Dua Siswa MAN 1 Yogyakarta Kembangkan Aplikasi Digital untuk Bantu Pekerja Informal Dapat Pelanggan
Ikrob Didik Irawan July 03, 2026 11:14 AM

 

TRIBUNJOGJA.COM – Dua siswa MAN 1 Yogyakarta, Nabielah Nihlatul Maula dan Muhammad Farrel Rizky Setiawan, mengembangkan platform digital Mitra Sigap.

Platform ini sebagai upaya membantu pekerja sektor informal di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memperoleh akses pelanggan yang lebih luas melalui teknologi.

Inovasi tersebut lahir dari keprihatinan terhadap masih besarnya jumlah pekerja sektor informal di Indonesia.

Berdasarkan data ketenagakerjaan, sektor informal masih mendominasi struktur ekonomi nasional dengan porsi 59,17 persen atau sekitar 84,13 juta pekerja.

Sementara di DIY, terdapat sekitar 1,15 juta orang yang menggantungkan penghidupan dari sektor informal, mulai dari penyedia jasa harian, teknisi panggilan, hingga pekerja domestik.

Melihat kondisi tersebut, keduanya merancang Mitra Sigap sebagai platform yang mempertemukan masyarakat yang membutuhkan jasa dengan para pekerja informal secara lebih cepat dan mudah.

Nabielah Nihlatul Maula mengatakan, aplikasi tersebut dikembangkan bukan sekadar sebagai proyek teknologi, melainkan berangkat dari kepedulian terhadap kondisi pekerja informal yang kerap kesulitan memperoleh pelanggan.

"Mitra Sigap tidak dibangun hanya dari deretan kode pemrograman dan kalkulasi bisnis semata. Platform ini lahir dari empati, dari keluhan yang dirasakan bersama para pekerja terkait sepinya pesanan. Kami ingin teknologi menjadi jembatan yang memanusiakan manusia, memberikan mereka ruang tumbuh yang setara di era digital," ujarnya dalam keterangan tertulis.

Platform Mitra Sigap dilengkapi sejumlah fitur, seperti lapak digital bernuansa budaya lokal, sistem pemetaan GPS real-time, layanan pemesanan jasa secara on demand, fitur emergency untuk kebutuhan mendesak.

Serta skema biaya layanan sebesar Rp5.000 per transaksi yang dirancang agar sebagian besar keuntungan tetap diterima oleh para mitra.

Selain melayani kebutuhan masyarakat secara langsung atau business to consumer (B2C), Mitra Sigap juga membuka peluang kerja sama dengan Balai Latihan Kerja (BLK), sekolah vokasi, dan komunitas lokal melalui skema business to business (B2B).

Muhammad Farrel Rizky Setiawan berharap platform tersebut mampu menjadi sarana bagi pelaku usaha jasa lokal untuk berkembang di tengah pesatnya transformasi digital.

"Harapannya, dengan adanya Mitra Sigap ini mampu menjadi jembatan mitra lokal bisa berkembang dan terbranding. Kami berharap teman-teman di luar sana juga bisa termotivasi dan mampu berinovasi lebih baik lagi," kata Farrel.

Melalui Mitra Sigap, para pengembang berharap pekerja sektor informal memiliki kesempatan yang lebih besar untuk memasarkan layanan mereka, sehingga dapat menjangkau lebih banyak pelanggan dan meningkatkan pendapatan di era digital. (*/rls)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.