TRIBUNMANADO.CO.ID - Sejumlah penyakit katastropik tercatat menyedot biaya pelayanan kesehatan dalam Program Jaminan Kesehatan (JKN) di Sulawesi Utara.
BPJS Kesehatan Cabang Utama Manado mencatat, ada lima penyakit katastropik yang paling banyak menyedot iuran JKN.
Lima penyakit tersebut, yakni jantung, kanker, gagal ginjal, stroke dan hemofilia. Selain itu, leukimia, thalassemia dan hepatitis.
Baca juga: Daftar Lengkap Pejabat yang Terima Sprint Bupati Mitra Ronald Kandoli, Ada Kepala Dinas hingga Lurah
Adapun BPJS Kesehatan Cabang Utama Manado melayani JKN untuk enam daerah, yakni Manado, Minut, Bitung dan tiga kabupaten di Kepulauan Nusa Utara
Berdasar data, sepanjang tahun 2025, perawatan peserta dengan penyakit jantung memakan biaya JKN paling besar.
Total penyakit jantung 221.915 kasus dengan jumlah peserta 52.485. Besaran biaya perawatan yang dibayarkan sebesar Rp 312 miliar.
Sementara, pada tahun ini hingga April, jumlah kasus penyakit jantung 70.330 dengan peserta 25.701 orang. Besaran biaya yang dikeluarkan Rp 86,9 miliar.
Berikut rincian penyakit katastropik dengan biaya perawatan terbesar di BPJS Kesehatan Cabang Utama Manado:
Tahun 2025
Jantung, 221.915 kasus, 52.485 peserta, Rp 312,21 miliar
2. Kanker, 52.115 kasus, 5.690 peserta, Rp 86,87 miliar
3. Gagal ginjal, 17.413 kasus, 6.574 peserta, Rp 39.18 miliar
4. Stroke, 12.826 kasus, 3.999 peserta, Rp 34.25 miliar
5. Hemofilia, 2.127 kasus, 147 peserta, Rp 23.74 miliar
Total: Total 310.570 kasus, 69.752 peserta JKN dengan biaya Rp 509.15 miliar
Tahun 2026
1. Jantung, 70.330 kasus, 25.701 peserta, Rp 86,96 miliar
2. Kanker, 16.806 kasus, 3.159 peserta, Rp 24,21 miliar
3. Stroke, 4.328 kasus, 1.556 peserta, Rp 5,41 miliar
4. Hemofilia, 378 kasus, 64 peserta, Rp 4,74 miliar
5. Gagal ginjal, 4.526 kasus, 2.340 peserta, Rp 3,64 orang
Total 97.576 kasus, 33.244 peserta JKN dengan biaya Rp 127.92 miliar sampai dengan April 2026.
Sementara, fakta serupa ditemukan di tingkat nasional. Pembiayaan penyakit jantung sebanyak 29,7 jutaan kasus sepanjang tahun 2025 dengan pembiayaan mencapai Rp 17, 3 triliun.
Diikuti gagal ginjal 12,6 jutaan kasus dengan pembiayaan mencapai Rp Rp 13,3 triliun. Selain itu, kanker 7,1 jutaan kasus dengan pembiayaan Rp 10,3 triliun. Kemudian, penyakit dominan lainnya ialah stroke, sirosis hati, thalasseHeb dan hemofilia.
Penyakit katastropik menyerap 26,28 persen dari total biaya pelayanan kesehatan yang dibayarkan BPJS
Kesehatan pada tahun 2025.
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Utama Manado, Nyoman Wiwiek Yuliadewi mengatakan, kehadiran JKN sangat membantu masyarakat.
Dengan adanya JKN, peserta tidak dibebani dengan biaya perawatan. "Bisa dibayangkan berapa besar biaya yang harus dikeluarkan jika tidak ada JKN. Belum lagi dampak ekonomi dan sosial akibat sakit," kata Nyoman saat public expose BPJS Kesehatan tahun 2025 di kantornya, Jalan 14 Februari, Teling Atas Manado, Kamis 2 Juli 2026.
Lebih jauh Nyoman mengingatkan masyarakat pentingnya keaktifan peserta JKN. Di mana, kewajiban membayar iuran oleh peserta JKN--terutama oleh peserta mandiri.
"Kepatuhan membayar iuran berdampak besar bagi keberlangsungan program. Pasalnya program ini juga menganut prinsip gotong royong, yang sehat membantu yang sakit. Yang mampu m membantu yang kurang mampu," katanya.
Ia memberi contoh bagaimana program JKN sangat membantu. Untuk kasus gagal ginjal yang harus cuci darah misalnya. Biaya hemodialisa (cuci darah) di kisaran Rp 700 jutaan sekali layanan.
"Dengan JKN, biaya itu bisa dicover oleh iuran 20 peserta," katanya lagi.
Nyoman pun mengingatkan peserta JKN agar senantiasa memastikan status kepesertaannya aktif. Pasalnya, kita tidak pernah tahu kapan jatuh sakit dan butuh perawatan.
Biaya pelayanan kesehatan tembus Rp 191 triliun
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito mengungkapkan, sepanjang tahun 2025, biaya pelayanan kesehatan mencapai Rp191,3 triliun, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Sebanyak 26,42 persen di antaranya digunakan untuk pembiayaan penyakit katastropik, yang sebagian besar sebenarnya dapat dicegah melalui penerapan pola hidup sehat dan deteksi dini.
Karena itu, BPJS Kesehatan senantiasa mengoptimalkan upaya promotif dan preventif, meningkatkan kualitas layanan, mengoptimalkan kolektabilitas iuran.
"Keberhasilan Program JKN merupakan hasil gotong royong seluruh bangsa. BPJS Kesehatan berkomitmen untuk memperkuat kolaborasi dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, badan usaha, dan seluruh pemangku kepentingan agar Program JKN tetap berkelanjutan," ujar Pujo dalam Public Expose Laporan Pengelolaan Program dan Laporan Keuangan BPJS Kesehatan tahun 2025.
Dijelaskan, hingga 31 Desember 2025, jumlah peserta Program JKN telah mencapai 282,7 juta jiwa atau 98,62 persen dari total penduduk Indonesia.
Besarnya cakupan kepesertaan tersebut diikuti dengan tingginya pemanfaatan layanan kesehatan.
Sepanjang tahun 2025, Program JKN mencatat lebih dari 725,3 juta pemanfaatan layanan kesehatan, atau lebih dari 1,9 juta pemanfaatan layanan setiap hari.
Angka tersebut mencerminkan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap Program JKN, sekaligus menunjukkan bahwa layanan kesehatan yang berkualitas semakin mudah diakses oleh peserta di seluruh Indonesia. (ndo)
-
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini