Viral Bersihkan Stadion di Piala Dunia, Kenapa Jepang Selalu Disiplin soal Sampah?
GH News July 01, 2026 10:09 PM
Jakarta -

Orang-orang Jepang yang hadir di stadion untuk menonton Piala Dunia kembali menjadi perhatian dunia. Bukan karena sorak-sorai mendukung Timnas Jepang, melainkan karena aksi bersih-bersih sampah di stadion usai pertandingan.

Mengutip ESPN, kebiasaan pendukung Jepang membersihkan stadion sudah terlihat sejak tim nasional mereka pertama kali tampil di Piala Dunia pada 1998 di Prancis. Pada Piala Dunia Qatar 2022, ketika media sosial semakin masif, aksi orang-orang Jepang membersihkan stadion viral.

Alih-alih merayakan euforia usai menang, pendukung Jepang langsung fokus membersihkan area stadion tempat mereka duduk. Hal ini tak hanya dilakukan oleh pendukung, melainkan juga dilakukan oleh pemain tim nasional Jepang, yang tak meninggalkan ruang ganti dengan sampah satu pun. Bahkan, baju atau rompi yang disediakan, dilipat dan ditata sedemikian rupa agar rapi.

Lantas, dari mana budaya disiplin Jepang yang terjaga meski di negara lain?

Alasan Orang-orang Jepang Sangat Disiplin Jaga Kebersihan

1. Budaya Bersih-bersih sejak Dini

Kedisiplinan orang-orang Jepang dibentuk sejak dini dan selama bersekolah. Setiap sekolah di Jepang dari tingkat dini, sekolah dasar, hingga menengah memiliki jadwal rutin bersih-bersih bersama.

Dari ruang kelas, koridor, hingga toilet, anak-anak sekolah di Jepang terbiasa membersihkannya. Anak-anak juga dibiasakan membersihkan sampahnya sendiri, sehingga tidak ada sampah tercecer.

Asisten direktur kantor Pemerintah Prefektur Hiroshima di Tokyo, Maiko Awane, mengatakan warga Jepang sendiri yang menjaga kebersihan agar tetap seperti itu. Kebiasaan itu sudah menjadi jadwal tetap sejak dini di lingkungan keluarga.

"Selama 12 tahun masa sekolah, dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, waktu bersih-bersih adalah bagian dari jadwal harian siswa," katanya, dikutip dari BBC.

"Dalam kehidupan rumah tangga kita pun, orang tua mengajarkan kita bahwa tidak menjaga kebersihan barang-barang dan ruang kita itu buruk," imbuhnya.

2. Kesadaran Lingkungan Masuk ke Kurikulum Sekolah

Tak hanya dimasukkan dalam jadwal rutin siswa, pendidikan di Jepang membentuk karakter anak-anak sekolah dengan pendekatan kesadaran sosial. Jika setiap lingkungan bersih dan setiap anak menjaganya, maka saat ada anak yang malas bersih-bersih, ia merasa kurang bangga.

Maka, kesadaran sosial dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah agar anak-anak bangga dengan lingkungan sekitar mereka.

"Kami orang Jepang sangat sensitif terhadap reputasi kami di mata orang lain," ujar Awane.

Sementara di tingkat pendidikan tinggi, seperti di Universitas Tokyo, terdapat kurikulum yang mencakup kegiatan pembersihan yang termasuk dalam kategori nonkognitif, yaitu keterampilan yang dianggap sama pentingnya dengan keterampilan akademis, demikian dilansir Indian Express.

3. Prinsip Orang Jepang di Tempat Lain

Dalam bahasa Jepang, terdapat "" yang berarti "Seekor burung tidak meninggalkan (jejak kotor) apa pun". Prinsip ini memiliki makna "Kembalikan seperti keadaan semula".

Dengan prinsip ini, orang Jepang akan selalu menjaga tempat yang mereka singgahi sesuai keadaan semula, termasuk di stadion. Mereka tidak akan meninggalkan kebiasaan yang sudah diajarkan sejak di sekolah.

"Membersihkan setelah pertandingan sepak bola adalah perpanjangan dari perilaku dasar yang diajarkan di sekolah, di mana anak-anak membersihkan ruang kelas dan lorong sekolah mereka," kata profesor sosiologi di Universitas Osaka, Scott North.

"Dengan pengingat terus-menerus sepanjang masa kanak-kanak, perilaku ini menjadi kebiasaan bagi sebagian besar orang-orang (Jepang)," imbuhnya.

Kebiasaan orang-orang Jepang ini pada akhirnya membentuk lingkungan negara yang bersih. Hampir di seluruh penjuru Jepang, tidak ditemukan sampah berserakan.

Menurut laporan BBC tahun 2019, uang kertas yang keluar dari ATM, bahkan tampak rapi dan bersih. Kemudian di banyak tempat, orang tidak menerima uang (yang bisa kotor) secara langsung dengan tangan untuk alasan kebersihan.

Sementara keberadaan tempat sampah diatur sangat terorganisir, mulai dari sampah yang mudah terbakar, sampah yang tidak mudah terbakar, hingga barang yang bisa didaur ulang. Orang-orang Jepang terbiasa memisahkan barang dan sampah sesuai jenisnya.

fahri zulfikar
Jurnalis detikcom. Bergabung dengan detikcom sejak 2019. Aktif meliput isu-isu pendidikan, riset & analisis, concern terhadap isu iklim dan lingkungan, serta menyukai dunia sepak bola. Kini jadi penulis buku.
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.