Tersisa 7 Tahanan Kabur Masih Dicari, Kapolres Kolaka Utara Minta Keluarga Bantu Proses Pencarian
Desi Triana Aswan July 03, 2026 01:50 PM

TRIBUNNEWSSULTRA, KENDARI - Kapolres Kolaka Utara (Kolut) AKBP Ritman Todoan Agung Gultom meminta pada pihak keluarga untuk turut membantu proses pencarian para tahanan kabur. 

Sebanyak 11 tahanan berhasil melarikan diri dari rumah tahanan (rutan) Polres Kolut, Sulawesi Tenggara (Sultra), Kamis (2/7/2026). 

Polisi langsung bergerak melakukan pencarian pada hari itu juga. 

Mereka sampai menyisir area pegunungan untuk menemukan para tahanan kabur. 

Hasilnya, empat dari 11 orang tahanan berhasil ditemukan. 

Kini tersisa tujuh tahanan lagi yang masih dicari. 

Kapolres Kolaka Utara AKBP Ritman Todoan Agung Gultom memastikan ketujuh tahanan ini segera ditangkap. 

Pencarian pun akan terus dilakukan secara maksimal. 

Baca juga: J Si Tahanan Kabur di Kolaka Utara Histeris di Rumah Persembunyian, Pelarian Berakhir Dibekuk Polisi

“Kami terus melakukan pengejaran, penyekatan, patroli, serta penyisiran di sejumlah wilayah," jelasnya.

Ia pun meminta bantuan keluarga yang mengetahui keberadaan para tahanan agar segera melaporkannya ke pihak kepolisian. 

"Kami mengimbau kepada keluarga maupun masyarakat yang mengetahui keberadaan para tahanan agar segera melapor kepada pihak kepolisian,” tegas Kapolres.

Terlebih ketika mengetahui keberadaan para tahanan, agar segera melapor ke pihak kepolisian. 

"Atau menghubungi Call Center Polri 110,” tegas Kapolres.

Siapa saja tujuh tahanan yang masih berada di luar tahanan Polres Kolaka Utara itu? 

Mereka adalah Nasruddin, Ilham, Irwan, Rama, Muh Idris, Paril dan Taslim. 

Mereka juga telah masuk dalam daftar pencarian polisi (DPO) usai kabur dari tahanan.

Kabur yang Terencana

Pelarian yang melibatkan 11 orang ini menuai perhatian lantaran metode yang digunakan tergolong terencana. 

Mereka berhasil melarikan diri pada Kamis (2/7/2026) dini hari.

Kapolres Kolaka Utara membantah spekulasi di media sosial yang menyebutkan para tahanan menggunakan gergaji besi untuk merusak teralis besi.

Berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), para tahanan justru memanfaatkan kelemahan struktur bilik jemuran—area yang berfungsi sebagai akses sirkulasi udara dan cahaya—untuk mencapai ventilasi bagian atas sel.

"Mereka bekerja sama membuat 'tangga manusia' dengan bantuan selang air yang tersedia di bilik tersebut. Setelah ventilasi jebol, mereka turun dari lantai dua menggunakan tali yang dirakit dari ikatan sarung," jelas Ritman. (*)

(TribunnewsSultra/Sugi Hartono)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.