Kerap Dikira dari Hasil Jualan, Pedagang Cilok yang Viral di TikTok Ungkap Asal Usul Rumah Mewahnya
Rr Dewi Kartika H July 02, 2026 12:10 AM

TRIBUNJAKARTA.COM -  Video seorang pedagang cilok yang tinggal di sebuah rumah mewah viral di media sosial, TikTok. 

Banyak warganet mengira rumah mewah tersebut merupakan hasil jerih payah sang pedagang berjualan cilok. 

Pedagang cilok dalam video itu adalah Danil (23). 

Cerita Danil

Kepada Kompas.com, ia menjelaskan bahwa video tersebut direkam di sekitar SPBU Tlogosari, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, bukan di kawasan Tlogosari, Kota Semarang, Jawa Tengah. 

Di balik viralnya video itu, tersimpan kisah perjuangan seorang kepala keluarga muda yang rela mengesampingkan rasa gengsi demi mencari nafkah yang halal untuk istri dan anaknya. 

Danil mengaku sempat diliputi keraguan ketika pertama kali memutuskan berjualan cilok. 

Ia khawatir dengan pandangan orang lain terhadap pekerjaannya. 

Namun, keraguan itu langsung sirna pada hari pertama berjualan ketika dagangannya habis terjual. 

"Saat pertama kali berjualan rasa ragu itu ada. Tapi rasa ragu tersebut langsung dipatahkan waktu pertama kali saya berjualan, karena dagangan saya langsung laris," ujar Danil saat diwawancarai, Rabu (1/7/2026).

Pengalaman itu menjadi titik balik yang mengubah cara pandangnya. 

Baginya, tidak ada pekerjaan yang perlu dipermalukan selama dilakukan dengan jujur. 

Berjualan cilok, kata Danil, bukan sekadar mencari penghasilan, melainkan simbol perjuangan yang mengajarkannya tentang kerja keras, rasa syukur, dan tanggung jawab sebagai kepala keluarga. 

"Arti berjualan cilok bagi saya dan keluarga selama ini adalah rasa syukur dan kemerdekaan. Jadi cilok itu harga diri, kerja keras, dan bukti kalau rezeki itu luas asal kita tidak gengsi dan tidak malas," katanya.

Rumah Mewah Bukan Hasil Jualan

Ramainya video tersebut juga memunculkan anggapan bahwa rumah megah yang terlihat di dalam video merupakan hasil usahanya berjualan cilok. 

Danil meluruskan anggapan itu. 

Ia menjelaskan bahwa rumah tersebut dibangun oleh mertuanya. 

Saat ini, ia tinggal bersama istri dan anak mereka di rumah tersebut. 

"Alhamdulillah untuk rumah yang sekarang memang dibangun oleh mertua saya. Saya tinggal di rumah tersebut bertiga dengan anak dan istri," tuturnya. 

Meski tinggal di rumah yang nyaman, Danil menegaskan hal itu tidak mengubah prinsip hidupnya. 

Ia tetap memilih mencari nafkah sendiri daripada bergantung kepada orang lain. 

Menurut Danil, tantangan terbesar saat merintis usaha bukan berasal dari orang lain, melainkan dari dirinya sendiri. 

"Tantangan terberat saya saat merintis usaha cilok dari awal ada di pikiran sendiri. Yang pertama rasa gengsi, yang kedua cuaca dan sepi pembeli," katanya. 

Ia mengingat masa ketika merasa minder melihat teman-teman seusianya bekerja di kantor atau memiliki pekerjaan yang dianggap lebih bergengsi. 

"Saya dulu juga gengsi. Lihat teman-teman rumahnya bagus, saya masih jualan cilok. Malu sama tetangga, malu sama orang," ujarnya. 

Seiring waktu, cara pandangnya berubah. Ia mulai menyadari bahwa yang lebih memalukan bukanlah berjualan makanan di pinggir jalan, melainkan tidak mampu bertanggung jawab terhadap keluarga. 

"Lama-lama saya mikir, lebih malu mana? Malu jualan halal, atau malu minta-minta, malu enggak bisa nafkahin keluarga?" katanya. 

Sejak saat itu, Danil memilih berhenti memikirkan penilaian orang lain dan fokus memenuhi kebutuhan keluarganya. 

Pria berusia 23 tahun itu mengaku memiliki satu prinsip hidup yang selalu ia pegang. 

"Hidupmu 100 persen tanggung jawabmu. Jangan berharap apa pun kepada siapa pun. Mau orang tua ada, mertua ada, alhamdulillah. Tapi kita harus bisa berdiri di atas kaki sendiri," ucapnya. 

Prinsip tersebut terus ia pegang saat menghadapi berbagai tantangan sebagai pedagang kaki lima. 

Ia harus berjualan dalam kondisi panas, hujan, hingga ketika pembeli sedang sepi. 

"Saya jualan cilok dari nol. Hujan, panas, sepi, saya jalanin sendiri. Karena kalau saya nunggu dikasih, sampai kapan pun saya enggak akan maju," katanya. 

Menurut Danil, masyarakat masih sering menilai seseorang dari status pekerjaannya, bukan dari kejujuran dalam mencari nafkah. 

Karena itu, ia ingin menyampaikan bahwa tidak ada pekerjaan yang hina selama dilakukan secara halal. 

"Kerja itu enggak ada yang hina. Yang hina itu malas. Yang hina itu nunggu dikasih tapi enggak mau usaha. Selagi halal, kerjain. Mau jadi tukang cilok, tukang sampah, kuli, ojol, apa saja. Gengsi itu enggak ngisi perut," kata dia.

Momen Paling Berkesan

Di tengah kesibukannya berjualan, Danil mengaku memiliki satu momen yang paling membekas dalam hidupnya. 

Bukan saat videonya viral atau ketika dagangannya laris, melainkan ketika pulang berjualan dan melihat anaknya yang masih berusia satu tahun tertawa saat melihat gerobak cilok miliknya. 

"Dia ketawa lihat gerobak ayahnya. Alhamdulillah, dari cilok ini dia bisa makan dan sehat. Itu gaji paling besar buat saya," tuturnya. 

Bagi Danil, kebahagiaan bukan lagi soal harta, popularitas, atau memiliki usaha besar. 

Kebahagiaan justru datang ketika ia mampu menjalankan tanggung jawab sebagai suami dan ayah. 

"Pelajaran paling besar dalam hidup saya, syukur sama proses, bukan cuma hasil. Dulu saya mikir bahagia itu kalau sudah viral, sudah punya ruko, sudah kaya. Ternyata enggak," katanya.

Kini, ia merasa bahagia setiap kali bisa berkeliling menjajakan cilok dengan motornya dan pulang membawa rezeki untuk keluarga. 

"Bahagia itu pas saya bisa keliling naik motor bawa cilok sendiri. Pas kehujanan pakai jas hujan tapi tetap ketawa. Saya baru sadar, Tuhan enggak ngasih saya jalan pintas. Tuhan ngasih saya jalan yang bikin saya kuat," kata dia. 

Di akhir perbincangan, Danil berharap kisahnya dapat menjadi penyemangat bagi anak-anak muda yang masih ragu memulai usaha dari bawah. 

"Jangan malu mulai dari nol. Jangan iri sama orang. Jalanin aja hidupmu. Seratus persen tanggung jawabmu," pungkasnya.

Sumber: Kompas.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.