Grid.ID - Piala Dunia 2026 kembali mengingatkan bahwa sepak bola selalu menjadi sorotan dunia, bukan hanya dari sisi olahraga, tetapi juga isu politik. FIFA selama ini berupaya menjaga turnamen tetap netral dari kepentingan politik.
Namun, federasi sepak bola dunia tersebut juga tidak lepas dari kritik, termasuk terkait berbagai isu diskriminasi yang mencuat selama penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat.
Jika saat ini politik dan sepak bola masih menjadi perdebatan, sejarah mencatat bahwa hubungan keduanya pernah berlangsung jauh lebih terang-terangan. Salah satu contohnya terjadi pada era diktator Italia, Benito Mussolini, yang menjadikan Piala Dunia 1934 sebagai sarana memperkuat propaganda rezim fasis.
Mussolini Melihat Sepak Bola sebagai Alat Indoktrinasi
Mengutip Rolling Stone, Benito Mussolini meyakini bahwa kekuasaan yang bertahan lama membutuhkan proses indoktrinasi, terutama kepada generasi muda. Baginya, sepak bola merupakan media yang sangat efektif untuk menanamkan ideologi sekaligus memperkuat citra pemerintahannya.
Saat Piala Dunia perdana digelar di Uruguay pada 1930, Mussolini sebenarnya ingin Italia menjadi tuan rumah. Namun, hak penyelenggaraan diberikan kepada Uruguay yang saat itu berstatus juara sepak bola Olimpiade 1924.
Keputusan tersebut membuat Mussolini kecewa. Italia bahkan memilih tidak mengirim tim nasionalnya ke Uruguay. Sebagai gantinya, pemerintah Italia mengirim sejumlah pencari bakat untuk mencari pemain berdarah Italia yang lahir di Amerika Selatan atau dikenal dengan sebutan oriundi.
Langkah tersebut menjadi bagian dari persiapan besar menghadapi Piala Dunia 1934, ketika Italia kembali mengajukan diri sebagai tuan rumah dan akhirnya berhasil memperoleh hak penyelenggaraan.
Merekrut Oriundi demi Memperkuat Tim Nasional Italia
Setelah resmi menjadi tuan rumah, Mussolini menargetkan Italia wajib menjadi juara dunia. Untuk mencapai ambisi tersebut, ia meminta Federasi Sepak Bola Italia memperkuat skuad dengan pemain-pemain keturunan Italia yang berkarier di Amerika Selatan.
Pada 1933, Italia menyeleksi sejumlah pemain kelahiran Argentina dan Uruguay, termasuk Luis Monti, Alejandro Scopelli, serta Enrique Guaita. Selain itu, ada pula pemain kelahiran Brasil, Anfilogino Guarisi Marques atau yang lebih dikenal sebagai Filo.
Mussolini juga memberikan tekanan langsung kepada Presiden Federasi Sepak Bola Italia, Giorgio Vaccaro.
"Tanggung jawabmu, Vaccaro, adalah gelar juara dunia. Aku tidak tahu bagaimana kau akan melakukannya, tetapi kemenangan adalah perintah, bukan permintaan," ujar Mussolini saat itu dikutip Grid.ID dari Rolling Stone.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan Italia di Piala Dunia bukan sekadar target olahraga, melainkan bagian dari kepentingan politik negara.
Piala Dunia 1934 Dipenuhi Nuansa Propaganda Fasis
Selama penyelenggaraan Piala Dunia 1934, rezim Mussolini menjalankan kampanye propaganda secara masif. Atmosfer pertandingan tidak hanya dipenuhi dukungan kepada tim nasional Italia, tetapi juga simbol-simbol dan slogan yang mengagungkan pemerintahan fasis.
Banyak penonton lebih sering meneriakkan "Italia, Duce!" dibanding memberikan dukungan kepada para pemain. Mussolini bahkan meminta agar salam fasis dilakukan di lapangan sebelum pertandingan dimulai, termasuk oleh para wasit. Turnamen tersebut kemudian memunculkan berbagai kontroversi. Salah satu yang paling dikenal terjadi pada laga perempat final saat Italia menghadapi Spanyol. Wasit asal Swiss, Rene Mercet, membatalkan dua gol Spanyol karena dianggap offside, sementara gol Italia yang dicetak Giuseppe Meazza tetap disahkan.
Keputusan itu memicu dugaan adanya tekanan politik terhadap perangkat pertandingan, meskipun tuduhan tersebut hingga kini masih menjadi bagian dari perdebatan sejarah.
Italia Akhirnya Menjadi Juara Dunia Pertama Kalinya
Perjalanan Italia menuju final berlangsung mulus hingga akhirnya berhadapan dengan Cekoslowakia pada partai puncak. Dalam pertandingan tersebut, Giuseppe Meazza dan rekan-rekannya sukses meraih kemenangan dengan skor 2-1.
Hasil itu memastikan Italia meraih gelar juara Piala Dunia untuk pertama kalinya. Di balik keberhasilan tersebut, kemenangan Italia juga dipandang sebagai pencapaian politik bagi Mussolini yang berhasil memanfaatkan turnamen sepak bola terbesar di dunia sebagai sarana memperkuat citra dan propaganda rezim fasisnya.
Hingga kini meski Piala Dunia 2026 masih berjalan, Piala Dunia 1934 masih dikenang sebagai salah satu edisi paling kontroversial dalam sejarah sepak bola karena kuatnya campur tangan politik dalam penyelenggaraan dan jalannya kompetisi.