Gempa Venezuela: Waktu Kritis Terlewati, Ribuan Belum Ditemukan
Tribunnews July 02, 2026 01:38 AM

Puluhan ribu orang masih hilang dua hari setelah berlalunya 72 jam kritis untuk bertahan hidup, demikian jelas Komite Penyelamatan Internasional (IRC) dalam sebuah pernyataan. Setelah periode tersebut, peluang bertahan hidup menurun drastis. "Skala respons tidak sebanding dengan skala kebutuhan kemanusiaan,” sebut lembaga bantuan kemanusiaan tersebut.

Di pelabuhan utama di kota pesisir La Guaira, Venezuela, beberapa ruangan difungsikan sebagai kamar mayat. Andrea Montilla duduk di kursi plastik menunggu anggota keluarga yang berada di dalam untuk mengidentifikasi jenazah sepupunya dan neneknya. Sepupunya yang berusia 14 tahun ditemukan di antara puing-puing sebuah gedung apartemen tadi malam, kata Montilla."Ini sangat menyakitkan, penantian sangat lama,” katanya, sambil menambahkan bahwa ibu dari sepupunya tersebut masih hilang.

Darvin Silva (37) menceritakan bagaimana ia berjuang keras untuk menemukan ibunya yang tewas setelah tertimpa tiang-tiang bangunan yang runtuh. "Saya harus berusaha untuk mengeluarkan ibu saya dari sana dengan tangan kosong, dengan palu, dengan kapak... Anda tidak bisa membayangkannya,” jelasnya.

Banyak tim penyelamat yang baru tiba di lokasi gempa setelah waktu kritis 72 jam berlalu. "Situasinya cukup kritis,” kata Lia Poggio, kepala misi Organisasi Migrasi Internasional (IOM) di Venezuela. Saat tim penyelamat internasional dari AS, Meksiko, dan puluhan negara lain bergegas dengan anjing terlatih dan alat berat untuk menggali para korban yang masih hidup, warga Venezuela mulai menguburkan jenazah yang berhasil mereka temukan.

Banyak warga Venezuela yang menyerukan kemarahan mereka akan lambatnya respons pemerintah terhadap bencana gempa bumi di negara yang sudah berjuang melawan krisis ekonomi selama puluhan tahun itu. Krisis tersebut juga turut melemahkan infrastruktur dan layanan kesehatan.

"Mereka membagikan bantuan di sini, tetapi terkadang orang-orang hampir saling membunuh demi mendapat makanan... Rasanya seperti sedang beradu,” kata Daniela Armas (18), seorang pedagang di La Guaira, setelah menunggu untuk mendapatkan makanan di tempat penampungan darurat.

Jumlah korban dan kerusakan meningkat

Jumlah korban terus meningkat setelah dua gempa berkekuatan 7,2 adan 7,5 magnitudo yang terjadi hanya dalam selang waktu 39 detik melanda Venezuela 24 Juni 2026 lalu. Sejauh ini 1.943 jenazah telah dievakuasi sedang 10.500 lainnya orang dilaporkan terluka, menurut laporan Jorge Rodriquez, ketua parlemen Venezuela.

Lebih dari 6.400 orang berhasil diselamatkan dalam keadaan hidup oleh tim pencarian, "Jumlah ini sebenarnya mendekati angka 20.000, jika turut memperhitungkan mereka yang berhasil keluar dari reruntuhan bangunan baik dengan kekuatan sendiri maupun dengan bantuan teman atau keluarga,” jelas Rodriquez. 16.000 orang diperkirakan telah kehilangan tempat tinggal mereka.

Selain itu, menurut perkiraan NASA, dua gempa bumi tersebut telah merusak sekitar 59.000 bangunan. Kerusakan yang meluas ini dideteksi dari luar angkasa.

Tidak seluruh bangunan didatangi tim penyelamat preofesional. Kerabat dan tetangga bekerja sama membersihkan puing-puing demi mengevakuasi korban yang selamat atau jenazah yang terkubur dalam puing.

"Tidak diragukan bahwa jumlah korban jiwa sebenarnya lebih tinggi dari jumlah yang dilaporkan. Kami tengah mengupayakan evakuasi, kami memperkirakan dan sepakat dengan pihak berwenang setempat untuk menyediakan 10.000 kantong jenazah,” jelas Gianluca Rampolla, koordinator PBB, Senin(29.6) di Caracas.

Peringatan PBB akan ancaman kelaparan dan penyakit

Badan-badan PBB memperingatkan bahwa para korban yang selamat akan menghadapi kelaparan dan penyakit pasca gempa bumi.

Sejauh ini Program Pangan Dunia (WFP) telah mendistribusikan pasokan pangan untuk satu bulan, termasuk sereal, kacang-kacangan kering, lentil, dan minyak sayur, kepada 1.200 orang di La Guaira serta telah mendirikan pusat-pusat penyaluran makanan sementara.

WFP berusaha menggalang dana sebesar $50 juta (sekitar Rp896 miliar) untuk memberikan bantuan darurat kepada sekitar 500.000 orang selama tiga bulan ke depan.

Sebelumnya pada hari Selasa(30/6), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) turut memperingatkan bahwa sistem kesehatan Venezuela sedang tertekan, dengan setidaknya tiga pusat kesehatan mengalami kerusakan parah dan enam lainnya rusak atau hanya berfungsi sebagian.

Ribuan orang yang mengungsi akibat gempa tersebut juga berisiko terkena penyakit seperti demam kuning dan demam berdarah, terutama mengingat cakupan vaksinasi yang rendah, kata juru bicara WHO Christian Lindmeier.

Secercah harapan

Enam hari setelah gempa, seorang anak laki-laki berusia tiga tahun berhasil diselamatkan dalam keadaan hidup oleh tim penyelamat Yordania. Anak laki-laki tersebut telah mendapakan pertolongan pertama dan kini dirawat di rumah sakit, berdasarkan infomasi Badan Perlidungan Sipil Yordania pada Selasa (30/6).

Selain itu, tim penyelamat dari El-Salvador berhasil menyelamatkan seorang pria berusia 44 tahun dari bawah reruntuhan pusat perbelanjaan di kota pesisir Maiquetia Senin (29/6) malam hari.

Operasi bantuan digencarkan militer AS

Selain itu, 800 personel militer lainnya telah bersiaga di pangkalan-pangkalan di pusat-pusat Karibia yakni Puerto Rico dan Curaçao. Angkatan Bersenjata AS telah turut serta dalam operasi pencarian dan penyelamatan, membantu mengoperasikan kembali bandara, serta memobilisasi transportasi udara dan laut untuk bantuan kemanusiaan.

Donovan menolak berspekulasi mengenai lamanya misi tersebut. Namun, tidak ada rencana untuk penugasan jangka panjang pasukan yang dikirim. "Tidak ada pembicaraan tentang tetap tinggal,” katanya. "Kami akan pulang begitu tugas kami selesai.”

Misi ini menandai perubahan besar dalam hubungan Venezuela-AS. Baru pada tanggal 3 Januari 2026 lalu, militer AS melakukan operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan membawanya ke New York, mengadilinya atas tuduhan perdagangan narkoba.

Editor: Ayu Purwaningsih

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.