Nusra Youth Day III di Maumere, Romo Yudel: OMK Dipanggil Menjadi Pewarta Kebaikan di Era Digital
Nofri Fuka July 04, 2026 01:47 AM

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE – Perjalanan panjang melalui laut, ziarah ke tempat-tempat bersejarah, hingga semarak parade budaya menjadi pengalaman spiritual yang membekas bagi Romo Yudel Neno. 

Sekretaris Komisi Kepemudaan Keuskupan Atambua itu turut mendampingi 20 Orang Muda Katolik (OMK) mengikuti Nusra Youth Day (NYD) III di Keuskupan Maumere.

Bagi Romo Yudel, perjalanan menuju Maumere bukan sekadar perpindahan dari satu kota ke kota lain. Perjalanan itu menjadi ruang untuk mengalami iman, persaudaraan dan sukacita bersama kaum muda Katolik dari sembilan keuskupan se-Regio Nusra-Bali.

"Kami berangkat bersama rombongan Keuskupan Atambua menggunakan kapal feri, kemudian tiba di Larantuka. Di sana kami melakukan ziarah dan merasakan antusiasme umat yang begitu luar biasa. Situs-situs rohani di Larantuka menghadirkan pengalaman iman yang sangat kuat dengan kekayaan budaya yang begitu terasa," ungkapnya saat diwawancarai di Stadion Gelora Samador Maumere, 4 Juli 2026 malam.

 

Baca juga: Ziarah Kreatif Peserta NYD di Watu Krus, Camat Bola: Desa Watu Krus Belum Sempurna

 

 

Perjalanan iman tersebut pun berlanjut menuju Maumere. Kata RD Yudel, tiba di kota Maumere, rombongan dari Keuskupan Atambua disambut hangat oleh panitia dan masyarakat setempat.

Menurut Romo Yudel, keramahan umat, kerja sama panitia, Keuskupan Maumere serta dukungan pemerintah daerah menghadirkan suasana penuh sukacita sejak awal kegiatan.

"Kolaborasi yang luar biasa ini membuat seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan baik. Kami mengikuti misa pembukaan di Gelora Samador dan merasakan semangat persaudaraan yang begitu kuat," katanya.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah kegiatan ziarah kreatif. Para peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk mengunjungi berbagai destinasi rohani dan sejarah di Keuskupan Maumere, mulai dari Gereja Tua Sikka, Lela, Sanctuarium, Gua Maria, Patung Nilo, Patung Betlehem hingga menikmati keindahan pantai-pantai di Maumere.

Menurutnya, perjalanan itu mengajarkan bahwa kedewasaan rohani tidak lahir secara instan, melainkan melalui pengalaman, perjumpaan dan persaudaraan.

"Tempat-tempat ini mengajarkan kepada OMK bahwa pertumbuhan iman membutuhkan pengalaman nyata yang ditempuh melalui perjumpaan dan kebersamaan," ujarnya.

Di tengah kemeriahan NYD III, Romo Yudel juga melihat satu kekuatan besar yang dimiliki generasi muda saat ini, yakni kemampuan memanfaatkan media digital sebagai sarana pewartaan.

Ia mengingatkan bahwa di tengah derasnya arus informasi di media sosial, orang muda memiliki tanggung jawab menghadirkan narasi positif yang mampu melawan hoaks dan berbagai konten negatif.

"Saya melihat sejak hari pertama hingga sekarang, kontribusi orang muda dalam menyiarkan kegiatan ini melalui berbagai platform digital sangat berdampak. Setiap unggahan mampu menjangkau banyak orang dan memperkenalkan kegiatan rohani ini kepada masyarakat luas. Ini menjadi narasi tandingan untuk melawan hoaks dan informasi yang tidak benar," tuturnya.

Bagi Romo Yudel, pewartaan tidak selalu dilakukan dari mimbar. Sebuah unggahan yang menginspirasi di media sosial pun dapat menjadi bentuk evangelisasi di zaman sekarang.

"Sukacita dapat dimulai dari diri kita masing-masing. Cukup mempublikasikan satu hal positif, kita sudah melakukan kebaikan sekaligus mewartakan kasih Allah kepada banyak orang, termasuk mereka yang tidak hadir dalam kegiatan ini tetapi dapat mengikutinya melalui media sosial," katanya.

