Perkebunan Rusak Ekses Banjir Akhir 2025 , Banyak Warga Langkahan Merantau Demi Bertahan Hidup
Eddy Fitriadi July 01, 2026 09:38 PM

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Jafaruddin I Aceh Utara

SERAMBINEWS.COM,LHOKSUKON – Rusaknya ribuan hektare kebun yang menjadi sumber mata pencaharian membuat banyak warga kecamatan Langkahan Kabupaten Aceh Utara kehilangan penghasilan.

Akibatnya, ratusan warga terpaksa merantau ke luar daerah hingga ke luar negeri demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

Keuchik Rumoh Rayeuk, Kecamatan Langkahan, Akhthailah, kepada Serambinews.com, mengatakan desa yang dipimpinnya tidak memiliki areal persawahan.

Selama ini mayoritas masyarakat menggantungkan hidup dari hasil perkebunan seperti pinang, kakao (cokelat), dan kelapa sawit, pisang dan jenis tanaman perkebunan lainnya.

Namun, banjir yang melanda kawasan tersebut pada akhir November tahun lalu menyebabkan tanaman perkebunan milik warga rusak parah. Banyak pohon mati karena terendam berhari-hari, tertimbun lumpur dan material banjir, bahkan hanyut terbawa arus.

"Sebagian masyarakat yang masih memiliki modal sudah mulai menanam kembali. Tetapi banyak petani yang tidak memiliki modal sehingga kebun mereka sampai sekarang masih dibiarkan kosong tanpa tanaman produktif," kata Akthailah.

Menurutnya, lambatnya pencairan bantuan dari pemerintah pusat semakin memperburuk kondisi masyarakat. Hingga memasuki bulan kedelapan pascabanjir, bantuan Jaminan Hidup (Jadup) maupun bantuan pemulihan ekonomi belum juga diterima warga.

Kondisi tersebut membuat banyak kepala keluarga dan pemuda memilih meninggalkan kampung halaman untuk mencari pekerjaan di daerah lain.

"Sudah hampir 200 warga yang merantau setelah Lebaran Idulfitri dan Iduladha. Mereka rata-rata bekerja sebagai buruh di Malaysia, Medan, dan Banda Aceh, serta daerah lainnya" ujarnya.

Ia mengatakan, sebelum banjir memang sudah ada warga yang merantau, namun jumlahnya tidak sebanyak sekarang.

"Dalam tiga bulan terakhir ini jumlah warga yang merantau meningkat tajam. Banyak pemuda maupun warga yang sudah berkeluarga memilih pergi mencari nafkah ke luar," katanya.

Akthailah menyebutkan, mereka terpaksa meninggalkan keluarga untuk sementara waktu agar tetap memiliki penghasilan guna memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk biaya pendidikan anak-anak.

"Tak ada cara lain. Kalau terus berharap bantuan pemerintah, sampai sekarang belum ada kejelasan. Jangankan bantuan bibit untuk menghidupkan kembali kebun, pembangunan hunian tetap saja sampai sekarang juga belum jelas," katanya.

Baca juga: Kapolres Aceh Utara Pimpin Upacara Hari Bhayangkara ke-80, Bacakan Pesan Presiden

Mukim Pinto Rimba, Hasan Ismail, membenarkan semakin banyak warga Kecamatan Langkahan yang memilih merantau sejak bencana banjir melanda wilayah tersebut.

Menurutnya, dari 23 gampong di Kecamatan Langkahan, hanya Gampong Seureukey dan Dusun Bola Mas di kawasan transmigrasi Gampong Langkahan yang tidak terdampak banjir. Selebihnya mengalami kerusakan cukup parah.

"Di gampong saya juga banyak pemuda yang merantau karena sudah tidak ada lagi harapan di kampung. Tiga bulan pertama pascabanjir masyarakat masih mendapat bantuan. Setelah itu bantuan sudah tidak ada lagi, sementara mata pencaharian mereka juga hilang," ujar Hasan Ismail.

Ia menilai jumlah warga yang merantau tahun ini jauh lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya akibat belum pulihnya kondisi ekonomi masyarakat.

Hasan juga mengungkapkan, banjir tidak hanya merusak sektor perkebunan, tetapi juga menghancurkan usaha peternakan warga.

"Ternak sekarang menjadi barang langka di Langkahan karena banyak yang mati saat banjir. Sampai sekarang masyarakat belum mampu memulai usaha peternakan lagi," katanya.

Sebelum bencana melanda, kata Hasan, masyarakat Langkahan dikenal sebagai daerah yang cukup makmur karena hampir setiap keluarga memiliki kebun produktif berisi pinang, kakao, kelapa sawit, pisang, hingga jeruk nipis.

Kini, sebagian besar tanaman tersebut telah musnah. Ada yang mati karena tertimbun lumpur dan material banjir, membusuk akibat terendam air dalam waktu lama, maupun hanyut diseret derasnya arus.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.