TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kabupaten Klaten tidak hanya dikenal sebagai daerah yang kaya akan wisata alam dan peninggalan candi bersejarah.
Di balik hamparan sawah yang membentang di wilayah selatan Klaten, ternyata masih tersimpan jejak penting perjalanan sejarah bangsa Indonesia pada masa penjajahan Belanda.
Salah satunya adalah Benteng Stelsel yang berada di area persawahan di antara Desa Rejoso, Kecamatan Jogonalan, dan Desa Baturan, Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten.
Meski kini kondisinya hanya menyisakan reruntuhan tembok yang tertutup semak belukar, keberadaan benteng ini memiliki nilai sejarah yang sangat penting.
Benteng tersebut menjadi salah satu saksi bisu berlangsungnya Perang Jawa atau De Java Oorlog, perang besar yang dipimpin Pangeran Diponegoro melawan pemerintahan kolonial Belanda pada 1825 hingga 1830.
Benteng Stelsel di Klaten dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai bagian dari strategi militer untuk menghadapi pasukan Pangeran Diponegoro.
Baca juga: Rumah Angel Lelga Kemalingan, Pelakunya Ternyata ART Sendiri, Topi Branded hingga Vitamin Hilang
Saat itu, Belanda menerapkan strategi Benteng Stelsel, yakni membangun jaringan benteng kecil yang saling terhubung untuk mempersempit ruang gerak pasukan Diponegoro.
Strategi tersebut mulai diterapkan sekitar tahun 1827 hingga 1830 dan menjadi salah satu faktor yang akhirnya melemahkan perlawanan pasukan Diponegoro.
Dikutip dari akun Instagram @kabarklaten keberadaan benteng di wilayah Jogonalan bukan tanpa alasan.
Kawasan ini menjadi jalur penting yang harus diawasi karena menjadi salah satu daerah perlintasan selama berlangsungnya Perang Jawa.
Kini, bangunan yang dahulu menjadi pos pertahanan Belanda itu memang sudah jauh berubah.
Sebagian besar bangunannya telah runtuh dan hanya menyisakan potongan tembok tua yang tersembunyi di tengah area persawahan.
Meski demikian, sisa-sisa bangunan tersebut masih menyimpan cerita panjang mengenai salah satu konflik terbesar dalam sejarah Nusantara.
Baca juga: Ruben Onsu Sebar Bukti Pernah Dibuntuti oleh Giorgio Antonio saat Ketemu Anak: Saya Orangtua Kandung
Menariknya, lokasi reruntuhan Benteng Stelsel di Jogonalan dinilai identik dengan posisi benteng yang tergambar dalam peta militer karya Mayor Stuers yang diterbitkan pada 31 Januari 1830.
Peta tersebut menjadi salah satu dokumen sejarah penting yang menggambarkan persebaran benteng-benteng Belanda selama Perang Diponegoro berlangsung.
Dalam peta itu tercatat terdapat delapan Benteng Stelsel yang dibangun di wilayah Klaten. Salah satunya adalah benteng yang berada di kawasan Jogonalan ini.
Keberadaan data tersebut semakin memperkuat bahwa reruntuhan yang kini masih dapat dijumpai di tengah persawahan bukan sekadar bangunan tua biasa, melainkan bagian dari sistem pertahanan kolonial Belanda pada abad ke-19.
Bagi Kabupaten Klaten, Benteng Stelsel memiliki arti penting karena menjadi bukti bahwa wilayah ini pernah menjadi bagian dari medan pertempuran besar dalam Perang Jawa.
Nilai sejarahnya tidak hanya berkaitan dengan peninggalan fisik, tetapi juga menjadi pengingat perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan.
Sayangnya, kondisi benteng saat ini belum banyak dikenal masyarakat luas.
Reruntuhan bangunan yang tertutup semak belukar membuat keberadaannya nyaris terlupakan, padahal situs tersebut berpotensi menjadi destinasi wisata sejarah sekaligus sarana edukasi bagi generasi muda.
Dengan pelestarian yang tepat, Benteng Stelsel di Klaten dapat menjadi salah satu ikon sejarah daerah yang memperkaya khazanah warisan budaya.
Sekaligus mengingatkan masyarakat akan perjuangan panjang para pahlawan, termasuk Pangeran Diponegoro, dalam mempertahankan tanah Jawa dari kekuasaan kolonial Belanda.
(Tribunnewsmaker.com/Candra)