KH Imam Jazuli Mendadak Ungkap Peran Muhaimin Iskandar Jaga Masa Depan Organisasi Jelang Muktamar NU
Dyan Rekohadi July 01, 2026 10:32 PM

 

SURYA.CO.ID, SURABAYA – Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, KH Imam Jazuli, secara mengejutkan mengingatkan Ketua Umum DPP PKB sekaligus Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, terkait besarnya tanggung jawab historis untuk mengawal masa depan Nahdlatul Ulama.

Pernyataan menohok itu disampaikan secara terbuka guna menyikapi dinamika internal yang kian memanas menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU).

Langkah strategis itu diharapkan mampu menghentikan segala bentuk disorientasi kekuasaan di dalam tubuh organisasi ulama terbesar di Indonesia itu.

Baca juga: PBNU Survei Lima Daerah Calon Tuan Rumah Muktamar NU ke-35

 

Tanggung Jawab Cicit Pendiri NU

"Sebagai cicit salah satu muassis Nahdlatul Ulama, Gus Muhaimin memiliki tanggung jawab biologis sekaligus ideologis untuk menjaga arah dan masa depan NU," ujarnya melalui keterangan yang diterima Surya.co.id, Rabu (1/7/2026).

"Karena itu, setiap langkah dan pandangan beliau selalu menjadi perhatian nahdliyin dan tidak bisa dilepaskan dari dinamika yang terjadi di tubuh NU," ujar KH Imam Jazuli.

"Bahwa hiruk-pikuk, gonjang-ganjing, dan disorientasi di lingkungan organisasi ulama ini harus dihentikan," katanya.

"NU memiliki tugas sangat besar dalam bidang sosial, pendidikan, keagamaan, kesehatan, dan ekonomi yang menyentuh langsung kebutuhan jamaah. Jangan sampai energi organisasi habis untuk persoalan perebutan pengaruh dan kekuasaan internal," lanjutnya.

Baca juga: Usulan Sakral di Muktamar NU 2026 : Pelantikan Wajib Pakai Tongkat dan Tasbih

 

Harmonisasi Hubungan NU dan PKB


KH Imam Jazuli telah bertemu dengan Ketua Umum DPP PKB sekaligus Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar di Cirebon, (28/6/2026) malam.

Pertemuan itu membahas berbagai dinamika yang berkembang di tubuh NU menjelang Muktamar ke-35.

"NU dan PKB lahir dari rahim perjuangan yang sama. Karena itu, hubungan keduanya harus ditata kembali secara dinamis, harmonis, dan sinergis. Yang diperlukan bukan saling menguasai atau mengkooptasi, melainkan saling menguatkan sesuai peran dan fungsi masing-masing,” katanya.

"Semangat itu tidak hanya berupa gagasan, namun juga diwujudkan secara konkret dan bertahap melalui berbagai kebijakan, regulasi, program pemberdayaan, dan penguatan aspirasi nahdliyin melalui jalur politik kebangsaan,” ujarnya.

“Yang terpenting adalah bagaimana seluruh energi yang dimiliki NU dan PKB diarahkan untuk kemaslahatan umat, memperkuat pendidikan, ekonomi, dakwah, dan kesejahteraan nahdliyin. Di situlah esensi perjuangan yang harus terus dijaga bersama,” tegas Kiai Imjaz.

Baca juga: Menjelang Muktamar, Ini Kriteria Ideal Pimpinan Tertinggi PBNU Menurut KH Afifuddin

 

Pujian Balik dari Gus Muhaimin


Di sisi lain, Gus Muhaimin Iskandar mengapresiasi KH Imam Jazuli sebagai sosok kiai transformatif yang mampu memadukan khazanah keilmuan Islam dengan tantangan zaman.

“Konsep transformasi pendidikan pesantren yang dikembangkan Kiai Imam Jazuli merupakan contoh nyata bagaimana pesantren mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan jati diri dan tradisi keislaman yang kuat, dan ini harus jadi percontohan untuk pengembangan pendidikan di PBNU.” ujar Cak Imin.

Gus Muhaimin juga menilai sosok kiai itu memiliki gagasan yang konsisten.

"Ketika banyak lembaga pendidikan masih berfokus pada pola-pola konvensional, beliau sudah memikirkan, merancang dan menggerakkan transformasi pendidikan di pesantren yang mampu menyiapkan generasi masa depan,” lanjutnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.