TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Lagu ciptaan Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau Om Zein mendapat cemoohan dari berbagai pihak.
Lagu berjudul Lalaki Langit, Lalanang Bejad ini dinilai telah merendahkan wanita.
Om Zein mengatakan, lagu sekaligus puisi berjudul “Lalaki Langit, Lalanang Bejat” itu bukan ditujukan menyudutkan perempuan, melainkan merupakan refleksi atas perjalanan hidupnya sendiri.
“Itu puisi dan lagu diciptakan tahun 2020, bercerita tentang diri saya sendiri,” kata Om Zein melalui pesan singkat kepada Kompas.com, Rabu (1/7/2026).
Ia menyampaikan, karya tersebut lahir dari perenungannya terhadap perilaku masa lalunya yang menurutnya penuh kenakalan.
“Berawal dari renungan atas perilaku saya sendiri yang menurut saya saat itu saya nakal. Saya bersyukur Tuhan menciptakan saya jadi lelaki. Mungkin jika saya diciptakan jadi perempuan terjadi apa yang saya pikirkan karena saya belum bisa jaga diri,” ujarnya.
Om Zein juga menyampaikan permohonan maaf apabila lirik lagu tersebut menimbulkan ketidaknyamanan di tengah masyarakat.
“Maaf jika ada pihak merasa tidak nyaman dengan lirik lagu itu. Namun tidak bermaksud menyinggung pihak tertentu. Itu murni cerita tentang diri saya sendiri,” katanya.
Begini liriknya :
Nuhun gusti
Terima kasih Tuhan
Tos nyiptaken kuring jadi lalaki
sudah menciptakan aku jadi laki-laki
Cacak mun jadi awewe
Andai saja jadi perempuan
Es-em-pe kelas tilu
sudah keguguran tujuh kali
Nuhun gusti
terima kasih Tuhan
Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
sudah mencipatakan aku jadi laki-laki
teu kudu meuli kurang
tidak usah membeli bra
nu busahna leuwih gede batan susu
yang buasanya lebih besar daripada payudara
nuhun gusti
terima kasih Tuhan
tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
sudah menciptakan aku jadi laki-laki
teu kudu ngaprak-ngaparak apotek
tidak usah keluyuran mencari apotek
alatan telat bulan
karena telah bulan
nuhun gusti
terima kasih Tuhan
tos nyiptakeun kurang jadi lalaki
sudah menciptakan aku jadi laki-laki
teu kudu ngalukis halis jeung bulu mata
tidak usah melukis alis dan bulu mata
sakalina ngiceup hese beunta
yang sekali berkedip susah melek.
Baca juga: Emosi Rossa Dengar Lagu Lalaki Lalanang Ciptaan Om Zein, Sindir Pedas Bupati Purwakarta: Pria Sakit
Kritik keras datang dari anggota DPR, Atalia Praratya.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, ia menyampaikan rasa kecewa terhadap isi lagu tersebut.
Jujur, saya tidak habis pikir.
Sepositif apa pun saya mencoba memaknai lagu ini,
saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan.
Dari begitu banyak pilihan kata dalam Bahasa Sunda yang indah...
Dari begitu banyak pesan yang bisa mengangkat nilai kehidupan...
Baca juga: Pengakuan Om Zein Bupati Purwakarta Soal Lagu Lalaki Lalanang, Hasil Renungan Diri Sendiri
Mengapa justru narasi seperti ini yang dipilih?
Sebodoh apa pun saya memahami Budaya Sunda, saya tahu bahwa Budaya Sunda dibangun di atas nilai silih asih, silih asah, silih asuh, silih wawangi..
Dan saya percaya, Budaya Sunda tidak pernah mengajarkan kita untuk menertawakan beban biologis seorang perempuan.
Hari ini kita mati-matian melawan budaya patriarki yang merendahkan perempuan.
Namun mengapa justru narasi yang sangat patriarkal lahir dari karya seorang kepala daerah?..
Bagaimana menurut kalian?
Atalia Praratya,
Saya perempuan" tulis bu Cinta di Instagram.
Budayawan Sunda, Budi Setiawan, S.Li., M.Sn. atau yang akrab disapa Budi Dalton mengatakan lagu tersebut dapat dibaca sebagai sebuah teks budaya yang berada di antara ekspresi seni, humor satiris, maskulinitas, dan kontroversi gender.
