Laut Dunia Catat Juni Terpanas Sepanjang Sejarah, El Nino Ancam Cuaca Ekstrem Global
Ayu Miftakhul Husna July 02, 2026 06:38 AM

 

TRIBUNNEWS.COM - Lautan dunia mencatat bulan Juni terpanas sepanjang sejarah pada 2026.

Hal ini memicu kekhawatiran baru bahwa cuaca ekstrem akan semakin sering terjadi dalam beberapa bulan mendatang.

Fenomena ini diperkirakan dipicu oleh kombinasi pemanasan global akibat aktivitas manusia dan kemunculan El Nino, yang berpotensi memperkuat kenaikan suhu laut maupun atmosfer.

France 24 melaporkan, suhu permukaan laut rata-rata global mencapai 20,98 derajat Celsius pada Juni 2026, melampaui rekor yang sebelumnya tercatat pada 2023 dan 2024 berdasarkan data Copernicus Marine Service Uni Eropa.

Rekor tersebut menjadi bagian dari tren pemanasan laut yang terus berlangsung sepanjang tahun ini.

Selama enam bulan pertama 2026, suhu rata-rata permukaan laut mencapai 20,04 derajat Celsius, hanya sedikit lebih rendah dibandingkan rekor pada periode yang sama tahun 2024.

Para ilmuwan menjelaskan lautan berperan sebagai pengatur utama iklim Bumi karena menyerap sekitar 90 persen panas berlebih yang dihasilkan emisi gas rumah kaca.

Namun, ketika suhu laut terus meningkat, lautan justru melepaskan lebih banyak panas dan uap air ke atmosfer sehingga meningkatkan risiko hujan ekstrem, badai, gelombang panas, dan cuaca yang semakin sulit diprediksi.

RFI melaporkan Direktur Copernicus Climate Change Service, Carlo Buontempo, menilai kondisi saat ini dapat menjadi awal fase baru yang belum pernah dialami sebelumnya.

"Kondisi saat ini dapat mengindikasikan awal dari fase baru, yang sekali lagi mengarah ke wilayah yang belum dipetakan," kata Buontempo.

Ia menambahkan bahwa dengan suhu laut yang sudah berada pada level sangat tinggi dan El Nino yang mulai berkembang, dunia berpotensi kembali mencetak rekor suhu dalam beberapa bulan mendatang.

El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis yang memengaruhi pola angin, curah hujan, dan cuaca di berbagai belahan dunia.

Baca juga: Apa Beda El Nino dan Musim Kemarau? Ini Penjelasan BMKG

Dampaknya dapat meningkatkan risiko banjir di Peru, kekeringan di sejumlah wilayah Afrika, hingga kebakaran hutan di Australia.

Kepala Oseanografi Copernicus Marine Service, Simon Van Gennip, memperkirakan 2026 berpotensi menjadi salah satu tahun terpanas yang pernah tercatat.

Ia menegaskan kondisi tersebut dipengaruhi oleh kombinasi El Nino dan pemanasan global akibat emisi gas rumah kaca yang terus meningkat.

Laporan ini memperkuat peringatan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menyebut lautan dunia tengah menghadapi krisis yang semakin dalam akibat kenaikan suhu dan permukaan air laut.

Selain memicu cuaca ekstrem, laut yang semakin hangat juga mempercepat kenaikan permukaan laut karena air mengembang saat suhunya meningkat.

Gelombang panas laut yang berkepanjangan juga mengancam ekosistem, termasuk menyebabkan pemutihan terumbu karang dan meningkatnya kematian satwa laut.

Baca juga: PMI Gandeng Masjid dan Gereja Salurkan Air Bersih Terdampak El Nino

Menurut Copernicus Marine Service, sekitar 82 persen wilayah lautan dunia mengalami gelombang panas laut selama paruh pertama 2026, menjadikannya cakupan terbesar kedua setelah 2024.

Secara regional, Laut Mediterania mencatat suhu Juni tertinggi sepanjang sejarah sebesar 24,3 derajat Celsius, sementara Pasifik tropis mencapai 27,26 derajat Celsius, menyamai rekor yang pernah terjadi pada 2016.

Para ilmuwan menilai rekor suhu laut ini bukan sekadar catatan iklim, melainkan peringatan bahwa risiko bencana hidrometeorologi akan semakin besar apabila pemanasan global terus berlangsung bersamaan dengan penguatan fenomena El Nino.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.