TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, mengalami penurunan selama enam bulan awal 2026 atau Januari-Juni 2026 dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, Samsu Aryanto, mengungkapkan, selama Januari-Juni 2026 ini, jumlah kasus DBD di Bumi Projotamansari hanya menyentuh 35 kasus.
"Sedangkan, periode yang sama yakni Januari-Juni pada tahun 2025, ada 476 kasus DBD di Kabupaten Bantul," katanya, kepada Tribunjogja.com, Kamis (2/7/2026).
Penurunan ini terjadi dikarenakan beberapa hal, termasuk tingginya kesadaran masyarakat dalam menerapkan Gerakan Serentak Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).
Kendati begitu, kasus DBD rata-rata terjadi pada usia produktif. Di Kabupaten Bantul sendiri, kasus DBD rata-rata dialami oleh orang berusia 15-44 tahun.
"Pada tahun ini, peningkatan kasus terjadi pada Maret karena adanya perubahan iklim yang mengakibatkan banyak genangan air dan menjadi perindukan nyamuk," ucap dia.
Selanjutnya, sebaran kasus terbanyak ada di Kapanewon Kasihan dan Kapanewon Sedayu. Maka dari itu, pihaknya terus melakukan antisipasi agar sebarannya dapat tertangani dengan baik.
"Langkah yang sudah kami lakukan berupa PSN, fogging focus, pemberian larvasida, dan sosialisasi edukasi kepada masyarakat," ujar Samsu.
Lebih lanjut, walau tren kasus DBD di Bumi Projotamansari saat ini sudah mengalami penurunan, masyarakat diimbau untuk tidak lengah. Setidaknya masyarakat dapat tetap aktif dalam melakukan PSN mandiri.
"Kami imbau kepada masyarakat untuk melakukan PSN mandiri secara rutin dan serentak," pesan Samsu.(nei)