Keluarga Menduga Kematian Guru PPPK di Mes Polres Pessel Tak Wajar, Minta Propam Awasi Penyelidikan
Rezi Azwar July 02, 2026 10:03 PM

TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Kuasa hukum keluarga guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) berinisial IPP (32), Rodi Candra, mengungkap alasan pihak keluarga melaporkan kasus kematian korban ke Propam Polda Sumbar.

Menurut Rodi, laporan tersebut bukan hanya untuk meminta pengawasan terhadap penyelidikan yang dilakukan Polres Pesisir Selatan, tetapi juga agar keluarga korban memperoleh perlindungan hukum selama proses pengungkapan kasus berlangsung.

"Kedatangan kami ke Propam Polda Sumbar untuk melakukan pelaporan agar keluarga korban mendapat perlindungan. Kami juga meminta Propam mengawasi proses penyelidikan yang dilakukan Polres Pesisir Selatan," kata Rodi Candra kepada TribunPadang.com usai melapor ke Propam Polda Sumbar, Kamis (2/7/2026) sore.

Rodi mengatakan, keluarga menilai terdapat sejumlah kejanggalan sejak korban ditemukan meninggal dunia di dalam kamar mes personel Polres Pesisir Selatan.

Baca juga: Breaking News: Guru PPPK Ditemukan Tewas di Mess Polres Pessel, Keluarga Lapor ke Propam Polda

KASUS KEMATIAN GURU- Keluarga guru PPPK berinisial IPP (32) didampingi kuasa hukum mendatangi Subbagyanduan Propam Polda Sumbar di Padang, Kamis (2/7/2026). Mereka melaporkan seorang personel Polres Pesisir Selatan berinisial W karena menilai terdapat sejumlah kejanggalan dalam kematian korban yang ditemukan di mes personel Polres Pesisir Selatan.
KASUS KEMATIAN GURU- Keluarga guru PPPK berinisial IPP (32) didampingi kuasa hukum mendatangi Subbagyanduan Propam Polda Sumbar di Padang, Kamis (2/7/2026). Mereka melaporkan seorang personel Polres Pesisir Selatan berinisial W karena menilai terdapat sejumlah kejanggalan dalam kematian korban yang ditemukan di mes personel Polres Pesisir Selatan. (TribunPadang.com/Muhammad Afdal Afrianto)

Berdasarkan keterangan keluarga, posisi tubuh korban saat pertama kali ditemukan dinilai tidak lazim.

"Saat ditemukan, korban terlentang, kedua tangan terkepal dengan posisi terlipat ke kiri dan kanan, sementara tulang belakangnya membungkuk ke belakang. Kondisinya tidak seperti orang meninggal pada umumnya," ujarnya.

Tak hanya itu, keluarga juga menyoroti adanya perbedaan antara kondisi awal tempat kejadian perkara (TKP) dengan foto yang kemudian beredar.

Menurut Rodi, ketika orang tua korban tiba di lokasi, ruangan masih dalam keadaan berantakan.

Baca juga: Usut Penyebab Kematian Guru PPPK di Mes Polres Pessel, Keluarga Korban: Ditemukan Luka Lebam

"Posisi ruangan saat pertama kali dilihat keluarga sangat berantakan. Korban juga tidak berada di atas bantal. Sebagian tubuhnya berada di tikar dan sebagian kakinya berada di lantai. Sementara foto yang beredar memperlihatkan kondisi ruangan sudah rapi dan korban sudah menggunakan bantal. Perbedaan inilah yang membuat keluarga curiga," katanya.

Atas dasar itu, kata Rodi, keluarga menduga kematian korban tidak terjadi secara wajar.

"Keluarga menduga ada tindak pidana terhadap korban. Dugaan itu muncul dari kondisi fisik korban yang ditemukan di lokasi. Namun tentu kami tetap menunggu hasil penyelidikan dan hasil autopsi," ujarnya.

Rodi menjelaskan, berdasarkan informasi dari keluarga, korban datang ke mes personel Polres Pesisir Selatan untuk menemui seorang teman.

Baca juga: Buntut Kematian Guru PPPK di Mes Polres Pessel, Keluarga Korban Minta Anggota Polisi W Diperiksa

Teman tersebut diketahui berinisial W, seorang personel Polres Pesisir Selatan.

"Informasi dari keluarga, korban datang karena ada temannya yang tinggal di mes tersebut. Apakah teman lama atau teman baru, kami belum mengetahui," katanya.

Selain meminta Propam mengawasi penyelidikan, pihak keluarga juga meminta perlindungan agar tidak terjadi intervensi selama proses hukum berjalan.

"Kami juga meminta perlindungan terhadap keluarga, baik secara hukum maupun psikologis, karena peristiwa ini terjadi di lingkungan mes polisi," ujarnya.

Rodi mengungkapkan, sebelum autopsi dilakukan, keluarga sempat mendapat saran agar jenazah tidak diautopsi.

Menurutnya, setelah korban divisum di rumah sakit di Pesisir Selatan, ada pihak yang datang dan menyampaikan kepada keluarga agar autopsi tidak dilakukan dengan alasan prosesnya akan memakan waktu lama.

"Namun keluarga tetap bersikeras meminta autopsi. Setelah berkonsultasi dengan kerabat di Padang, keluarga mendapat informasi bahwa autopsi dapat dilakukan di RS Bhayangkara Padang kapan saja," katanya.

Baca juga: Kronologi Mahasiswi Sijunjung Tewas di Jalinsum Solok Usai Gagal Dahului Bus

Hingga kini, hasil autopsi secara lengkap belum diterima keluarga.

