Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Dionisius Rebon
POS-KUPANG.COM, KEFAMENANU - Plh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Felismino Askeli menegaskan, tidak ada laporan dari masyarakat perihal dampak cuaca ekstrem yang melanda wilayah Kabupaten TTU, NTT beberapa waktu lalu.
"Hujan terjadi secara sporadis. Hujan dengan intensitas ringan sampai sedang terjadi di wilayah Kabupaten TTU," ungkapnya, Kamis, 2 Juli 2026.
Selain tidak laporan mengenai dampak pemukiman dan lahan pertanian warga, BPBD TTU juga tidak menerima laporan ihwal kerusakan fasilitas umum.
Ia menjelaskan, cuaca ekstrem tersebut merupakan cuaca kemarau basah. Hal ini disebabkan oleh tekanan angin yang cukup tinggi di Selatan Pulau Timor.
"Fenomena ini agak unik karena tekanan udara di laut selatan Pulau Timor," ujarnya.
Baca juga: Keluarga dr. Icha Pakaenoni Benarkan Kemendagri Awasi Pemeriksaan Tiga Anggota di BK DPRD TTU
Kondisi cuaca mendung dan hujan sporadis yang saat ini terjadi merupakan fenomena yang masih berada dalam kerangka musim kemarau. Namun dipengaruhi oleh dinamika atmosfer regional yang menyebabkan pertumbuhan awan hujan secara lokal.
Kondisi ini memberikan manfaat berupa tambahan pasokan air dan pengurangan risiko kekeringan dini, namun juga meningkatkan risiko longsor lokal, kerusakan infrastruktur jalan dan gangguan aktivitas pertanian.
Mengingat prakiraan BMKG menunjukkan musim kemarau tahun 2026 berpotensi berlangsung lebih panjang dan relatif lebih kering dibandingkan normal, Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara perlu memanfaatkan kondisi saat ini untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman kekeringan, kebakaran hutan dan lahan serta bencana hidrometeorologi lainnya pada semester kedua tahun 2026.
Dikatakan Felismino, pihaknya bakal berkoordinasi seluruh Camat, Kepala Desa dan Lurah untuk meningkatkan pelaporan kejadian bencana secara cepat kepada BPBD.
Ia mengimbau seluruh masyarakat Kabupaten TTU untuk waspada terhadap cuaca ekstrem yang terjadi di wilayah itu. (bbr)