PLN Beberkan Alasan Pemadaman Listrik Bergilir ke DPRD Kalsel
Irfani Rahman July 02, 2026 04:11 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN – PT PLN (Persero) mengungkap alasan pemadaman bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel).

Dalam rapat bersama Komisi III DPRD Kalsel, Kamis (2/7/2026), PLN menyatakan langkah tersebut dilakukan sebagai upaya menjaga kestabilan sistem interkoneksi Kalimantan agar tidak mengalami blackout atau padam total.

General Manager PLN UID Kalselteng, Iwan Soelistijono menjelaskan, gangguan bermula dari masalah operasional pada salah satu unit Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) di Kalimantan Tengah.

Gangguan tersebut menyebabkan kemampuan pembangkit memasok daya ke sistem menurun sehingga pasokan listrik belum dapat beroperasi secara optimal.

“Untuk menjaga frekuensi dan kestabilan sistem, PLN menerapkan manajemen beban secara terbatas dan terukur,” ujarnya, dalam rapat.

Baca juga: Pemadaman Listrik Bergilir Tuai Keluhan, Besok DPRD Kalsel Panggil PLN

Baca juga: Penjelasan PLN Soal Pemadaman Listrik Bergilir di Kalsel: Demi Jaga Keandalan Sistem

Iwan menjelaskan, saat itu sebenarnya telah berlangsung plant outage, yakni penghentian operasi pembangkit yang telah dijadwalkan untuk pemeliharaan.

Namun, proses pemeliharaan di salah satu pembangkit mengalami keterlambatan sehingga pembangkit lain harus menanggung beban lebih besar. Akibatnya, sebagian pembangkit mengalami forced outage atau gangguan tidak terencana.

“Karena plant outage tidak selesai sesuai jadwal, pembangkit lain harus memenuhi seluruh kebutuhan sistem. Akhirnya ada yang mengalami forced outage,” jelasnya.

Ia mengatakan kondisi tersebut membuat operator harus segera mengurangi beban sistem agar frekuensi jaringan tetap berada pada batas aman.

Jika beban tidak dikurangi, frekuensi listrik akan terus turun dan berpotensi memicu blackout di seluruh sistem interkoneksi Kalimantan.

“Kalau sistem dipaksa tetap melayani seluruh beban, nanti terjadi blackout. Kalau sudah blackout, seluruh Kalimantan bisa padam,” ujarnya.

Menurutnya, pemulihan setelah blackout jauh lebih rumit dibanding melakukan pemadaman bergilir.

Satu unit pembangkit membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat jam untuk kembali beroperasi, kemudian seluruh pembangkit harus disinkronkan sebelum sistem kembali normal.

Ia mengatakan, PLN memilih melakukan pengurangan beban secara bertahap. Prioritas pengurangan diberikan kepada pelanggan industri atau pelanggan yang memiliki captived power atau pembangkit listrik sendiri, sehingga dampak terhadap pelanggan rumah tangga dapat ditekan.

“Kita usahakan pelanggan yang punya genset lepas dari jaringan PLN sehingga beban berkurang. Dengan begitu pelanggan rumah tangga tidak banyak yang padam atau waktu padamnya tidak terlalu lama,” katanya.

Dalam rapat tersebut, PLN juga memaparkan sejumlah langkah penanganan yang sedang dilakukan, yakni mempercepat pemulihan unit pembangkit yang terganggu, mengoptimalkan pembangkit lain yang masih beroperasi, melakukan pengaturan operasi sistem secara real time, serta menerapkan manajemen beban bergilir demi menjaga keandalan sistem.

(Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Syaiful Riki) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.