Kisah Bos Tahu di Palembang yang Bangkrut dari Bisnis Ayam, Ko Ateng Memulai dari Tempat 3 x 3 meter
Refly Permana July 03, 2026 10:27 PM

 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Kesuksesan usaha tahu yang kini dijalankan Ateng Ju (55) tidak diraih dalam waktu singkat.

Di balik usahanya yang mampu memproduksi sekitar setengah ton tahu setiap hari, tersimpan perjalanan hidup penuh perjuangan, mulai dari menjadi karyawan toko sembako, mengalami kebangkrutan, hingga akhirnya bangkit membangun usaha dari nol.

Pria yang akrab disapa Ko Ateng itu mengenang awal perjalanan hidupnya ketika merantau ke Kabupaten Lahat pada 1990. Saat itu ia bekerja di sebuah toko sembako dengan gaji Rp40 ribu per bulan.

Meski penghasilannya sangat terbatas, ia tetap bekerja dengan tekun. Setiap hari aktivitasnya dimulai sejak pukul 04.00 WIB hingga sekitar pukul 11.00 WIB.

"Waktu itu saya bekerja di toko sembako. Dari subuh sudah mulai beraktivitas sampai jam 11.00. Semua dijalani dengan sabar karena memang ingin belajar dan mencari pengalaman," ujar Ko Ateng saat ditemui Sripoku.com di kediamannya di Jalan Putri Rambut Selako, Kelurahan Bukit Lama, Kecamatan Ilir Barat I, Palembang, beberapa waktu lalu.

Setelah beberapa tahun bekerja, Ko Ateng kembali ke Palembang dan mencoba membuka usaha peternakan ayam di kawasan Kenten Laut pada 1992. Namun usaha tersebut tidak bertahan lama hingga akhirnya bangkrut.

Baca juga: Kisah Branch Business Manager BNI Musi Palembang, Cita-cita Jadi Dokter tapi Sukses Jadi Banker

Kegagalan itu membuatnya kembali ke rumah orang tua. Di sanalah ia melihat peluang baru. Orang tuanya telah lama menekuni usaha pembuatan tahu dan keterampilan itulah yang kemudian dipelajarinya.

Pada 1995, Ko Ateng mulai memproduksi tahu secara sederhana. Modalnya terbatas. Tempat produksi hanya berukuran sekitar 3 x 3 meter dengan bahan baku lima kilogram kedelai per hari. Seluruh proses produksi dilakukan bersama istri dan anggota keluarga tanpa mempekerjakan karyawan.

Perjuangan menjual tahu juga tidak mudah. Setiap dini hari ia membawa hasil produksinya ke kawasan Pasar 16 Ilir dan bawah Jembatan Ampera.

"Awalnya saya membawa dua ember tahu untuk dijual. Yang laku hanya sedikit, sisanya dibawa pulang lalu dijual lagi keesokan harinya," kenangnya.

Ko Ateng mengatakan sejak awal dirinya memilih mempertahankan kualitas produk dengan tidak menggunakan bahan pengawet. Garam menjadi satu-satunya bahan tambahan yang digunakan dalam proses pembuatan tahu.

Menurutnya, kesabaran dan konsistensi menjadi kunci utama bertahan menjalankan usaha. Tanggung jawab menghidupi lima anak juga menjadi penyemangat untuk terus bekerja keras meski berbagai tantangan datang silih berganti.

Usaha yang dirintis selama lebih dari 30 tahun itu kini berkembang pesat. Produksi tahu miliknya mencapai sekitar setengah ton per hari dan dipasarkan ke berbagai pasar tradisional di Kota Palembang serta daerah sekitarnya.

Selain itu, usahanya juga menjadi salah satu pemasok tahu untuk sejumlah dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Di tengah fluktuasi harga kedelai impor yang dipengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, Ko Ateng mengaku tetap berusaha mempertahankan usahanya. Harga tahu yang diproduksi dijual mulai Rp500,00 hingga Rp1.000,00 per potong sesuai ukuran.

Bagi Ko Ateng, setiap usaha membutuhkan proses panjang. Karena itu ia berpesan kepada generasi muda agar tidak takut memulai usaha dari bawah.

"Kalau punya niat dan tekad yang kuat, jangan takut memulai usaha dari bawah. Jalani dengan sungguh-sungguh, terus berusaha dan berdoa. Yang penting jangan mudah menyerah," ujarnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.