180 Kasus TBC Terjadi di Sangihe Sejak Januari hingga Juni 2026, Kecamatan Tahuna Paling Tinggi
Alpen Martinus July 03, 2026 01:51 PM

TRIBUNMANADO.CO.ID,SANGIHE– Kasus Tuberkulosis (TBC) menjadi perhatian khsusus Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Pasalnya angka kasus TBC cukup tinggi.

Padahal saat ini baru memasuki Juli 2026.

Baca juga: Kasus TBC di Sangihe Capai 180 Orang dalam Enam Bulan, Dinkesda Perkuat Deteksi Dini dan Pengobatan

Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Kabupaten Kepulauan Sangihe mencatat sebanyak 180 kasus Tuberkulosis (TBC) selama periode Januari hingga Juni 2026. 

Penanganan sudah dilakukan oleh Dinkes Sangihe.

Meski angka temuan kasus meningkat, masyarakat diminta tidak khawatir karena penyakit tersebut dapat disembuhkan secara total apabila pasien menjalani pengobatan secara teratur hingga selesai.

Kepala Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Kepulauan Sangihe, dr Handry Pasandaran, menjelaskan bahwa peningkatan jumlah kasus yang ditemukan justru menunjukkan semakin optimalnya upaya deteksi dini yang dilakukan pemerintah melalui skrining kesehatan aktif di tengah masyarakat.

Penemuan kasus yang makin tinggi sebenarnya merupakan sinyal positif.

"Kalau dulu kita hanya menunggu pasien datang, sekarang melalui skrining dan program cek kesehatan gratis semakin banyak kasus yang bisa ditemukan lebih dini," ujar Handry saat diwawancarai, Jumat (3/7/2026).

Ia berharap semua pasien dapat diobati sampai tuntas sehingga mata rantai penularan bisa diputus

Berdasarkan data Dinkesda Kabupaten Kepulauan Sangihe, dari total 180 kasus TBC yang ditemukan, terdiri dari 105 pasien laki-laki, 71 pasien perempuan, serta 4 kasus Tuberkulosis Resistan Obat (TB RO).

Data tersebut menunjukkan penyebaran kasus hampir merata di seluruh wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Kecamatan Tahuna tercatat sebagai wilayah dengan jumlah kasus tertinggi yakni 25 kasus, disusul Manganitu 24 kasus, Tahuna Timur 22 kasus, Tamako 19 kasus, serta Enemawira dan Lapango (Manganitu Selatan) masing-masing 14 kasus.

Sementara itu, wilayah lainnya meliputi Tahuna Barat 12 kasus, Kalasuge 10 kasus, Kendahe dan Kuma masing-masing 8 kasus, Manalu 6 kasus, Salurang 5 kasus, Dagho dan Nusa masing-masing 4 kasus, Pintareng 3 kasus, serta Kahakitang dan Marore masing-masing 1 kasus.

Dari data yang ada, kasus TB RO ditemukan di beberapa wilayah yakni Puskesmas Tamako, Manganitu, Manente (Tahuna), dan Tona (Tahuna Timur) dengan total empat kasus.

Menurut Handry, tren penemuan kasus TBC di Sangihe terus mengalami peningkatan sejak tahun 2023 hingga 2025.

Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan keberhasilan pengobatan karena masih terdapat pasien yang menghentikan terapi sebelum selesai atau lost to follow up.

"Sebelumnya angka kesembuhan mencapai sekitar 95 persen, sekarang turun menjadi sekitar 87 persen. Ini menjadi pekerjaan rumah kami karena masih ada pasien yang putus berobat maupun meninggal dunia," jelasnya.

Ia menambahkan, standar nasional menetapkan angka keberhasilan pengobatan minimal 90 persen. Meski demikian, Dinkesda Sangihe menargetkan capaian yang lebih tinggi agar seluruh pasien yang menjalani terapi dapat sembuh.

"Target kami bukan hanya memenuhi standar nasional, tetapi sebisa mungkin seluruh pasien atau 100 persen bisa sembuh melalui pengobatan sesuai standar," tegasnya.

Untuk mempercepat upaya eliminasi TBC, Dinkesda Sangihe akan meluncurkan inovasi Santer TB (Sistem Akselerasi Nusantara Tangguh Eliminasi Tuberkulosis).

Program ini mengintegrasikan penemuan kasus secara aktif, skrining dini, pengobatan hingga tuntas, serta pemantauan kepatuhan pasien berbasis teknologi melalui fitur Electronic Directly Observed Treatment (E-DOT).

Melalui sistem tersebut, pasien diwajibkan mengunggah bukti saat mengonsumsi obat sehingga dapat dipantau secara elektronik oleh petugas kesehatan.

Langkah ini diharapkan mampu menekan angka pasien yang putus berobat sekaligus mempercepat penanganan apabila muncul efek samping selama masa terapi.

Selain penguatan sistem pengobatan, Dinkesda juga terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat dengan melibatkan tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, lembaga pendidikan, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Di setiap desa dan kelurahan bahkan telah dibentuk dua kader TBC yang membantu petugas kesehatan melakukan skrining, investigasi kontak erat, serta mengawasi kepatuhan pasien selama menjalani pengobatan.

Handry kembali menegaskan bahwa kedisiplinan pasien dalam menjalani terapi menjadi faktor utama keberhasilan penanganan penyakit tersebut.

"Pasien TBC bisa sembuh total jika menjalani pengobatan sesuai standar sampai selesai. Karena itu kami mengajak masyarakat untuk tidak takut memeriksakan diri apabila mengalami gejala, patuh menjalani pengobatan, dan bersama-sama mendukung target eliminasi tuberkulosis di Kabupaten Kepulauan Sangihe pada tahun 2030," pungkasnya. (EDU)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.