Bastian Schweinsteiger mendukung Jurgen Klopp untuk mengambil alih tim nasional Jerman, dengan keyakinan bahwa mantan pelatih Liverpool tersebut mampu mengembalikan rasa optimisme yang hilang dari struktur Federasi Sepak Bola Jerman (DFB). Setelah kekalahan memalukan di Piala Dunia 2026 dari Paraguay, tekanan terhadap pelatih kepala saat ini, Julian Nagelsmann, mencapai puncaknya.
Schweinsteiger mengharapkan penunjukan Klopp
Setelah kekalahan mengejutkan Jerman di babak 32 besar, juara dunia Schweinsteiger menyampaikan keyakinannya bahwa perubahan kepemimpinan sudah di depan mata. Berbicara sebagai analis untuk ARD, mantan gelandang legendaris tersebut menyatakan bahwa jalur sudah terbuka bagi Klopp untuk akhirnya memimpin tim nasional. “Saya percaya hal itu akan terjadi,” ujar Schweinsteiger ketika ditanya mengenai kemungkinan Klopp menggantikan Nagelsmann. “Tentu saja, belum ada yang pasti. Tapi saya memiliki firasat bahwa hal itu akan berjalan ke arah tersebut.”
Mantan bintang Bayern München itu menyoroti otoritas unik yang akan dibawa Klopp ke federasi yang saat ini sedang goyah. “Jika Jurgen Klopp menjadi pelatih nasional, ia akan membawa kekuatan besar bersamanya,” tambah Schweinsteiger. “DFB saat ini berada dalam kondisi darurat, dan saya merasa hal itu akan segera terwujud.”
Seruan untuk perubahan datang setelah titik terendah dalam sejarah DFB-Elf, yang mengalami kegagalan besar dan tersingkir lebih awal dari Piala Dunia 2026. Meski datang dengan ekspektasi tinggi, Jerman harus menerima kenyataan pahit setelah gagal mengalahkan Paraguay—tim yang berada 31 peringkat di bawah mereka—dan akhirnya kalah dalam adu penalti (4-3) untuk pertama kalinya dalam sejarah partisipasi mereka di Piala Dunia.
Akhir dari era Nagelsmann?
Walaupun Nagelsmann masih memiliki kontrak hingga 2028, masa depannya kini menjadi sorotan tajam dari pimpinan DFB. Schweinsteiger berpendapat bahwa meskipun Klopp belum tentu menjadi pilihan langsung, DFB harus mempertimbangkan perubahan pelatih untuk membangun kembali semangat tim menjelang Euro 2028.
“Setelah kekalahan seperti itu, sudah sewajarnya jika pembicaraan mengenai pelatih muncul,” ujar Schweinsteiger. “Saya percaya bahwa Jurgen Klopp adalah pelatih hebat dan mampu menciptakan optimisme baru. Saya pikir hal itu akan sangat penting menjelang Kejuaraan Eropa mendatang.”
Pimpinan DFB, termasuk presiden Bernd Neuendorf, wakil presiden Hans-Joachim Watzke, dan direktur olahraga Rudi Völler, diperkirakan akan bertemu dalam beberapa hari ke depan untuk melakukan evaluasi menyeluruh atas kegagalan tersebut. Bagi banyak pihak, hasil melawan Paraguay menjadi titik akhir dari siklus panjang di mana Jerman gagal memenuhi standar historis mereka di panggung dunia selama lebih dari satu dekade. Dengan tekanan yang meningkat untuk melakukan pergantian pelatih, Klopp muncul sebagai kandidat utama. Menurut laporan, mantan pelatih Liverpool itu menganggap melatih di Piala Dunia sebagai salah satu ambisi terakhirnya dalam dunia sepak bola, dengan target khusus pada turnamen 2030. Namun, peluang tampil di Euro 2028 yang akan digelar di Inggris dan Irlandia juga bisa menjadi daya tarik besar bagi sosok yang menghabiskan hampir satu dekade di tanah Inggris tersebut.
Jerman menghadapi krisis identitas
Selain masalah taktik di lapangan, Schweinsteiger memberikan kritik tajam terhadap “DNA” sepak bola Jerman, dengan menyebut bahwa negara tersebut telah kehilangan karakter tangguh yang dulu membuat mereka disegani di seluruh dunia. “Mantan rekan-rekan saya mengatakan bahwa kami telah kehilangan DNA kami,” ujarnya. “Kami melakukan kesalahan bertahun-tahun lalu dengan hanya mencari solusi sepak bola. Kami telah mengabaikan kekuatan dan nilai-nilai yang dulu membuat kami dihormati di luar negeri.”
Ia melanjutkan dengan menyoroti bahwa skuad saat ini kekurangan kekuatan fisik untuk bersaing dengan negara-negara yang sedang berkembang. “Sekarang kami tidak lagi memiliki solusi sepak bola dalam pertandingan—dan dalam hal ketangguhan serta intensitas, kami tidak bisa bersaing. Meksiko, misalnya, memiliki hal itu lebih banyak daripada kami. Kami telah membuat kesalahan besar di masa lalu dan kini tersingkir lebih awal di tiga Piala Dunia berturut-turut; itu bukan lagi kebetulan.”
Klopp tetap tenang di tengah spekulasi
Meski desakan publik agar ia mengambil alih semakin kuat, Klopp tetap berhati-hati dalam komentarnya saat bekerja sebagai analis selama turnamen. Pria berusia 59 tahun itu, yang baru-baru ini menjabat sebagai kepala sepak bola global di Red Bull, belum menutup pintu sepenuhnya, namun berhati-hati agar tidak melemahkan posisi pelatih saat ini. “Saya belum memikirkannya,” ujar Klopp baru-baru ini ketika ditanya mengenai hubungannya dengan tim nasional. “Saya mengerti bahwa ketika posisi pelatih nasional dibicarakan, nama saya akan disebut. Namun saat ini bukan waktu yang tepat untuk membahasnya. Tidak ada yang perlu dikatakan untuk saat ini.”