Trik Ketua Pimcab Fatayat NU Banjar Jalankan Organisasi, Fatimah: Pemimpin Bukanlah Bos
M.Risman Noor July 03, 2026 10:52 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BPOST- Selain bekerja sebagai guru, wanita satu ini juga penggerak organisasi.

Hebatnya, ia mampu membawa organisasi yang awalnya satu dekade vakum menjadi aktif dan berkembang. 

Fatimah yang tinggal di Jl Kramat Raya Indrasari, Martapura, Kabupaten Banjar, adalah Ketua Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Kabupaten Banjar.

Sebagai ketua, ia cukup lama bertahan dan kini organisasi tersebut sudah masuk dalam GOW (Gabungan Organisasi Wanita).

Baca juga: Petani Pandahan Tanahlaut Kini Punya Peta Drainase Sawah, Hasil Pendampingan Tim Pengabdian Kampus 

Baca juga: SPMB SD di Tapin Dipantau BPMP, Sekolah Sepi Pendaftar Gencarkan Sosialisasi ke TK 

Perlu diketahui, Fatayat NU adalah salah satu badan otonom di bawah naungan Nahdlatul Ulama yang mewadahi perempuan muda muslimah berusia maksimal 40 tahun.

Organisasi ini fokus pada isu-isu sosial, pendidikan, pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, dan dakwah Islam yang moderat.

Fatimah dikenal sebagai pemimpin yang tidak memiliki rasa iri kepada angotanya, bahkan men-support kader-kader untuk terbang bebas dan bergerilya, menjadi wanita tangguh dan idealis serta energik, juga memiliki sudut pandang luar biasa, dan menjadi panutan wanita abad ini.

“Filosofi yang saya pegang adalah menjadi seorang pemimpin itu bukanlah  bos. Pemimpin iyu mau bergerak untuk anggota, bukan bos yang hanya memberi perintah pada anggota. Bagi saya pemimpin itu merangkul dan bersinegri dengan anggota agar organisasi menjadi lebih baik lagi,” katanya.

Motivasi Fatimah, sebagai ketua adalah meneruskan dan mengemban tugas untuk wanita dan umat.

Dan supaya organisasi lebih aktif, strateginya adalah memilih rekan yang sejalan dan berusaha bersinergi dengan pemerintah setempat untuk mencapai tujuan dalam program organisasi.

Tapi diakuinya, ada tantangan dalam berorganisasi, yaitu banyak anggota akan semakin banyak pemikiran dengan pola pikir yang berbeda. Meski demikian, kata Fatimah, pendapat boleh berbeda, tapi harus tetap satu tujuan .

“Segala perbedaan bisa diselesaikan dengan musyawarah dan saling memahami. Tidak ada keegoisan, apalagi seorang pemimpin tidak bisa membawa ego agar wajib dipatuhi,” katanya.

Pemimpin harus bisa mendengar apapun pendapat anggota dan memikirkannya, sampai mendapat kesepakatan yang sama.

Momen paling berkesan bagi Fatimah adalah kebersamaan dengan anggota, berjuang bersama,suka duka dilalui Bersama. Itulah yang menjadi momen bersejarah bangkitnya Fatayat Kabupaten Banjar sekarang.

“Saya harap Fatayat akan terus pada komitmennya untuk umat, untuk perempuan, berjuang untuk semua, “ tandas Fatimah. (banjarmasinpost.co.id/salmah saurin)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.