Ekspor Sumbar 2026 Melesat 16,10 Persen, Industri Pengolahan Jadi Penopang Utama
Rahmadi July 02, 2026 10:27 AM

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) membawa kabar gembira mengenai performa perdagangan internasional bumi Minangkabau sepanjang lima bulan pertama tahun 2026.

Aktivitas perdagangan luar negeri ini mencatatkan pertumbuhan yang sangat impresif, baik dari sisi ekspor maupun impor yang melonjak tajam dibanding periode yang sama tahun lalu.

Dalam pemaparannya, Nurul Hasanudin mengungkapkan bahwa total nilai ekspor kumulatif Sumatera Barat periode Januari hingga Mei 2026 berhasil menyentuh angka yang sangat fantastis.

"Nilai ekspor Sumatera Barat secara kumulatif dari Januari sampai Mei 2026 berhasil mencapai angka 1.181,63 juta Dolar AS," ujar Nurul Hasanudin.

Baca juga: Cuaca 7 Kota Sumbar Hari Ini: Warga Padang hingga Bukittinggi Siaga Payung, Mayoritas Hujan

Angka pencapaian tersebut menunjukkan pertumbuhan positif yang sangat signifikan bagi perekonomian Sumbar.

Jika dibandingkan dengan periode Januari-Mei 2025 yang mencatatkan nilai sebesar 1.017,81 juta Dolar AS, maka performa ekspor Sumbar kali ini melonjak atau tumbuh sebesar 16,10 persen.

Nurul Hasanudin merinci, bahwa motor penggerak utama di balik moncernya nilai ekspor ini didominasi oleh sektor industri pengolahan.

Sektor ini tercatat mengalami kenaikan ekspor yang masif sebesar 165,75 juta Dolar AS atau melesat naik 17,02 persen dari tahun sebelumnya.

Selain industri pengolahan, lonjakan persentase tertinggi justru datang dari sektor pertambangan dan lainnya yang meroket tajam hingga mencapai angka pertumbuhan luar biasa, yakni sebesar 1.035,81 persen.

Sementara itu, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan terpantau mengalami sedikit koreksi atau penurunan tipis sekitar 8,47 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu.

Jika membedah komoditas unggulan Sumatera Barat di pasar internasional, produk golongan lemak dan minyak hewan atau nabati (HS 15) masih kokoh bertengger sebagai primadona utama.

Peran komoditas ini tidak main-main karena menguasai pangsa ekspor (share) sebesar 83,75 persen dari total ekspor Januari-Mei 2026.

Secara kumulatif, nilai ekspor lemak dan minyak nabati ini naik dari 826,60 juta Dolar AS pada tahun lalu menjadi 989,60 juta Dolar AS pada tahun ini.

Kenaikan nilai ini juga diikuti oleh pertumbuhan volume ekspor sebesar 18,56 persen, dari 787,00 ribu ton menjadi 933,06 ribu ton.

Komoditas unggulan kedua yang menjadi andalan Sumbar adalah karet dan barang dari karet (HS 40) dengan share sebesar 3,70 persen.

Baca juga: Polresta Bukittinggi Gagalkan Pengiriman 41 Paket Ganja ke Jawa Barat

Nilai ekspor komoditas karet ini mengalami tren positif naik 5,31 persen menjadi 43,69 juta Dolar AS, dengan kenaikan volume sebesar 7,91 persen.

Tak kalah menarik, berbagai produk kimia (HS 38) yang memiliki pangsa ekspor sebesar 3,63 persen juga ikut unjuk gigi dengan mencatatkan pertumbuhan nilai yang sangat signifikan, yakni melonjak sebesar 28,88 persen menjadi 42,91 juta Dolar AS.

Nurul Hasanudin membeberkan bahwa India saat ini resmi menjadi negara tujuan utama ekspor terbesar bagi Provinsi Sumatera Barat dengan pangsa pasar mencapai 22,96 persen.

Total nilai ekspor yang berhasil dibukukan ke India mencapai 271,30 juta Dolar AS, di mana mayoritas utamanya adalah komoditas lemak & minyak hewan/nabati senilai 248,36 juta Dolar AS.

Mengekor di posisi kedua, negara Pakistan menjadi tujuan utama berikutnya dengan share sebesar 16,55 persen dan nilai perdagangan mencapai 195,53 juta Dolar AS. Selanjutnya, di posisi ketiga ada negara Myanmar dengan kontribusi share 11,08 persen atau senilai 130,97 juta Dolar AS.

Di sisi lain, potret berbeda namun tak kalah mengejutkan terlihat dari kinerja impor kumulatif Sumatera Barat. BPS mencatat total nilai impor Sumbar sepanjang Januari hingga Mei 2026 mengalami lonjakan yang sangat ekstrem, yakni naik drastis sebesar 182,18 persen.

Baca juga: Berawal dari Paket Mencurigakan di Kantor Ekspedisi, Polresta Bukittinggi Sita 41 Paket Ganja

Nilai impor kumulatif Sumbar meroket dari yang sebelumnya hanya sebesar 170,38 juta Dolar AS pada periode Januari-Mei 2025, melesat tinggi menjadi 480,78 juta Dolar AS pada tahun 2026 ini.

"Andil utama peningkatan nilai impor ini disumbang oleh kebutuhan bahan baku atau penolong yang naik hingga 173,36 persen," jelas Kepala BPS Sumbar tersebut.

Jika dilihat berdasarkan golongan penggunaan barang, impor bahan baku/penolong memang mendominasi dengan nilai mencapai 463,35 juta Dolar AS.

Sementara untuk impor barang modal tercatat sebesar 1,36 juta Dolar AS dan barang konsumsi sebesar 0,14 juta Dolar AS.

Terkait negara asal impor, Singapura memegang peran sebagai pemasok utama ke Sumatera Barat dengan pangsa pasar raksasa sebesar 60,98 persen atau senilai 293,18 juta Dolar AS, yang didominasi oleh komoditas bahan bakar mineral (HS 27).

Posisi kedua ditempati oleh tetangga serumpun, Malaysia, dengan share impor sebesar 23,32 persen atau senilai 112,12 juta Dolar AS.

Sementara di tempat ketiga diisi oleh Argentina dengan kontribusi sebesar 5,19 persen atau senilai 24,96 juta Dolar AS yang utamanya memasok ampas atau sisa industri makanan. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.