Contoh Modul Ajar Deep Learning Matematika Kelas 1 SD Kurikulum Merdeka Tahun Ajaran 2026/2027
SRIPOKU.COM - Mengajarkan matematika pada jenjang awal sekolah dasar, khususnya kelas 1 SD, memerlukan pendekatan yang sangat hati-hati.
Anak-anak yang berada pada fase transisi dari Taman Kanak-Kanak (TK) ke Sekolah Dasar (SD) ini masih berada pada tahap perkembangan kognitif operasional konkret.
Artinya, mereka belum bisa dipaksa untuk langsung memahami simbol-simbol angka abstrak seperti 5 + 3 = 8 tanpa adanya jembatan visual.
Baca juga: Contoh Modul Ajar Deep Learning IPAS Kelas 3 SD Kurikulum Merdeka Tahun Ajaran 2026/2027
Sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka di Tahun Ajaran 2026/2027, metode mengajar matematika diarahkan pada pendekatan Deep Learning (Pembelajaran Mendalam).
Melalui pendekatan ini, matematika tidak lagi diajarkan sebagai hafalan rumus yang kaku (surface learning), melainkan sebagai cara berpikir untuk memecahkan masalah sehari-hari secara mindful dan meaningful.
Salah satu materi esensial di kelas 1 SD Semester 1 adalah Konsep Penjumlahan di Bawah 10. Berikut kami sajikan Contoh Modul Ajar Matematika Kelas 1 SD Berorientasi Deep Learning yang dilengkapi dengan aktivitas konkret dan Lembar Kerja Siswa:
MODUL AJAR MATEMATIKA KELAS 1 SD (FASE A)
I. INFORMASI UMUM
- Nama Penyusun: [Nama Guru]
- Instansi: [Nama Sekolah]
- Tahun Pelajaran: 2026/2027
- Fase / Kelas: A / I (Satu)
- Mata Pelajaran: Matematika
- Bab 2: Cerita Penjumlahan (Bilangan sampai dengan 10)
- Alokasi Waktu: 2 x 35 Menit (1 Pertemuan)
- Profil Pelajar Pancasila: Mandiri (Menghitung objek sendiri), Gotong Royong (Bermain peran/kelompok), dan Bernalar Kritis.
- Sarana & Prasarana: Benda konkret (stik es krim warna-warni, kancing baju, atau tutup botol), kantong penjumlahan (dua kantong plastik transparan yang digabung), laptop, LCD Proyektor, dan Buku Siswa Matematika Kelas 1.
II. KOMPONEN INTI
A. Capaian Pembelajaran (CP)
Peserta didik menunjukkan pemahaman dan memiliki intuisi bilangan (number sense) pada bilangan cacah sampai dengan 20, termasuk melakukan operasi penjumlahan menggunakan benda-benda konkret.
B. Tujuan Pembelajaran (TP)
- TP 2.1: Peserta didik mampu memahami konsep penjumlahan sebagai proses "menggabungkan" atau "menjadi lebih banyak" melalui manipulasi benda konkret dengan benar.
- TP 2.2: Peserta didik mampu mengekspresikan cerita penjumlahan ke dalam simbol matematika (kalimat matematika) secara mandiri.
C. Pertanyaan Pemantik
- "Ibu Guru punya 3 permen di tangan kanan dan 2 permen di tangan kiri. Kalau Ibu masukkan semua permen ke dalam satu saku, permen Ibu bertambah banyak atau bertambah sedikit?"
- "Bagaimana cara kita tahu jumlah seluruh permen ini?"
D. Skenario Kegiatan Pembelajaran (Deep Learning)
1. Kegiatan Pendahuluan (15 Menit)
- Guru membuka pelajaran dengan salam ceria, memeriksa kehadiran, dan mengajak siswa melakukan ice breaking berhitung jari tangan.
- Apersepsi Kontekstual: Guru memanggil 2 anak maju ke depan kelas, lalu memanggil lagi 3 anak untuk ikut bergabung di depan.
- Guru memantik penalaran siswa: "Sekarang, teman yang ada di depan kelas menjadi semakin ramai atau semakin sepi? Mengapa mereka menjadi lebih banyak?"
