Pesawat Negosiator Iran Sempat Jadi Target Penghancuran, Laporan NYT Ungkap Dugaan Rencana Israel
Malvyandie Haryadi July 03, 2026 11:38 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perjalanan pulang delegasi tinggi Iran dari Pakistan pada musim semi lalu ternyata menyimpan ketegangan yang selama ini tak diketahui publik.

Pesawat yang membawa Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi bahkan terpaksa melakukan pendaratan darurat setelah sistem radar mendeteksi keberadaan jet tempur Israel di wilayah udara Iran.

Insiden tersebut kini mendapat sorotan baru setelah The New York Times menerbitkan laporan yang mengungkap dugaan bahwa Israel sempat merencanakan pembunuhan terhadap dua pejabat senior Iran itu.

Laporan tersebut menyebut operasi tersebut nyaris dijalankan di tengah berlangsungnya perundingan sensitif antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Mengutip laporan The New York Times, pemerintah AS saat itu justru berupaya menggagalkan rencana tersebut. Washington disebut khawatir pembunuhan terhadap dua tokoh penting Iran akan langsung meruntuhkan jalur diplomasi yang sedang dibangun dengan Teheran.

Laporan itu menyebut pemerintahan Presiden Donald Trump mengetahui bahwa Ghalibaf masuk dalam daftar target Israel. Karena itu, AS disebut meminta pemerintah Israel menahan diri agar operasi tersebut tidak dilaksanakan.

Di sisi lain, Iran juga menyadari tingginya ancaman terhadap para pejabat yang terlibat dalam proses diplomasi.

Karena alasan itu, Teheran meminta jaminan keamanan bagi para negosiatornya selama menjalankan misi luar negeri.

Langkah pengamanan terlihat ketika delegasi Iran yang beranggotakan lebih dari 70 pejabat melakukan kunjungan ke Islamabad.

Menurut laporan tersebut, rombongan itu dikawal jet tempur Pakistan sepanjang perjalanan menuju ibu kota Pakistan.

Namun situasi berubah saat rombongan hendak kembali ke Iran.

Radar dilaporkan mendeteksi keberadaan pesawat tempur Israel yang memasuki wilayah udara Iran, sehingga pesawat yang membawa Ghalibaf dan Araghchi memutuskan melakukan pendaratan darurat di Kota Mashhad.

Setelah mendarat, kedua pejabat bersama delegasi lainnya tidak lagi melanjutkan perjalanan menggunakan pesawat. Mereka memilih meneruskan perjalanan menuju Teheran melalui jalur darat sebagai langkah pengamanan.

Menurut The New York Times, rangkaian peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa ancaman terhadap para negosiator Iran bukan sekadar kekhawatiran diplomatik, melainkan telah berkembang menjadi risiko keamanan yang nyata.

Laporan itu juga menyebut pemerintah Iran kini menerapkan langkah pengamanan yang jauh lebih ketat terhadap para pejabat seniornya. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan operasi serupa di masa mendatang.

Sementara itu, Kedutaan Besar Israel di Washington menolak memberikan komentar terkait isi laporan tersebut.

Di sisi lain, media The Cradle melaporkan bahwa pemerintah Israel sebelumnya juga disebut mendorong Washington untuk melanjutkan operasi militer terhadap Iran, termasuk dengan menyerang infrastruktur energi negara tersebut.

Laporan itu menambahkan bahwa Israel disebut pernah menjadikan tokoh-tokoh penting Iran sebagai sasaran operasi dalam konflik sebelumnya.

Di antaranya adalah pejabat senior Ali Larijani serta penasihat kebijakan luar negeri Kamal Kharazi.

Jika laporan The New York Times tersebut akurat, insiden pendaratan darurat di Mashhad tidak lagi dipandang sebagai gangguan penerbangan biasa.

Peristiwa itu menjadi gambaran bagaimana jalur diplomasi antara AS dan Iran berlangsung di bawah bayang-bayang operasi militer dan intelijen yang berpotensi memicu eskalasi baru di Timur Tengah.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.