“Lagu ini viral karena sejumlah liriknya dianggap menyinggung pengalaman biologis perempuan, seperti kehamilan, keguguran, menstruasi, dan atribut tubuh/perempuan. Media menyebut lagu ini dipersoalkan karena dinilai memuat stereotip terhadap perempuan, sementara Om Zein menyampaikan bahwa lagu tersebut dimaksudkan sebagai cerita tentang dirinya sendiri dan bukan untuk menyinggung pihak tertentu,” kata Budi Dalton
Baca juga: Polemik Lagu Lalaki Lalanang Ciptaan Om Zein, Pengamat : Secara Moral Kurang Pantas
Menurut Budi Dalton, pola tersebut membangun sebuah ironi. Rasa syukur yang seharusnya bersifat sakral justru bergeser menjadi pembenaran atas identitas laki-laki yang dibayangkan terbebas dari beban biologis maupun sosial yang dialami perempuan.
“Di titik inilah lagu menjadi problematis. Bukan karena laki-laki tidak boleh bersyukur, tetapi karena rasa syukur itu dibangun melalui pembandingan yang merendahkan pengalaman pihak lain,” katanya.
Budi Dalton menilai, dari sisi persona lirik, tokoh “aku” digambarkan sebagai laki-laki yang sadar dirinya “bejad”, tetapi tetap merasa diuntungkan karena terlahir sebagai laki-laki.
Ia juga menyoroti judul lagu yang menurutnya mengandung kontradiksi.
“‘Lalaki langit’ memberi kesan tinggi, agung, atau maskulin secara heroik, sedangkan ‘lalanang bejat’ mengarah pada pengakuan tentang sisi rusak, nakal, atau cacat moral laki-laki. Jadi, lagu ini bisa dibaca sebagai satire terhadap laki-laki, laki-laki merasa luhur tetapi perilakunya justru bejad,” ujarnya.
Baca juga: Polemik Lagu Lalaki Lalanang Bejad Ciptaan Om Zein Bupati Purwakarta, Dinilai Rendahkan Wanita
Pengamat Kebijakan Publik dari STAI Dr. KH. EZ Muttaqien Purwakarta, Srie Muldrianto, menilai polemik tersebut perlu dilihat dari dua perspektif, yakni sebagai langkah politik dan sebagai sikap seorang kepala daerah.
Menurut Srie, sebagai seorang politisi, Binzein bisa saja memanfaatkan karya seni untuk membangun citra dan meningkatkan popularitas di tengah masyarakat.
"Politisi itu biasanya menjual dirinya. Mungkin tujuannya untuk meningkatkan citra. Komunikasi yang digunakan melalui pendekatan seni, bukan argumentasi. Memang seni lebih mudah diterima masyarakat karena sifatnya menghibur," ujar Srie kepada Tribunjabar.id, Rabu (1/7/2026).
Namun, ia menilai persoalan utama bukan terletak pada penggunaan media seni, melainkan pada isi karya yang dipublikasikan.
"Yang menjadi masalah adalah isi dari karya seni itu. Menurut saya, tidak layak dipublikasikan. Kalau itu memang pengalaman pribadinya, secara moral juga kurang pantas disampaikan oleh seorang bupati yang seharusnya menjadi teladan bagi masyarakat, termasuk anak-anak," katanya.
Shela Amelia, yang juga pernah menjabat Ketua Aliansi BEM Purwakarta periode 2024-2025, menilai sejumlah lirik dalam lagu tersebut mengandung narasi yang merendahkan perempuan dan berpotensi melanggengkan budaya kekerasan berbasis gender.
Menurut Shela, lirik lagu yang diawali dengan kalimat "nuhun gusti tos nyiptakeun kuring jadi lalaki" kemudian diikuti penggambaran bahwa menjadi perempuan adalah sebuah "celaka" karena harus memakai bra, mengalami menstruasi, hingga berdandan, menunjukkan cara pandang yang keliru terhadap perempuan.
Baca juga: Terjemahan Lagu Lalaki Langit Lalanang Bejad Karya Bupati Purwakarta, Diprotes Keras Atalia Praratya
"Narasi itu seolah menggambarkan bahwa kodrat perempuan merupakan beban dan sesuatu yang menyulitkan. Padahal menstruasi, payudara, organ reproduksi, dan seluruh kondisi biologis perempuan adalah kodrat yang melekat sejak lahir sebagai anugerah dari Tuhan, bukan sesuatu yang layak dijadikan bahan candaan atau dianggap sebagai kemalangan," ujar Shela kepada Tribunjabar.id, Rabu (1/7/2026).
Shela menilai penggambaran tersebut justru memperkuat budaya yang membuat perempuan merasa malu terhadap tubuhnya sendiri. Akibatnya, perempuan ditempatkan pada posisi yang lebih rendah dan tubuhnya semakin mudah dijadikan objek.
"Perempuan adalah manusia yang lahir dengan banyak anugerah. Perempuan melahirkan kehidupan dan peradaban. Mereka tidak pantas dilecehkan ataupun dijadikan objek yang direndahkan," katanya.
https://whatsapp.com/channel/0029VaGzALAEAKWCW0r6wK2t