Rodi mengatakan, pihak RS Bhayangkara Padang menyampaikan masih ada dua sampel yang harus diperiksa di laboratorium di Pekanbaru karena peralatannya tidak tersedia di Padang.

"Hasil autopsi belum keluar secara utuh karena masih ada dua sampel yang diperiksa lebih lanjut di Pekanbaru," ujarnya.

Rodi juga mengungkapkan, komunikasi terakhir korban dengan keluarganya terjadi pada malam sebelum ditemukan meninggal dunia.

Sekitar pukul 22.15 WIB, ibu korban menghubungi IPP melalui WhatsApp dan meminta putranya segera pulang karena sudah larut malam.

"Saat itu korban menjawab, 'Tunggu dulu, Ma, saya masih bersama teman'," katanya.

Baca juga: Heboh Tambang di Kasang, Ombudsman Dalami Dugaan Maladministrasi dan Panggil OPD Terkait

Sementara itu, informasi mengenai korban meninggal baru diterima keluarga sekitar pukul 04.00 WIB.

Saat itu, dua orang mendatangi rumah keluarga dan menyampaikan bahwa korban dalam kondisi pingsan.

Namun ketika keluarga tiba di mes, mereka mendapati lokasi sudah dipenuhi ambulans, petugas Inafis dan personel kepolisian. Saat melihat korban secara langsung, keluarga meyakini IPP telah meninggal dunia.

"Yang membuat keluarga semakin curiga karena saat tiba di lokasi, korban sudah dalam kondisi kaku, sementara keluarga mengetahui korban tidak memiliki riwayat penyakit," kata Rodi.

Ia berharap Propam Polda Sumbar mengawal seluruh proses penyelidikan agar penyebab kematian guru PPPK tersebut dapat terungkap secara transparan.

"Kami berharap proses penyelidikan berjalan terang, jelas dan dapat mengungkap penyebab kematian korban secara menyeluruh. Kami juga berharap hasil autopsi segera keluar sehingga perkara ini bisa diproses sesuai hukum yang berlaku," tutupnya.

Keluarga Lapor ke Propam Polda Sumbar

Sebelumnya, keluarga guru PPPK berinisial IPP (32) yang ditemukan meninggal dunia di dalam kamar mes personel Polres Pesisir Selatan melaporkan seorang anggota polisi berinisial W ke Propam Polda Sumbar, Kamis (2/7/2026) sore.

Laporan tersebut dibuat karena keluarga menilai terdapat sejumlah kejanggalan dalam kematian korban yang ditemukan di mes personel Polres Pesisir Selatan di Nagari Salido, Kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan, Sabtu (27/6/2026) sekitar pukul 03.00 WIB.

Pantauan TribunPadang.com, orang tua korban bersama kuasa hukumnya tiba di Mapolda Sumbar sekitar pukul 15.30 WIB setelah berangkat dari Kabupaten Pesisir Selatan.

Mereka mendatangi Subbagyanduan Propam Polda Sumbar untuk menyampaikan laporan secara resmi.

Sebelum memasuki ruang pengaduan, keluarga korban sempat memberikan keterangan kepada awak media.

Ayah korban, Syaiful (63), mengatakan kedatangannya ke Propam Polda Sumbar bertujuan mencari keadilan dan mengungkap penyebab pasti kematian anak sulungnya.

Baca juga: Ruang Kelas Hancur Imbas Banjir, Ratusan Murid SDN 10 Lambung Bukit Terpaksa Belajar Bergantian

"Kami datang ke sini untuk mencari keadilan dan kebenaran terkait kematian anak kami," kata Syaiful.

Ia menuturkan, terdapat sejumlah hal yang dianggap janggal, salah satunya adanya luka lebam pada tubuh korban saat jenazah ditemukan.

"Anak saya orangnya lugu dan selama ini tidak memiliki riwayat penyakit. Namun saat ditemukan, di tubuhnya ada luka-luka lebam," ujarnya.

Selain itu, Syaiful juga menilai kondisi TKP saat pertama kali ia lihat berbeda dengan kondisi ketika dilakukan olah TKP oleh petugas.

"TKP awal dengan saat olah TKP berbeda. Itu posisi leher dan posisi jari tangan korban," katanya.

Syaiful mengaku tidak mengenal sosok personel polisi berinisial W yang disebut berada di mes bersama korban.

Baca juga: Kelangkaan Solar Ganggu Distribusi, Harga Cabai Merah dan Bawang Melejit di Pasar Raya Padang

"Saya tidak mengetahui siapa W ini. Saya tahu dia polisi dari anak saya yang lain," ujarnya.

Ia mengatakan, IPP merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Sebelum tiba di lokasi, dirinya hanya mendapat kabar bahwa putranya dalam kondisi pingsan.

"Saat disampaikan kepada saya, anak saya dalam kondisi pingsan. Namun ketika saya sampai, anak saya sudah meninggal dunia," ungkapnya.

Menurut Syaiful, pada malam sebelum kejadian, putranya berpamitan kepada sang ibu untuk pergi ke rumah seorang teman.

"Malam Sabtu anak saya izin ke rumah temannya kepada mamanya. Dia juga jarang keluar rumah dan memang orangnya agak lugu," tuturnya.

Melalui laporan ke Propam Polda Sumbar, Syaiful berharap proses penyelidikan berjalan secara transparan sehingga penyebab kematian putranya dapat diungkap secara terang.

"Saya sudah melapor ke Polres. Harapan saya, dengan laporan ke Propam ini, kematian anak saya bisa diungkap seterang-terangnya," tutupnya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.