Kisah Ketua RW 006 Tello Baru, 17 Tahun Kelola Sampah dan Bangun Taman Baca Anak Lorong ‎
Imam Wahyudi July 02, 2026 05:07 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, ‎MAKASSAR - Bagi sebagian orang, tinggal di lorong atau gang identik dengan ruang yang sempit dan terbatas.

‎Namun bagi Sunarti, lorong justru menjadi tempat lahirnya perubahan.

‎Selama 17 tahun menetap di Jalan Dr Leimena Lorong 6, Kelurahan Tello Baru, perempuan kelahiran Soppeng, 2 Juli 1977 itu, perlahan membangun berbagai inisiatif sosial bersama warga.

‎Mulai dari membiasakan pemilahan sampah rumah tangga, membentuk bank sampah, hingga menghadirkan ruang belajar untuk anak-anak.

‎Kerja-kerja sosial tersebut bahkan telah dimulai jauh sebelum dirinya dilantik sebagai Ketua RW 006, Kelurahan Tello Baru, Kecamatan Panakkukang, pada Desember 2025.

‎Sunarti menempuh pendidikan D III Kepelabuhanan di Akademi Maritim Indonesia (AMI) Makassar sebelum melanjutkan studi S1 Ekonomi di Universitas Veteran Republik Indonesia (UVRI) Makassar.

‎Selepas kuliah, ia sempat bekerja di beberapa daerah, termasuk di Batam.

‎Namun setelah menikah, Sunarti memilih fokus mendampingi keluarga dan membesarkan kedua anaknya.

‎Saat anak-anak mulai tumbuh mandiri, ia kembali mencari ruang untuk beraktivitas dan memberi manfaat.

‎Bukan kembali ke dunia kerja formal, Sunarti justru memilih terjun ke lingkungan tempat tinggalnya.

‎Awalnya sederhana. Ia ingin lorong tempat tinggalnya menjadi lebih tertata, bersih, dan nyaman.

‎Namun niat tersebut berkembang menjadi kerja-kerja sosial yang terus berjalan hingga sekarang.

‎“Pas saya tinggal di sini, saya berpikir mungkin memang tempat saya di sini, bagaimana kita bisa bergerak dan membuat lingkungan jadi lebih baik,” ujarnya kepada Tribun, Rabu (1/7/2026).

‎Dari semangat itu lahir Bank Sampah Unit (BSU) Lavender.

‎Program tersebut dijalankan secara konsisten bersama warga dan menjadi salah satu gerakan lingkungan yang aktif di wilayahnya.

‎Bagi Sunarti, persoalan sampah tidak cukup diselesaikan melalui pengangkutan semata.

Menurutnya, perubahan harus dimulai dari rumah.

‎Karena itu, setiap keluarga didorong memilah sampah secara mandiri sebelum disetor saat penimbangan di BSU.

‎Dalam satu kali penimbangan, sampah yang terkumpul bisa mencapai sekitar 100 kilogram dan dilakukan sedikitnya sekali dalam sepekan.

‎“Biasanya seratus kilo, kadang juga lebih. Dulu satu kali sepekan, tapi beberapa kali juga bisa dilaksanakan dua kali,” jelasnya.

‎Tidak berhenti pada pengelolaan sampah anorganik, warga di wilayahnya juga mulai mengolah sampah organik melalui komposter dan biopori agar volume sampah yang dibuang semakin berkurang.

‎“Kami terus mengoptimalkan dan memperbanyak biopori dan komposter,” ucapnya.

‎Untuk memperkuat gerakan tersebut, Sunarti juga menggandeng berbagai pihak.

‎Melalui program pembinaan, PLN turut mendukung pengembangan kawasan melalui penyediaan gerbang lorong, mural lingkungan, fasilitas komposter hingga mesin pencacah daun.

‎Selain mengurus lingkungan, Sunarti juga menaruh perhatian besar pada literasi dan tumbuh kembang anak di sekitarnya.

‎Ia membangun Taman Baca Lavender yang kini telah berjalan selama dua tahun.

‎Tempat itu menjadi ruang belajar dan bermain bagi anak-anak sekitar, mulai dari membaca, berhitung, hingga memperluas pengetahuan umum.

‎Menurutnya, taman baca hadir sebagai upaya menjaga anak-anak tetap memiliki ruang interaksi di tengah penggunaan gawai yang semakin tinggi.

‎“Supaya mereka tidak hanya fokus di HP dan tetap bisa bersosialisasi,” katanya.

‎Pengabdian panjang Sunarti pun mendapat berbagai apresiasi.

‎Pada tahun 2025, Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar menetapkan BSU Lavender sebagai salah satu Bank Sampah terbaik di Kota Makassar.

‎Setahun sebelumnya, Sunarti juga menerima penghargaan dari Human Initiative sebagai local mover atau penggerak masyarakat dan diundang ke Jakarta.

‎Dalam kesempatan tersebut, hadir memberikan penghargaan Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar.

‎Meski demikian, penghargaan bukan menjadi tujuan utamanya.

‎Menurut Sunarti, yang terpenting adalah meninggalkan manfaat bagi orang lain.

‎“Yang paling pokok itu keikhlasan dalam bekerja. Kita hidup tidak selamanya. Jadi sebisa mungkin ada kebaikan dan kebermanfaatan yang bisa kita tinggalkan,” ucap wanita yang besok akan berulang tahun ke-49 ini.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.