TRIBUNMATARAMAN.COM, TRENGGALEK - Kabar membanggakan datang dari dunia seni dan kebudayaan Kabupaten Trenggalek. Salah satu sanggar seni lokal, 'Kridha Giri Manunggal' Trenggalek, berhasil lolos final dan masuk 10 terbaik di Festival Garudeya Mahambara 2026.
Ajang bergengsi tingkat Provinsi Jawa Timur ini diinisiasi langsung oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur.
Perhelatan ini sekaligus menjadi panggung terbuka bagi para seniman dari berbagai daerah untuk unjuk gigi.
Sutradara Sanggar 'Kridha Giri Manunggal' Trenggalek, Reshajaya, mengungkapkan rasa syukur dan bangganya atas pencapaian ini.
Baca juga: Update Seleksi 44 SDM Sekolah Rakyat Terintegrasi Trenggalek: Jawab Sanggah Seleksi Administrasi
Bersama timnya, mereka kini tengah mematangkan persiapan matang menjelang laga final.
"Kalau persiapan Festival Garudeya Mahambara ini, ya, pertama kemarin rembukan dengan teman seniman di area kota dan area Dongko," ujar Reshajaya saat dikonfirmasi, Jumat (3/7/2026).
Setelah melalui proses diskusi panjang, mereka memutuskan untuk memusatkan tempat latihan di Kecamatan Dongko. Langkah tersebut sengaja diambil bukan tanpa alasan yang kuat.
"Lalu kami memutuskan untuk tempat latihan dan lain-lain ada di Dongko. Di sana juga saya mempunyai misi bahwa dari anak-anak gunung dari Trenggalek ini juga mempunyai potensi besar di ajang tingkat provinsi," ulasnya.
Pemilihan lokasi latihan dan rekrutmen talenta dari wilayah pegunungan ini juga menyiratkan identitas mendalam dari sanggar itu sendiri.
Jaya menceritakan esensi sanggar mereka memang berakar dari sana.
"Karena dari nama kita sendiri, 'Kridha Giri Manunggal' diambil dari para prajurit pegunungan yang bersatu," imbuhnya.
Ia menambahkan, setelah kesepakatan jadwal latihan terbentuk, pihaknya langsung bergerak cepat untuk menjaring para talenta lokal setempat.
Mayoritas personel didominasi oleh generasi muda asli Kecamatan Dongko.
"Usai rembukan kita atur jadwal latihan dan cari talent-nya. 90 persen dari teman-teman Dongko. Saya memang ingin mengembangkan potensi dari sana juga," tuturnya.
Dalam ajang ini, 'Kridha Giri Manunggal' akan memboyong sekitar 20 personel, yang rata-rata statusnya masih aktif sebagai pelajar.
Jaya memutar otak agar materi yang ditampilkan mampu merepresentasikan keautentikan Kabupaten Trenggalek dengan topik utama 'Garudeya'.
"Untuk tari atau lakon yang ditampilkan sebenarnya Festival Garudeya Mahambara ini disarankan topik Garudeya yang memiliki beberapa unsur, ada spirit, lalu berdaulat, pembebasan," jelasnya.
Guna memenuhi pakem tersebut, Jaka memilih untuk mengangkat kesenian asli Trenggalek yang telah melegenda, yakni Turonggoyakso.
"Lalu saya mengambil, ini kan harus ada yang melekat di daerah masing-masing, jadi kemarin saya mengangkat kita mempunyai cerita dari Turonggoyakso yang saya kembangkan kemudian ada Garudeya seperti itu," urainya.
Dalam alur cerita pertunjukan, posisi Garudeya ditempatkan sebagai sosok pengatur tatanan masyarakat yang ada di Kabupaten Trenggalek.
Pria yang juga sebagai koreografer dan komposer ini mengaku konflik dimulai ketika masyarakat mulai kehilangan rasa syukur, hingga memicu datangnya malapetaka atau pagebluk.
Menurutnya, hilangnya rasa syukur masyarakat adanya pagebluk atau bencana, itu dari ulah masyarakat sendiri.
"Dari segi Garudeya-nya yang membikin pagebluk ini adalah kurang rasa syukur masyarakat atau penduduk sekitar," sebutnya.
Untuk memberikan hukuman dan pelajaran, Garudeya kemudian mengutus pasukannya yang disimbolkan melalui karakter barongan dan celeng. Keadaan semakin memburuk lantaran hilangnya Dewi Sri selaku dewi kesuburan.
"Lalu, di masyarakat sendiri percaya ada dewa kesuburan yaitu Dewi Sri. Ketiadaan Dewi Sri membuat pagebluk terjadi, karena tanah dan tanaman tidak subur. Karena Dewi Sri sudah diculik oleh barongan," ulasnya.