Ia kembali mengingat pesan yang disampaikan Uskup Maumere serta Ketua Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr. Max Regus, bahwa orang muda Katolik harus menjadi garda terdepan, baik di dunia nyata maupun di ruang digital.

"Bukan sekadar yang penting posting, tetapi postinglah yang penting. Artinya, setiap publikasi harus membawa manfaat, menghadirkan kebaikan, dan menjadi pewartaan tentang kasih Allah. Itulah semangat yang harus dibawa oleh orang muda Katolik," tegasnya.

Menutup refleksinya, Romo Yudel berharap pengalaman mengikuti Nusra Youth Day III menjadi titik awal lahirnya generasi muda Katolik yang semakin berani bergerak, berkarya, dan menjadi pembawa harapan bagi Gereja maupun masyarakat.

"Kesempatan ini harus semakin mendorong orang muda untuk terus bergerak maju, menjadi saksi sukacita Injil, serta menghadirkan persaudaraan dan kebaikan di mana pun mereka berada."

Umat Keuskupan Maumere Bangga

Sebanyak ratusan peserta NYD bersama Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus, perwakilan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), serta para imam, hadir dan disambut hangat oleh umat serta Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Ili.

Kedatangan peserta disambut dengan sapaan adat, pengalungan selendang, serta pemberkatan oleh RD. Florianus Goleng. Suasana semakin meriah dengan tarian tradisional Papak dan iringan musik Gong Waning. 

Para peserta juga disuguhi kuliner lokal seperti ubi roset, sayur daun singkong, ikan teri saus tomat, serta olahan pisang dan ubi.

Tokoh masyarakat Kampung Ili, Herman Yosep, mengatakan kunjungan peserta NYD menjadi momentum penting untuk memperkenalkan Paroki Ili sebagai salah satu paroki tertua di wilayah Maumere.

“Dengan kehadiran mereka ini bisa bercerita kepada orang lain, bahwa di Keuskupan Maumere ada paroki tua,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Paroki Ili berdiri sejak 1921 dan kini telah berusia 105 tahun, sementara Gereja Hati Yesus Yang Maha Kudus dibangun pada 1941 dan rampung pada 1942. 

Gereja tersebut merupakan salah satu bangunan bersejarah dengan perpaduan arsitektur khas, termasuk dinding batu dan ornamen kaca bernuansa klasik.

Selain menjadi lokasi kunjungan rohani, kegiatan NYD di Paroki Ili juga mempererat hubungan budaya dan iman antara peserta dengan umat setempat melalui berbagai pertunjukan seni dan tradisi lokal.

Kunjungi Beberapa Situs Rohani 

Untuk diketahui, dalam ziarah kreatif 4 Juli 2026, peserta mengunjungi sejumlah lokasi yang memiliki nilai historis dan spiritual mendalam. 

Kelompok pertama menuju Taman Doa Maria Bunda Segala Bangsa di Desa Wuliwutik, serta Gereja Tua Sikka bangunan bersejarah dari tahun 1896 yang arsitekturnya mengadopsi desain Katedral Jakarta. 

Perjalanan berlanjut ke Wisung Fatima Lela, pusat pelayanan rohani di wilayah Lela. Rangkaian ditutup Misa yang dipimpin Uskup Larantuka Mgr. Hans Monteiro, disusul sesi "Ngopi" (Ngobrol Pintar).
 
Kelompok kedua mengunjungi Replika Kota Betlehem di Nele yang terletak di perbukitan, serta Gereja Paroki Ili. Puncak ziarah di kelompok ini adalah situs Watu Krus (Batu Salib) di Bola, tempat di mana jejak sejarah kedatangan bangsa Portugis dan awal penyebaran iman Katolik di wilayah ini. 

Kegiatan ditutup dengan dialog bersama Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus dan Misa di Gereja Paroki Bola.

Kelompok ketiga bergerak ke sisi utara Sikka mengunjungi Patung Kristus Raja Maumere, situs ikonik yang diberkati oleh Paus Yohanes Paulus II pada 1989. 

Rombongan juga menyambangi Gua Maria Watu Ewa di Magepanda. Misa dipimpin langsung oleh Uskup Agung Ende Mgr. Paul Budi Kleden.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.