Beda Sakit Kepala Biasa dan Sakit Kepala karena Tumor Otak Menurut Dokter
Willem Jonata July 01, 2026 09:36 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sakit kepala sering kali dianggap sebagai keluhan medis biasa akibat kelelahan atau stres. 

Namun, harus waspada jika rasa nyeri tersebut terjadi terus-menerus dan intensitasnya justru semakin parah dari hari ke hari. 

Bisa jadi, itu adalah alarm awal dari penyakit mematikan seperti tumor otak.

Dokter spesialis bedah saraf di Columbia Asia Hospital Pulomas, Jakarta Timur, dr Dhira Atman, menjelaskan sakit kepala yang dipicu oleh tumor otak memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan migrain biasa atau sakit kepala tegang.

"Yang khas itu nyerinya akan semakin lama semakin berat, karena benjolan di dalam otak juga semakin membesar," kata dr Dhira di kawasan Pulomas, Jakarta Timur, Rabu (1/7/2026).

Baca juga: Sakit Kepala Hampir Saban Hari Lebih dari Sebulan Bisa Jadi Gejala Awal Tumor Otak

Menurut dr Dhira, pada kasus migrain, nyeri biasanya datang dan pergi (sesekali) serta bisa mereda. 

Sementara sakit kepala akibat ketegangan otot umumnya dipicu stres dan membaik setelah penderitanya beristirahat.

"Sebaliknya kalau sakit kepala akibat tumor otak dia berlangsung terus menerus," ujarnya.

"Logikanya, barangnya di dalam kepala makin lama makin besar, jadi tekanan terhadap otak juga semakin meningkat. Jadi nyerinya semakin berat dan tidak hilang-hilang, bisa bertambah," lanjut dr. Dhira.

Perubahan Kepribadian

Selain nyeri kepala yang menyiksa, gejala tumor otak ternyata sangat bergantung pada lokasi di mana benjolan tersebut tumbuh. 

Salah satu yang jarang disadari oleh keluarga pasien adalah terjadinya perubahan kepribadian secara drastis.

Jika tumor tersebut tumbuh dan menekan bagian depan otak atau lobus frontal, penderita akan mengalami gangguan fungsi intelektual. 

Imbasnya, pasien akan sulit berkonsentrasi, lambat berpikir, sering salah menghitung, hingga sifatnya berubah total.

"Jadi orang yang sebelumnya tenang bisa tiba-tiba emosional menjadi, mudah marah, atau sering mengajak bertengkar. Itu juga bisa menjadi salah satu gejala," ujar dr Dhira.

Bukan hanya itu, jika tumor menyerang bagian belakang otak yang mengontrol fungsi penglihatan, pasien bisa mengalami halusinasi visual atau penurunan kemampuan melihat. 

Dr Dhira memaparkan penderita bisa melihat bayangan hitam, sebagian gelap, ada bagian penglihatan yang hilang, gangguan mata, sulit diajak bicara juga bisa, tidak nyambung, ngelantur bahasanya.

Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk peka terhadap perubahan fisik dan psikis orang-orang terdekat demi mendeteksi penyakit ini sejak dini.

(Tribunnews.com/ M Alivio Mubarak Junior)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.