TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Kuasa hukum keluarga guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) berinisial IPP (32), Rodi Candra, mengungkap sejumlah kejanggalan yang dinilai mengiringi kematian kliennya.
Menurut Rodi, berdasarkan keterangan keluarga, guru SD di Kabupaten Pesisir Selatan tersebut ditemukan meninggal dunia dalam kondisi yang tidak lazim.
Ia menyebut, kejanggalan terlihat mulai dari posisi tubuh korban saat pertama kali ditemukan hingga kondisi tempat kejadian perkara (TKP).
"Saat ditemukan meninggal, posisinya tidak seperti orang meninggal pada umumnya. Korban terlentang, kedua tangan terkepal dan terlipat ke kiri serta kanan, sementara tulang belakangnya agak membungkuk ke belakang," kata Rodi Candra kepada TribunPadang.com, Kamis (2/7/2026).
Baca juga: Breaking News: Guru PPPK Ditemukan Tewas di Mess Polres Pessel, Keluarga Lapor ke Propam Polda
Rodi juga menyoroti adanya perbedaan antara kondisi awal saat jenazah ditemukan dengan foto yang kemudian beredar.
Menurutnya, dalam foto yang beredar, jenazah korban tampak telah diberi bantal dan kondisi ruangan terlihat rapi.
"Sangat berbeda dengan kondisi saat pertama kali ditemukan oleh orang tua korban. Saat itu ruangan masih berantakan, tidak ada bantal, dan posisi jenazah juga berbeda," ujarnya.
Rodi mengatakan, berdasarkan keterangan keluarga, korban datang ke mes personel Polres Pesisir Selatan untuk menemui seorang temannya.
"Menurut keterangan keluarga, korban datang ke mes karena ingin bertemu temannya," katanya.
Baca juga: Usut Penyebab Kematian Guru PPPK di Mes Polres Pessel, Keluarga Korban: Ditemukan Luka Lebam
Teman yang dimaksud diketahui berinisial W, seorang personel Polres Pesisir Selatan.
"Kami belum mengetahui apakah W ini teman lama atau teman baru korban," ujarnya.
Atas dasar itu, pihak keluarga melaporkan W ke Propam Polda Sumbar agar keterangannya dapat dimintai dalam proses penyelidikan.
"Kami berharap W dapat dimintai keterangan. Kami juga meminta Propam mengawasi proses penyelidikan yang sedang berjalan di Polres Pesisir Selatan serta memberikan perlindungan agar tidak ada intervensi terhadap keluarga korban," katanya.
Sebelumnya, keluarga guru PPPK berinisial IPP (32) yang ditemukan meninggal dunia di dalam kamar mes personel Polres Pesisir Selatan melaporkan seorang anggota polisi berinisial W ke Propam Polda Sumbar, Kamis (2/7/2026) sore.
Laporan tersebut dibuat karena keluarga menilai terdapat sejumlah kejanggalan dalam kematian korban yang ditemukan di mes personel Polres Pesisir Selatan di Nagari Salido, Kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan, Sabtu (27/6/2026) sekitar pukul 03.00 WIB.
Pantauan TribunPadang.com, orang tua korban bersama kuasa hukumnya tiba di Mapolda Sumbar sekitar pukul 15.30 WIB setelah berangkat dari Kabupaten Pesisir Selatan.
Mereka mendatangi Subbagyanduan Propam Polda Sumbar untuk menyampaikan laporan secara resmi.
Sebelum memasuki ruang pengaduan, keluarga korban sempat memberikan keterangan kepada awak media.
Ayah korban, Syaiful (63), mengatakan kedatangannya ke Propam Polda Sumbar bertujuan mencari keadilan dan mengungkap penyebab pasti kematian anak sulungnya.
Baca juga: Ruang Kelas Hancur Imbas Banjir, Ratusan Murid SDN 10 Lambung Bukit Terpaksa Belajar Bergantian
"Kami datang ke sini untuk mencari keadilan dan kebenaran terkait kematian anak kami," kata Syaiful.
Ia menuturkan, terdapat sejumlah hal yang dianggap janggal, salah satunya adanya luka lebam pada tubuh korban saat jenazah ditemukan.
"Anak saya orangnya lugu dan selama ini tidak memiliki riwayat penyakit. Namun saat ditemukan, di tubuhnya ada luka-luka lebam," ujarnya.
Selain itu, Syaiful juga menilai kondisi TKP saat pertama kali ia lihat berbeda dengan kondisi ketika dilakukan olah TKP oleh petugas.
"TKP awal dengan saat olah TKP berbeda. Itu posisi leher dan posisi jari tangan korban," katanya.
Syaiful mengaku tidak mengenal sosok personel polisi berinisial W yang disebut berada di mes bersama korban.
Baca juga: Kelangkaan Solar Ganggu Distribusi, Harga Cabai Merah dan Bawang Melejit di Pasar Raya Padang
"Saya tidak mengetahui siapa W ini. Saya tahu dia polisi dari anak saya yang lain," ujarnya.
Ia mengatakan, IPP merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Sebelum tiba di lokasi, dirinya hanya mendapat kabar bahwa putranya dalam kondisi pingsan.
"Saat disampaikan kepada saya, anak saya dalam kondisi pingsan. Namun ketika saya sampai, anak saya sudah meninggal dunia," ungkapnya.
Menurut Syaiful, pada malam sebelum kejadian, putranya berpamitan kepada sang ibu untuk pergi ke rumah seorang teman.
"Malam Sabtu anak saya izin ke rumah temannya kepada mamanya. Dia juga jarang keluar rumah dan memang orangnya agak lugu," tuturnya.
Melalui laporan ke Propam Polda Sumbar, Syaiful berharap proses penyelidikan berjalan secara transparan sehingga penyebab kematian putranya dapat diungkap secara terang.
"Saya sudah melapor ke Polres. Harapan saya, dengan laporan ke Propam ini, kematian anak saya bisa diungkap seterang-terangnya," tutupnya.(*)