkurangnya hujan dapat menyebabkan konsentrasi polutan di udara meningkat sehingga kualitas udara menurun.

3. Kesehatan Masyarakat

Meningkatnya polusi udara akibat debu maupun asap karhutla berpotensi memicu kenaikan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). 

Suhu udara yang lebih panas juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat paparan panas, seperti heatstroke.

4. Energi dan Pengelolaan Air

Volume air di bendungan dan waduk diperkirakan menurun selama musim kemarau. 

Kondisi ini dapat memengaruhi pasokan air untuk irigasi pertanian sekaligus berdampak pada produksi listrik dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

BMKG mengingatkan, Indonesia memiliki 699 Zona Musim (ZOM), sehingga setiap daerah memiliki karakteristik iklim yang berbeda. 

Oleh karena itu, langkah mitigasi perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah.

Pemerintah daerah diimbau memanfaatkan informasi prakiraan iklim dari BMKG dan terus berkoordinasi dengan Unit Pelaksana Teknis (UPT) BMKG setempat sebagai dasar penyusunan kebijakan.

Sejumlah langkah mitigasi yang direkomendasikan antara lain:

1. Meningkatkan kewaspadaan terhadap karhutla.

2. Menyesuaikan pola tanam dan pengelolaan irigasi.

3. Mengoptimalkan pengelolaan waduk dan sumber daya air.

4. Memperkuat cadangan air melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

5. Mengendalikan emisi di perkotaan.

6. Meningkatkan kesiapsiagaan sektor kesehatan terhadap potensi peningkatan kasus ISPA maupun penyakit akibat suhu panas.

BMKG akan terus memantau perkembangan El Nino dan menyampaikan informasi serta peringatan dini kepada pemerintah maupun masyarakat. 

Dengan kesiapsiagaan sejak dini dan koordinasi lintas sektor, dampak El Nino 2026 terhadap ketersediaan air, ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, dan stabilitas ekonomi diharapkan dapat diminimalkan. 

(Kompas/Bangkapos.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.