TRIBUNNEWS.COM - Jerman membawa penyelidikan ledakan pipa gas Nord Stream ke babak baru.
Jaksa federal Jerman mendakwa seorang warga negara Ukraina yang diduga berperan dalam aksi sabotase terhadap infrastruktur energi tersebut.
Dakwaan ini menjadi perkembangan hukum paling signifikan sejak ledakan yang merusak pipa Nord Stream 1 dan Nord Stream 2 di Laut Baltik pada September 2022, beberapa bulan setelah Rusia menginvasi Ukraina.
Jaksa Jerman mengidentifikasi terdakwa sebagai Serhii K, pria berusia 50 tahun yang sebelumnya ditangkap di Italia pada Agustus 2025 sebelum diekstradisi ke Jerman pada November tahun yang sama.
Menurut dokumen pengadilan, Serhii K didakwa atas dugaan menyerang infrastruktur energi sipil, menyebabkan ledakan menggunakan bahan peledak, serta merusak fasilitas penting.
Penyelidik meyakini Serhii K memimpin tim yang menggunakan kapal layar Andromeda untuk memasang bahan peledak di jalur pipa bawah laut dekat Pulau Bornholm, Denmark.
Jaksa menilai perannya lebih sebagai koordinator operasi di atas kapal, bukan penyelam maupun perakit bom.
Baca juga: Update Kasus Ledakan Pipa Gas Nord Stream 2022, Italia Ekstradisi Seorang Warga Ukraina ke Jerman
Saat ditangkap, Serhii K juga diduga menggunakan identitas palsu untuk menyewa kapal yang berangkat dari Rostock, Jerman, menuju lokasi peledakan.
Media Jerman ARD melaporkan penyidik menemukan jejak bahan peledak militer di kapal tersebut dan telah mengidentifikasi sedikitnya tujuh orang yang diduga terlibat dalam operasi sabotase.
Serhii K membantah seluruh tuduhan yang dialamatkan kepadanya.
Melalui tim kuasa hukumnya, ia mengklaim berada di Ukraina saat ledakan terjadi karena bertugas sebagai anggota angkatan bersenjata Ukraina.
Pihak pembela juga berargumen bahwa status militernya dapat memberikan perlindungan hukum berdasarkan prinsip "kekebalan fungsional" dalam hukum internasional.
Sementara itu, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy mengatakan masih terlalu dini untuk memberikan komentar karena pemerintahnya belum menerima rincian resmi mengenai dakwaan tersebut.
Pemerintah Ukraina juga kembali menegaskan tidak mengetahui maupun terlibat dalam rencana sabotase terhadap pipa Nord Stream.
Ledakan Nord Stream pada September 2022 menghentikan aliran gas Rusia ke Eropa melalui salah satu jalur energi terpenting di kawasan tersebut dan memperburuk krisis energi yang dipicu perang Rusia-Ukraina.
Baca juga: Sabotase Pipa Gas Nord Stream oleh AS Bikin Ekonomi Jerman Hancur, VW Akan Tutup Pabrik
Hingga kini belum ada kesimpulan resmi mengenai dalang utama di balik sabotase tersebut.
Dakwaan terhadap Serhii K diperkirakan akan menjadi perhatian internasional karena muncul di tengah masih berlangsungnya perang Rusia-Ukraina dan berpotensi memengaruhi hubungan diplomatik antara Jerman, Ukraina, dan negara-negara Barat yang selama ini mendukung Kyiv.
Persidangan di Jerman diharapkan dapat mengungkap lebih jauh pihak-pihak yang berada di balik salah satu aksi sabotase infrastruktur energi terbesar di Eropa dalam beberapa dekade terakhir.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)