TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Aliansi BEM se-Universitas Indonesia (UI) membawa "kado" berupa data kelam penegakan hukum di Indonesia tepat pada peringatan Hari Bhayangkara ke-80 di depan Mabes Polri, Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Dalam pernyataan sikap tertulisnya, mahasiswa menyoroti masifnya penangkapan terhadap massa aksi selama setahun terakhir.
Baca juga: Demo di Mabes Polri, BEM UI Desak Pencopotan Kapolri Jenderal Listyo Sigit
Mengutip data Amnesty International Indonesia, BEM UI membeberkan fakta ribuan warga sipil harus berurusan dengan aparat saat menyuarakan pendapat.
"Amnesty International Indonesia mencatat sedikitnya 4.194 massa aksi ditangkap selama periode 25 Agustus hingga 1 September 2025," ucap perwakilan Aliansi BEM se-UI.
Banyaknya jumlah penangkapan ini membuat mahasiswa mempertanyakan posisi rakyat di mata hukum dan kepolisian saat ini.
Mereka merasa penyampaian aspirasi di ruang publik justru direspons dengan tindakan represif.
"Sampai kapan mahasiswa, buruh, petani, jurnalis, paramedis, pelajar, dan masyarakat sipil harus diperlakukan seperti musuh negara hanya karena mereka turun ke jalan dan menyampaikan pendapat?" tegas mahasiswa.
Tak hanya soal penangkapan massa aksi, BEM UI juga melampirkan data kengerian dari KontraS terkait tindak kekerasan yang dilakukan oknum anggota Polri.
Berdasarkan catatan mereka, sepanjang Juli 2024 hingga Juni 2025, terdapat 602 peristiwa kekerasan yang dilakukan anggota kepolisian.
"Dari jumlah tersebut, terdapat 441 peristiwa penembakan, 38 peristiwa penyiksaan dengan 86 korban, 10 di antaranya meninggal dunia dan 76 luka ringan hingga berat," ungkap dokumen tersebut.
Baca juga: Detik-detik BEM UI Bawa Keranda ke Mabes Polri saat HUT Bhayangkara, Langsung Dihadang Polisi
Mahasiswa menilai, alih-alih menjadi pelindung, aparat justru lebih sering menggunakan kekuasaan untuk melakukan intimidasi di ruang sipil.
"Aparat yang lebih mudah menggunakan kekerasan daripada melindungi, dan lebih sibuk menjaga kepentingan institusi daripada memberikan keadilan bagi korban," ucap perwakilan mahasiswa.
Koordinator Bidang Sosial Politik BEM UI, Muhammad Hafidz Hernanda, menegaskan perayaan HUT Bhayangkara ke-80 bagi mereka bukanlah momen kegembiraan, melainkan pengingat akan kegagalan.
"HUT Bhayangkara merupakan ajang seremonial pengingat bahwa Reformasi Polri hingga saat ini sudah menjadi suatu kegagalan yang terus digaungkan," ujar Hafidz.