Energi Gratis dari Ribuan Kantong Plastik, Cara Desa Sidorekso Kudus Putus Pasokan BBM Operasional
raka f pujangga July 01, 2026 09:11 PM

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS – Di bawah atap genting yang hangus karena seringnya terpapar asap, seorang pria dengan topi terbalik tengah sibuk bergelut dengan mesin sederhana bernama pirolisis.

Mesin sederhana dengan selang dan pipa yang saling terhubung itu mampu mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak.

Dengan tangan kotor oleh residu, pria bernama Lukman Setyo Budi itu memutar katup demi katup mesin pirolisis.

Dia juga senantiasa melihat pengatur suhu yang terpasang di sebelah mulut tabung pirolisis.

Baca juga: Salah Paham soal Pembakaran Sampah, Dua Lansia Blora Duduk di Kursi Pesakitan

Dengan sangat sabar, dia menanti tetes demi tetes yang keluar dari ujung selang mesin pirolisis. 

Semakin lama, selang itu semakin cepat meneteskan cairan berwarna cokelat. 

Cairan ini merupakan bahan bakar minyak setara solar yang keluar dari proses mesin pirolisis yang mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak.

Di sebelah selang yang mengeluarkan cairan setara solar, juga terdapat selang yang juga meneteskan cairan.

Kali ini cairannya berwarna cokelat muda. 

Oleh Lukman, cairan ini disebut setara dengan bensin. Praktis, mesin pirolisis yang sehari-hari dihadapi Lukman mampu menyulap sampah plastik menjadi bahan bakar minyak.

Dalam sehari, Lukman biasa mengolah sampah plastik antara 35 kilogram sampai 50 kilogram.

Dari pengolahan sampah plastic tersebut mampu menghasilkan rata-rata dalam sehari sekitar 25 liter bahan bakar minyak.

“Kalau yang setara solar itu bisa menghasilkan sekitar 20 liter, sedangkan kalau bensin dalam sehari sekitar 5 liter,” kata Lukman saat ditemui di sebuah bengkel sederhana di Desa Sidorekso, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, Rabu (1/7/2026).

Lukman merupakan bagian dari pengelola sampah di Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) Semar Hijau di Desa Sidorekso.

TPS ini memiliki tugas untuk menyelesaikan masalah sampah di tingkat desa.

Di antara mereka yang bertugas, Lukman memiliki tugas spesifik yaitu menyulap sampah plastik menjadi bahan bakar. 

Tugas ini sudah digeluti Lukman sejak beberapa tahun lalu sampai saat ini.

Keberadaan pirolisis ini merupakan buah dari inovasi dari Kepala Desa Sidorekso Mochamad Arifin.

Pada 2022, dia mendatangkan pirolisis itu dari Banjarnegara dengan maksud menyelesaikan masalah sampah di Desa Sidorekso, utamanya sampah plastik yang susah diurai. 

Seiring berjalannya waktu, pirolisis memang berjalan. Dia menghasilkan bahan bakar minyak setara solar dan bensin. 

Tapi ternyata kecilnya kapasitas membuat masalah sampah di Sidorekso tak kunjung selesai.

Pada tahun 2024, akhirnya berdirilah TPS 3R Semar Hijau. Dengan mengerjakan empat orang yang dibayar melalui kas desa, TPS 3R rupanya mampu mengurai masalah sampah domestik di desa.

Oleh Arifin, warga yang berkenan sampahnya diolah di TPS 3R Semar Hijau, lebih dulu harus dipilah antara sampah organik dan anorganik sejak dari rumah.

“Kalau tidak dipilah, kami tidak mau menerima sampah itu,” kata Arifin.

Dengan tegas, Arifin pernah mengembalikan sampah di rumah warga yang tidak dipilah.

20260701_Petugas dari TPS 3R Semar Hijau mengolah sampah jadi BBM_2
OLAH SAMPAH PLASTIK - Petugas dari TPS 3R Semar Hijau tengah mengecek selang mesin pirolisi yang mengeluarkan bahan bakar dari hasil pengolahan sampah plastik di Desa Sidorekso, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, Rabu (1/7/2026).

Dengan begitu warga pun kian paham.

Urusan sampah haruslah tertib. Termasuk pemilahannya.

“Karena kalau masih tercampur antara organik dan anorganik, itu tidak bisa diolah. Yang ada malah menjadi sampah semua,” kata Arifin.

Seiring berjalannya waktu, kini TPS 3R telah menerima sampah dari sekitar 1.100 keluarga di Desa Sidorekso.

Dalam dua hari, sampah yang diterima bisa mencapai sekitar 900 kilogram terdiri atas 600 kilogram sampah organik dan 300 kilogram sampah anorganik.

Untuk sampah organik, pihaknya telah bekerja sama dengan Djarum Foundation untuk diambil dan diolah menjadi pupuk organik.

Sedangkan untuk sampah anorganik, utamanya sampah plastik, pihaknya kumpulkan untuk diolah menjadi bahan bakar minyak melalui mesin pirolisis.

Terbatasnya kapasitas pengolahan sampah plastik melalui pirolisis, kontan sampah plastik masih tersisa. 

Dalam hal ini oleh petugas di TPS 3R mengumpulkan dan menjualnya untuk kebutuhan operasional TPS 3R.

“Karena paling dalam sehari hanya mampu mengolah sampah plastik paling banyak 50 kilogram, jadi masih tersisa,” kata Arifin.

Bahan bakar minyak setara solar dan bensin dari hasil pengolahan sampah plastik dengan alat pirolisis di TPS 3R Semar Hijau dimanfaatkan untuk mesin pengolah sampah.

Baca juga: Bau Menyengat dan Sampah Berserakan di Jantung Kota Batang, Warga Bertanya: Mana Pengawasannya

Menurut Arifin, kebutuhan bahan bakar di TPS 3R tidak lagi harus membeli. 

Dari sampah plastik yang diolah sudah sangat mencukupi.

Kalaupun masih tersisa, kata dia, biasanya bahan bakar itu digunakan oleh petugas TPS 3R untuk keperluan kendaraan mereka. 

Dari sinilah kemandirian energi di Desa Sidorekso mulai terwujud.

“Dari pengolahan ini, sampah di desa sampai bisa kami atasi sendiri. Tidak perlu membuang ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Karena yang tersisa hanya residu. Itupun kami musnahkan sendiri,” kata Arifin. (Goz)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.