BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan saat nama Dina Mariska (23) dipanggil menuju podium wisuda di Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung, Kamis (2/7/2026).
Di antara 156 wisudawan yang resmi dikukuhkan, sosok Dina mencuri perhatian.
Duduk di atas kursi roda yang didorong sang ayah, perempuan asal Toboali itu perlahan menuju panggung pemindahan toga.
Raut haru tak bisa disembunyikan dari wajah kedua orang tuanya. Begitu pula Dina.
Hari itu bukan sekadar seremoni kelulusan. Hari itu adalah puncak dari perjalanan panjang yang penuh air mata, luka, dan perjuangan yang nyaris tak terlihat orang.
Dina, mahasiswa Program Studi Ilmu Komputer, resmi lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,63. Sebuah capaian yang terasa jauh lebih besar jika melihat perjuangan di baliknya.
Dina merupakan penyandang disabilitas daksa, kondisi yang membuatnya tidak dapat berjalan normal dan harus menggunakan kursi roda untuk mobilitas sehari-hari.
Saat ditemui Bangkapos.com, Kamis (2/7/2026) usai prosesi wisuda, Dina mengaku sangat terharu akhirnya bisa sampai pada titik ini.
Terlebih, momen wisudanya turut disaksikan langsung oleh kedua orang tua yang selama ini menjadi sumber kekuatan terbesar dalam hidupnya.
"Senang sekali, terharu. Apalagi hari ini ada ayah dan ibu yang menemani," ucap Dina dengan mata berkaca-kaca.
Perjalanan Dina menuju gelar sarjana tidaklah mudah.
Saat pertama kali menjadi mahasiswa baru pada 2021, ia dihadapkan pada tantangan besar. Ruang kelasnya berada di lantai empat gedung kampus.
Bagi mahasiswa lain, naik ke lantai empat mungkin hanya perkara beberapa menit berjalan kaki. Namun bagi Dina, itu berarti perjuangan fisik yang luar biasa.
Ia harus merangkak.
Dengan mengandalkan kekuatan tangan dan lutut, Dina naik perlahan menuju ruang kelas. Tak jarang ia juga harus dibantu teman-temannya.
Di masa-masa awal kuliah, lututnya bahkan sempat terluka.
Penyebabnya sederhana namun menyakitkan, terlalu sering bergeser dan merangkak menggunakan dengkul untuk mencapai kelas.
"Awal-awal kuliah berat sekali. Kaki saya sampai sempat luka karena terlalu sering ngesot naik ke kelas," kenangnya.
Namun rasa sakit itu tidak membuatnya menyerah.
Sebaliknya, setiap rasa lelah justru menjadi pengingat tentang alasan mengapa ia harus terus bertahan.
Bagi Dina, ada dua sosok yang selalu membuatnya kembali kuat: ayah dan ibunya.
Doa, dukungan, serta kasih sayang orang tua menjadi bahan bakar yang tak pernah habis.
Sebelum memilih kuliah di Unmuh Babel, Dina sempat melakukan riset sendiri.
Ia mencari tahu apakah kampus tersebut cukup inklusif dan bisa menerima mahasiswa penyandang disabilitas seperti dirinya.
Keraguan sempat menghantuinya.
Ia mengaku tidak percaya diri saat membayangkan harus berkuliah bersama mahasiswa lain yang secara fisik tidak memiliki keterbatasan.
Ada rasa minder. Ada ketakutan akan penolakan. Namun semua kekhawatiran itu perlahan sirna.
Dina justru menemukan lingkungan yang memberinya ruang untuk tumbuh.
Ia bertemu teman-teman yang menurutnya sangat baik dan suportif.
Mereka bukan hanya hadir sebagai teman kelas, tetapi juga menjadi penyemangat dalam perjalanan akademiknya.
"Awalnya minder, takut tidak bisa mengikuti. Tapi ternyata teman-teman sangat baik, sangat support sampai akhir," katanya.
Tantangan terbesar kembali datang menjelang kelulusan.
Mobilitasnya semakin intens ketika harus bolak-balik menemui dosen, mengurus revisi, hingga mengejar sidang skripsi.
Naik ke lantai empat bukan lagi aktivitas sesekali, melainkan rutinitas yang semakin sering. Tetapi Dina memilih bertahan.
Semua rasa lelah itu terbayar saat namanya dipanggil sebagai wisudawan.
Di momen itulah ia merasa seluruh perjuangan selama empat tahun akhirnya bermakna.
Ia berhasil membawa kedua orang tuanya menyaksikan langsung buah dari perjuangan yang mereka lalui bersama.
Bagi Dina, wisuda ini bukan garis akhir. Ia berharap kisahnya bisa menjadi penyemangat bagi penyandang disabilitas lainnya untuk terus bermimpi.
Ia percaya keterbatasan fisik bukan alasan untuk berhenti mengejar masa depan.
"Untuk teman-teman yang punya kekurangan seperti saya, tetap semangat mengejar mimpi. Kita sama seperti yang lain, tidak ada bedanya," ujarnya.
"Selagi kita mampu, selagi kita bisa, kejarlah cita-cita yang kita inginkan," tambahnya.
Setelah resmi menyandang gelar sarjana, Dina berencana mencari pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya dan terbuka menerima dirinya sebagai penyandang disabilitas.
Di balik toga yang dikenakannya hari itu, tersimpan cerita tentang keberanian melawan rasa minder, rasa sakit yang ditahan dalam diam, serta keyakinan bahwa mimpi pantas diperjuangkan siapa saja.
(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)