TRIBUN-MEDAN.COM,- Kota Medan, Sumatera Utara termasuk wilayah yang memiliki sejumlah bangunan tua peninggalan era kolonial.
Bukan cuma bangunan tua, bahkan ada tempat usaha yang sudah berdiri sebelum Indonesia merdeka.
Tempat usaha itu masih bertahan hingga saat ini dan tetap beroperasi.
Baca juga: Bertahan Sejak Era Kolonial, Rahasia Kedai Kopi Apek Medan yang Tak Pernah Kehilangan Pelanggan
Adapun tempat usaha tersebut bernama Tip Top Bakery.
Tip Top Bakery menjadi saksi perjalanan Kota Medan selama hampir satu abad.
Meski telah melewati waktu yang cukup lama, tapi toko roti ini mampu bertahan dari gempuran zaman.
Banyak sejarawan menyebut, Tip Top sebagai representasi kuliner kolonial yang berhasil bertahan hingga era modern.
Sejarah Tip Top bermula ketika Jang Kie Yap membuka sebuah bakery sederhana di Jalan Pandu, Medan, pada 1929.
Tempat itu diberi nama Jangkie, mengikuti nama sang pendiri.
Baca juga: 7 Tempat Makan Non Halal di Kota Medan Batak Karo dan Chinese Antigagal
Lima tahun kemudian, tepatnya pada 1934, usaha tersebut dipindahkan ke kawasan Kesawan, yang saat itu merupakan pusat bisnis dan perdagangan Kota Medan.
Lalu, Jang Kie Yap pun berganti nama menjadi Tip Top.
Nama Tip Top dipilih karena bermakna "terbaik" atau "sempurna".
Namun perjalanan usaha ini tidak selalu mulus.
Saat pendudukan Jepang pada 1942–1945, penggunaan nama asing tidak diperbolehkan sehingga nama Tip Top kembali diganti menjadi Jangkie.
Setelah Indonesia merdeka, nama Tip Top kembali digunakan dan bertahan hingga sekarang.
Baca juga: 10 Tempat Makan Malam di Medan dengan Rating Tinggi, Cocok untuk Kuliner Bersama Keluarga
Keistimewaan Tip Top bukan hanya karena usianya yang tua, melainkan karena tempat ini masih mempertahankan banyak unsur aslinya.
Dalam jurnal "Restoran Tertua Tip Top: Representasi Kuliner Masa Kolonial di Kota Medan" karya arkeolog Eny Christyawaty dari Balai Arkeologi Sumatera Utara, dijelaskan bahwa Tip Top merupakan representasi kuliner masa kolonial karena masih mempertahankan bangunan, resep, cita rasa, hingga penggunaan peralatan lama yang digunakan sejak puluhan tahun silam.
Baca juga: 6 Tempat Makan Keluarga di Mal Kota Medan yang Sering Dikunjungi saat Momen Libur
Menurut penelitian tersebut, konsistensi itulah yang membuat Tip Top memiliki nilai sejarah yang sulit ditandingi restoran lain di Medan.
Penelitian itu juga menyebutkan bahwa Tip Top merupakan bagian penting dari sejarah perkembangan Kota Medan sebagai kota perkebunan internasional, ketika masyarakat Eropa, Tionghoa, Melayu, dan berbagai etnis lain bertemu melalui budaya kuliner.
Di balik etalase roti yang terlihat sederhana, terdapat satu fakta yang jarang diketahui pengunjung.
Hingga kini, sebagian proses pembuatan roti dan kue di Tip Top masih menggunakan tungku pembakaran tradisional berbahan bata yang telah digunakan sejak puluhan tahun lalu.
Tungku tersebut menghasilkan aroma khas yang sulit diperoleh dari oven modern.
Baca juga: 4 Tempat Makan Mie Bangladesh, Kuliner Medan yang Populer
Selain tungku lama, beberapa peralatan klasik seperti cetakan kue tradisional dan perlengkapan pembuat es krim juga masih dipertahankan.
Bagi pengelola, mempertahankan alat lama bukan sekadar menjaga tradisi, melainkan cara mempertahankan karakter rasa yang sudah dikenal pelanggan lintas generasi.
Berbeda dengan bakery modern yang didominasi roti bergaya Jepang atau Korea, Tip Top masih mempertahankan sejumlah roti dan kue warisan Eropa.
Beberapa di antaranya adalah Moorkop, roti berlapis cokelat dengan isian krim, Ontbijtkoek, kue rempah khas Belanda yang kaya kayu manis, pala, dan cengkih, serta Speculaas, biskuit rempah yang dahulu identik dengan tradisi masyarakat Belanda.
Baca juga: 9 Tempat Nongkrong Malam Minggu di Kota Medan yang Nyaman dan Ramah di Kantong
Menu-menu tersebut menjadi bukti bagaimana budaya kuliner kolonial berakulturasi dengan kekayaan rempah Nusantara dan tetap diminati hingga sekarang.
Bangunan yang Menjadi Museum Hidup
Bangunan bergaya kolonial di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kesawan, masih mempertahankan langit-langit tinggi, ventilasi besar, lantai lawas, serta deretan foto-foto sejarah yang menghiasi dinding.
Tidak sedikit wisatawan yang datang bukan hanya untuk membeli roti, tetapi juga menikmati suasana Medan tempo dulu.
Baca juga: Sarune Coffee & Eatery, Tempat Ngopi Kekinian di Karo, Sajikan Hamparan Kebun Lavender dan Sinabung
Di dalamnya, pengunjung dapat melihat dokumentasi perjalanan Tip Top sejak masih bernama Jangkie, foto-foto kawasan Kesawan pada masa kolonial, hingga jejak perkembangan Kota Medan yang tersimpan rapi di setiap sudut ruangan.
Selama hampir satu abad, Tip Top telah melewati masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, hingga era digital.
Sedikit tempat usaha di Medan yang mampu bertahan melewati begitu banyak perubahan zaman tanpa kehilangan identitasnya.
Baca juga: 10 Tempat Ngopi di Medan yang Wajib Dicoba, Dari Specialty Coffee hingga Kopitiam Legendaris
Kini, Tip Top bukan sekadar bakery atau restoran.
Tempat ini telah menjelma menjadi warisan budaya kuliner Kota Medan yang memperlihatkan bahwa sebuah resep, bangunan, dan tradisi dapat menjadi bagian penting dari memori sebuah kota.
Bagi pencinta sejarah maupun pemburu kuliner legendaris, menikmati sepotong roti di Tip Top bukan hanya soal rasa.
Setiap gigitan menyimpan kisah panjang tentang perjalanan Medan yang terus hidup, dari masa kolonial hingga Indonesia.(tribun-medan.com)