2. Kegiatan Inti (45 Menit)
- Langkah 1: Mengalami dengan Benda Nyata (Concrete Experience)
- Guru membagi siswa ke dalam kelompok meja berisi 3–4 anak. Setiap kelompok dibekali 10 buah tutup botol plastik atau stik es krim.
- Guru membacakan sebuah cerita: "Ada 4 ekor burung hinggap di pohon (siswa diminta meletakkan 4 stik es krim di meja). Kemudian, datang lagi 2 ekor burung ikut hinggap (siswa meletakkan lagi 2 stik es krim)."
- Siswa diajak menggabungkan kedua kelompok stik tersebut ke tengah meja dan menghitung totalnya dari angka 1 secara bersama-sama.
Langkah 2: Menjembatani Gambar ke Simbol (Pictorial to Abstract)
- Guru mengenalkan "Kantong Penjumlahan" di papan tulis. Kantong A diisi 4 gambar burung, Kantong B diisi 2 gambar burung.
- Guru mendemonstrasikan bahwa tanda "+" (tambah) artinya digabung, dan tanda "=" (sama dengan) artinya hasil setelah dihitung semua. Guru menuliskan kalimat matematikanya: 4 + 2 = 6.
Langkah 3: Merefleksikan Makna (Deep Thinking)
- Guru memberikan tantangan kritis: "Kalau Ibu punya angka 5 + 0, apakah hasilnya akan menjadi lebih banyak dari 5? Mengapa?" Siswa mencoba mempraktikkannya dengan stik es krim untuk menemukan bahwa menambahkan dengan "kosong" tidak mengubah jumlah benda.
3. Kegiatan Penutup (10 Menit)
- Siswa bersama guru menyimpulkan bahwa penjumlahan adalah kegiatan menggabungkan dua kelompok benda agar jumlahnya menjadi lebih banyak.
- Guru memberikan apresiasi luar biasa kepada siswa yang berani mencoba menghitung secara mandiri.
- Kelas diakhiri dengan merapikan kembali stik es krim ke dalam kotak dan membaca doa penutup.
III. INSTRUMEN EVALUASI: LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD)
Draf LKPD matematika ramah anak di bawah ini dapat langsung disalin atau dicetak untuk menguji pemahaman mendalam siswa kelas 1:
LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD) MATEMATIKA
Nama Siswa : ............................................................
Kelas : I (Satu)
Materi : Cerita Penjumlahan Bilangan Sampai 10
Tugas 1: Hitung dan Tulis Kalimat Matematikanya!
Gunakan bantuan stik es krim di mejamu untuk menghitung jumlahnya!
- Ada 3 buah apel di dalam piring merah.
Ada 4 buah apel di dalam piring hijau.
Jika semua apel digabungkan, berapa jumlah seluruhnya?
( ... ) + ( ... ) = ( ... )
- Siti memiliki 5 pensil warna.
Dayu memberikan 2 pensil warna lagi kepada Siti.
Berapa banyak pensil warna Siti sekarang?
( ... ) + ( ... ) = ( ... )
Tugas 2: Tantangan Berpikir Kritis
Warnai gelembung jawaban yang menurutmu paling benar!
Pertanyaan:
Budi memiliki 4 kelereng. Kakak memberikan kotak kosong yang tidak ada isinya (0 kelereng) kepada Budi.
Apakah kelereng Budi sekarang menjadi bertambah banyak? Berapa jumlah kelereng Budi sekarang?
Pilihan Jawaban:
( O ) Ya, kelereng Budi bertambah banyak karena diberi kotak oleh Kakak.
( O ) Tidak, kelereng Budi tetap ada 4 karena kotak dari Kakak tidak ada isinya (4 + 0 = 4).
Kesimpulan
Modul Ajar Matematika Kelas 1 SD berbasis Deep Learning ini mengubur dalam-dalam metode hafalan mekanis yang sering membuat anak takut pada matematika (math anxiety).
Dengan mengalirkan pembelajaran dari tahap konkret (stik/tutup botol) menuju tahap piktorial (gambar) hingga akhirnya ke tahap abstrak (simbol angka), anak akan memahami logika di balik penjumlahan tersebut secara mendalam dan menyenangkan.***