Kampanye Piala Dunia Senegal berakhir dengan kekacauan total setelah gelandang Villarreal, Pape Gueye, secara mengejutkan mengancam akan pensiun dari sepak bola internasional. Pemain berusia 27 tahun itu meluapkan kemarahannya di media sosial sesaat setelah tim asuhan Pape Thiaw mengalami kekalahan menyakitkan dari Belgia di babak 32 besar.
Ancaman pensiun mengejutkan ini mengguncang sepak bola Afrika. Gueye menyatakan bahwa ia tidak akan lagi membela Senegal selama staf pelatih saat ini masih menjabat. Pernyataan tersebut disampaikan melalui unggahan di media sosial beberapa jam setelah Singa Teranga tersingkir dari Piala Dunia akibat kekalahan dramatis 3-2 dari Belgia.
Gueye, yang menjadi salah satu pemain kunci bagi negaranya sepanjang turnamen, tidak menahan diri dalam menilai kinerja tim pelatih. Dalam unggahan Instagram-nya, sang gelandang menulis: “Aku akan kembali untuk memberikan beberapa kata soal eliminasi... tapi aku umumkan hari ini bahwa selama staf teknis ini masih ada, aku akan beristirahat dari tim nasional.”
Latar belakang pengumuman mengejutkan Gueye adalah runtuhnya permainan Senegal di babak kedua. Senegal sempat unggul dua gol dan tampak akan melaju ke babak 16 besar untuk menghadapi Amerika Serikat berkat gol dari Habib Diarra dan Ismaila Sarr. Namun, situasi berubah drastis setelah Gueye digantikan oleh Lamine Camara pada menit ke-64.
Belgia berhasil menyamakan kedudukan lewat dua gol di sepuluh menit terakhir melalui Romelu Lukaku dan Youri Tielemans sehingga laga berlanjut ke perpanjangan waktu. Belgia kemudian memastikan kemenangan di menit ke-125 setelah Tielemans mengeksekusi penalti yang diberikan usai intervensi VAR. Kekalahan ini menjadi akhir pahit bagi perjalanan Senegal yang sebelumnya penuh harapan.
Pelatih kepala Pape Thiaw menghadapi banyak pertanyaan terkait keputusannya dalam mengelola pertandingan, terutama mengenai pergantian pemain seperti Gueye dan beberapa bintang utama lainnya saat tim masih unggul. Thiaw menegaskan bahwa pergantian tersebut bukan kesalahan taktis, melainkan karena kondisi fisik para pemain yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan pertandingan.
“Mereka kelelahan dan tidak bisa melanjutkan. Membiarkan mereka tetap di lapangan akan menjadi tindakan yang tidak profesional dari pihak kami. Kami harus mengganti mereka dengan pemain sepadan,” jelas Thiaw. “Tentu saja, ketika Anda kalah setelah unggul 2-0, orang akan membicarakan tentang pergantian pemain. Namun, kita tidak bisa menyederhanakan semuanya hanya pada hal itu. Pergantian ini lebih disebabkan oleh faktor kelelahan ketimbang pertimbangan taktis.”
Kekalahan ini dan pemberontakan Gueye menambah panjang daftar kontroversi yang melibatkan tim nasional Senegal. Thiaw sebelumnya juga menjadi sorotan setelah final Piala Afrika melawan Maroko, di mana ia memerintahkan para pemainnya meninggalkan lapangan untuk memprotes keputusan wasit. Meskipun Senegal akhirnya memenangkan pertandingan di lapangan, Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) kemudian membatalkan hasil tersebut dan memberikan kemenangan serta gelar juara kepada Maroko.
Mengenang kekalahan dari Belgia, Thiaw yang tampak kecewa mengatakan: “Kami baru saja kalah dalam pertandingan yang sangat penting bagi kami. Kami ingin lolos demi rakyat Senegal, kami merasa pantas, tetapi sayangnya kami tersingkir. Saya sedih, para pemain juga sedih, karena mereka benar-benar menginginkan kelolosan ini.”