Jaya mengulas di situasi genting, masyarakat yang menderita lantas memohon pertolongan kepada Garudeya. Di sinilah letak kejutan cerita atau plot twist yang disiapkan oleh tim produksi.
"Masyarakat tetap meminta tolong ke Garudeya. Lalu, plot twist-nya ternyata Garudeya sendiri yang membuat prahara tersebut," ungkapnya.
Melalui karya ini, Jaka menegaskan ada pesan moral mendalam yang relevan dengan kehidupan masa kini. Pertunjukan ini bukan sekadar hiburan visual semata.
Yaitu diambil dari keautentikannya, pertama dari ceritanya mengambil cerita dari Turonggoyakso. Lalu dikembangkan ke realita sehari-hari di masyarakat.
"Ini yang menggambarkan makhluk hidup harus bisa mengendalikan hawa nafsunya sendiri," tegasnya.
Keautentikan tersebut diperkuat pula lewat tata musik dan kostum penari. Dari segi musikalitas, aransemen dirancang kental dengan nuansa Mataraman, yang menjadi rumpun kebudayaan Trenggalek di Jawa Timur.
"Kalau dari segi musik, saya mengambil musik-musik Mataraman, dan arek Trenggalek sendiri merupakan bagian dari Mataraman dan merupakan bagian dari Jawa Timur," paparnya.
Sementara untuk kostum dan properti, mereka menyematkan komoditas unggulan bumi Trenggalek. Detail-detail kecil digarap serius untuk mempertegas identitas wilayah geografis asal mereka.
Lalu untuk segi musik pendukung dan properti kostum, Jaka mengambil ada yang di Kabupaten Trenggalek.
Seperti motif-motif yang ada di kostum, seperti juga ada motif cengkeh.
"Lalu ada gunungan, saya beri tumbuhan asli karena agar menunjukkan ini properti gunung," bebernya.
Di balik prestasi mentereng menembus babak final tingkat provinsi, Jaka menyisipkan harapan besar bagi keberlangsungan ekosistem seni di daerahnya.
Ia mengakui, perjuangan menembus final diraih lewat pengorbanan finansial secara mandiri.
"Dalam festival ini harapannya lebih ke kesadaran atau semangat seniman di Trenggalek mungkin perlu sangat-sangat didorong," harapnya.
Menurut Jaya, kota-kota lain berani menggelontorkan anggaran yang besar untuk mendukung komunitas seni mereka.
Sementara di Trenggalek, dorongan stimulan semacam itu masih sangat minim.
"Yang mungkin itu biaya kolektif sendiri, mungkin harus ada motivasi dan dukungan yang itu bersifat stimulan atau apa, yang itu juga sangat mendorong potensi seniman-seniman yang ada di Trenggalek," tambahnya.
Beliau blak-blakan membeberkan seluruh akomodasi dan produksi awal ini ditopang secara swadaya bersama seluruh anggota tim yang terlibat.
"Karena saya sendiri berangkat dengan teman kami biaya kolektif. Ibaratnya iya sudah ayo, kita berangkat dulu, nanti kalau di sana insyaallah Pemerintah pasti akan ikut andil, kasarnya seperti itu," imbuhnya.
Kendati harus terseok-seok dari segi anggaran, semangat anak-anak muda pegunungan Trenggalek ini tidak surut sedikit pun demi mengharumkan nama daerah di kancah Jawa Timur.
Jaya berharap kedepan untuk tim akan lebih semangat. Tujuannya tidak lain selain melestarikan budaya juga berjuang berdarah-darah membawa nama besar Trenggalek.
Ditanya memilih mengambil judul di karya ini karena Antrahing Jalma antara sesama manusia di tanah Jawa harus saling rendah hati.
"Jadi kita sebagai manusia juga harus sawang sinawang. Saling melihat secara bijak dan andap asor artinya rendah hati, harus eling atau ingat dan ngelingi atau mengingatkan," tutupnya.
Karya yang sarat makna ini diberi judul 'Antrahing Jalma' berikut sinopsis singkat :
Antrahing Jalma
Bumi mendadak senyap dari berkah. Sang perlambang rahim bumi dan dirgantara kesuburan, telah lenyap dari rengkuhan semesta. Namun, tak banyak yang tahu bahwa petaka ini adalah bagian dari skenario agung yang dirancang oleh Garudeya—sebuah ujian semesta untuk menguji keteguhan hati manusia.
Teluk Gambuh, akhirnya bertemu dengan Sang Agung Garudeya sebagai ujung dari rencana besar yang dibuatnya. Garudeya menganugerahkan seutas pecut sakti sebagai kunci pembebasan.
Kini, manusia harus melakoni takdir yang telah digariskan, bertarung mencambuk runtuh keangkuhan Barongan demi menjemput kembali berkah kehidupan yang hilang.
(Madchan Jazuli/TribunMataraman.com)