TRIBUNJAMBI.COM, MUARASABAK – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) PetroChina International Jabung Ltd, terus berkomitmen menghadirkan solusi lingkungan yang berdampak ekonomi bagi masyarakat. Salah satu langkah nyata yang dilakukan adalah melalui inisiasi program budidaya maggot yang berkelanjutan.
Pengolahan sampah organik berbasis budidaya maggot yang dikembangkan melalui Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) atau Corporate Social Responsibility (CSR) SKK Migas PetroChina International Jabung Ltd ini telah mulai dikembangkan sejak November tahun lalu.
Kehadiran program ini menjadi jawaban atas tantangan pengelolaan sampah organik dengan mengedepankan pendekatan berbasis pemberdayaan masyarakat sekitar.
Melalui inovasi ini, solusi pengelolaan limbah yang terintegrasi dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di kawasan Taman Ekologi Gerbang Lestari yang sebelumnya hanya berpotensi menjadi limbah domestik, kini berhasil diselamatkan.
Sampah-sampah tersebut dipilah dan dialihkan dari tempat pembuangan akhir untuk dimanfaatkan kembali sebagai pakan utama maggot (Black Soldier Fly).
Melalui rumah budidaya maggot bantuan dari CSR SKK Migas–PetroChina, limbah organik dari dapur SPPG yang sebelumnya berpotensi menjadi sampah kini diolah menjadi pakan maggot bernilai ekonomi. Sistem ini menciptakan pola ekonomi sirkular, di mana sampah organik dimanfaatkan kembali menjadi produk yang berguna bagi masyarakat.
Ketua Kelompok Tani Suka Maju, Parli, mengatakan integrasi pengolahan sampah organik dengan budidaya maggot memberikan manfaat besar, baik dari sisi lingkungan maupun ekonomi.
"Sampah organik dari dapur SPPG yang sebelumnya dibuang kini bisa dimanfaatkan sebagai pakan maggot. Ini sangat membantu mengurangi limbah sekaligus menghasilkan nilai ekonomi baru," ujar Parli.
Baca juga: Cara Daftar Sertifikasi Profesi Gratis untuk Alumni Maganghub 2026 di Kemenaker
Baca juga: SMP Negeri 23 Kota Jambi Masih Buka Pendaftaran, 128 Kuota Belum Terpenuhi
Saat ini, rumah budidaya maggot menerima pasokan limbah organik dari dapur SPPG yang berjarak sekitar 200 meter dari lokasi budidaya. Volume sampah yang diolah mencapai 100 hingga 200 kilogram per hari, tergantung jumlah dan jenis menu makanan yang diproduksi saat itu.
Menurut Parli, integrasi ini tidak hanya mengurangi volume sampah organik secara signifikan, tetapi juga mendukung ketersediaan pakan alternatif untuk ternak dan ikan melalui hasil budidaya maggot.
Selain maggot sebagai pakan protein tinggi, hasil sampingan budidaya berupa kasgot juga dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang bermanfaat untuk meningkatkan kesuburan tanah.
Konsep ini menjadikan rumah budidaya maggot sebagai pusat pengolahan sampah organik terpadu yang mampu memberikan manfaat ganda: menjaga lingkungan tetap bersih sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Program PPM SKK Migas PetroChina Jabung Ltd ini membuktikan bahwa sinergi antara industri hulu migas dan masyarakat mampu melahirkan solusi lingkungan yang adaptif.
Ke depannya, program budidaya maggot berbasis masyarakat ini diharapkan dapat terus berkembang, memperluas jangkauan volume sampah yang dikelola, sekaligus menjadi motor penggerak ekonomi baru yang mandiri bagi warga sekitar.
SKK Migas PetroChina International Jabung Ltd melalui program ini terus mendorong penguatan sistem pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat, termasuk integrasi dengan SPPG dan lainnya agar tercipta ekosistem yang berkelanjutan, produktif, dan bernilai ekonomi. (adv)
Simak informasi lainnya di media sosial Facebook, Instagram, Thread dan X Tribun Jambi
Baca juga: Pertamina Patra Niaga Lakukan Penyesuaian Harga BBM Non Subsidi Per 1 Juli 2026 Pukul 00.00 WIB
Baca juga: Cara Daftar Sertifikasi Profesi Gratis untuk Alumni Maganghub 2026 di Kemenaker