Nelangsa Petani Kopi di Lahat Sumsel, Ada yang Belum Panen Saat Tahun Ajaran Baru Sekolah Kian Dekat
Refly Permana July 02, 2026 10:27 PM

 

SRIPOKU.COM, LAHAT - Dua tahun terakhir, ungkapan 70:70 viral di beberapa kabupaten penghasil kopi Sumatra Selatan, salah satunya di Kabupaten Lahat. 

Arti dari ungkapan tersebut adalah harga kopi kala itu tembus di angka Rp70 ribu per kilogram.

Petani kopi dibuat bahagia dengan harga tersebut karena dari hasil penjualan kopi mampu mencukupi kebutuhan sehari, termasuk untuk biaya pendidikan anak. 

Sayangnya, di tahun 2026 ini, sebutan 70:0 tak terdengar lagi karena rendahnya harga kopi saat ini, belum lagi hasil panen kopi berkurang dibanding tahun sebelumnya.

Kondisi cukup memberatkan petani di tengah harga kebutuhan semakin naik dan belum lagi bertepatan dengan datangnya tahun ajaran baru. 

Baca juga: Susah Payah Menabung dari Uang Panen Kopi, Curhat Pilu Korban Dugaan Penipuan Umrah di Lahat

"Ya harga 70:70 tinggal jadi kenangan. Namun demikian kami selalu berdoa dan berharap harga naik kembali. Jelas harga saat ini akan menyulitkan petani lantaran kebutuhan hidup semakin tinggi, " kata Yudi seorang petani kopi Lahat, Rabu (2/7/2026). 

Sementara itu, harga green bean atau biji kopi pelangi di tingkat petani berkisar Rp54-55 ribu hingga Rp57 ribu per kilogram.

Sedangkan untuk biji kopi petik merah, di angka Rp90 ribu-Rp120 ribu per kilogram. Harga tersebut memang terjadi kenaikan dibanding beberapa bulan lalu yang hanya dikisaran Rp45 ribu per kilo. 

Kepala Dinas Perkebunan Lahat Vivi Anggraeni S.S.T.P., M.Si. menyampaikan, adanya kenaikan harga kopi di bulan Juni ini.

Namun demikian, diakuinya belum sebanding jika dibanding tahun lalu.

Meski demikian, tingginya harga belum tentu dapat dinikmati seluruh petani, karena sebagian besar hasil panen langsung dijual untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak.

"Sebagian wilayah ada yang sudah selesai panen, ada juga yang belum selesai. Panen kopi di Lahat memang tidak serentak, karena faktor cuaca ikut mempengaruhi waktu panen," sampai Vivi Anggraeni. 

Sementara, Agus, salah seorang petani kopi Lahat mengaku, tidak punya banyak pilihan, selain segera menjual kopi setelah dipanen. 

Baca juga: Disaat Harga Tembus Rp40 Ribu per Kg, Hasil Panen Kopi di Lubuklinggau Merosot

Menurutnya, musim panen tahun ini bertepatan dengan tahun ajaran baru anak-anaknya. Sehingga kebutuhan biaya pendidikan, jadi prioritas utama.

"Biaya masuk sekolah, beli seragam, buku dan perlengkapan lainnya harus segera dipenuhi. Karena itu banyak petani langsung menjual kopi begitu dipanen, tidak disimpan dahulu," katanya.

Agus berharap, harga kopi tetap stabil dan tidak kembali merosot di bawah Rp50 ribu per kilogram.

Menurutnya, harga tersebut jadi batas minimal, agar petani masih mampu memenuhi kebutuhan pokok keluarga, sekaligus membiayai pendidikan anak.

"Bagi kami, harga di atas Rp50 ribu masih cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan biaya sekolah anak. Mudah-mudahan jangan turun lagi," harapnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.