Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengingatkan perlunya langkah intervensi yang tepat untuk mengatasi angka anak tidak sekolah di Indonesia.

"Langkah nyata dan kolaborasi pihak-pihak terkait harus segera diambil untuk mengatasi angka anak tidak sekolah, selain langkah intervensi yang tepat," ucapnya dalam keterangan di Jakarta, Jumat.

Dia menjelaskan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah per 1 April 2026 mencatat bahwa sebanyak 3.966.858 anak usia sekolah belum mengakses pendidikan.

Jumlah itu terdiri atas 1.913.633 anak belum pernah sekolah, 986.755 anak putus sekolah, dan 1.066.470 anak lulus tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

"Angka ini alarm serius. Kita tidak bisa hanya berhenti pada data. Dibutuhkan langkah nyata dengan memanfaatkan data terkini agar intervensi yang dilakukan tepat sasaran," kata Lestari.

Menurut dia, upaya mengatasi angka tidak sekolah harus ditangani hingga menyentuh akar masalah. Ia mendorong kemauan politik para pemangku kepentingan serta optimalisasi pemanfaatan data anak tidak sekolah hingga tingkat desa.

"Dengan data akurat, bantuan seperti peralatan pembelajaran jarak jauh, Program Indonesia Pintar, dan beasiswa bisa tepat sasaran," ucapnya.

Anggota Komisi X DPR yang mengurusi bidang pendidikan itu juga mengatakan, program pendidikan kesetaraan nonformal, seperti paket A, B, dan C serta pendidikan vokasi keterampilan kerja harus menjadi prioritas.

Lulusan program tersebut, kata dia, perlu dibekali kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri dan kewirausahaan.

"Seluruh pemangku kepentingan di pusat dan daerah harus bergerak bersama. Saatnya memastikan tidak ada satu pun anak bangsa yang tertinggal dari layanan pendidikan," ucap Lestari.