Oleh: Fr. Stefan Bandar, RCJ *
Benarkah cinta pertama akan selalu menemukan jalan pulang?
Barangkali:
ia tak pernah benar-benar pergi, hanya berdiam dalam ruang paling sunyi di hati, menjadi kenangan yang sesekali mengetuk saat hujan turun, saat lagu lama diputar, atau ketika semesta tiba-tiba menghadirkan seseorang yang pernah begitu berarti.
Kembali pada tahun 2013.
Saat masih mengenakan seragam putih biru, dengan mimpi-mimpi yang terlalu polos untuk mengerti bahwa hidup bisa memisahkan dua orang tanpa memberi kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal.
Baca juga: Opini: Menerjemahkan Berjalan Bersama Menjadi Aksi Nyata
Hari pertama masuk sekolah.
Di tengah hiruk-pikuk murid baru yang saling memperkenalkan diri, mataku berhenti pada satu sosok.
Menatapmu, seolah dunia meredam seluruh suara, menyisakan detak jantung yang tiba-tiba lupa caranya berdetak dengan tenang.
Barangkali benar.
Ada cinta yang tidak lahir karena waktu, melainkan karena satu tatapan yang menetap terlalu lama.
Sejak hari itu, aku mencintaimu dalam diam.
Aku menjadi seseorang yang selalu mencari alasan untuk melewati kelasmu, memperpanjang langkah di koridor hanya agar sempat melihatmu meski beberapa detik.
Aku menghafal senyumanmu, caramu berbicara, bahkan kebiasaan kecil yang mungkin tak pernah engkau sadari.
Dan setiap kali pandangan tanpa sengaja bertemu, aku merasa semesta sedang berpihak padaku.
Meski hanya sesaat.
Meski setelahnya kita kembali menjadi dua orang asing yang tak pernah saling menyapa.
Aku tak pernah memiliki keberanian untuk mengatakan bahwa namamu diam-diam memenuhi setiap doaku.
Bagiku, mencintaimu dari kejauhan sudah terasa seperti memiliki seluruh langit.
Namun, hidup selalu pandai mengubah cerita sebelum sempat mencapai halaman yang paling indah.
Aku kembali ke kampung halaman, meninggalkan sekolah itu, meninggalkanmu tanpa pernah tahu bahwa aku pernah menyayangimu sedalam itu.
Hari itu terasa seperti musim gugur yang datang terlalu cepat. Satu per satu harapan gugur bersama jarak yang mulai membentang.
Sejak saat itu, kita dipisahkan oleh keadaan, oleh waktu, oleh kehidupan yang terus berjalan tanpa menunggu siapa pun.
Namun di antara jarak itu, aku terus mencarimu.
Di antara nama-nama yang muncul di media sosial.
Di antara cerita teman-teman lama.
Di setiap kemungkinan yang terasa begitu kecil namun tetap ingin kupercaya.
Kadang aku menemukan jejakmu.
Kadang aku kehilanganmu lagi.
Begitulah bertahun-tahun berlalu.
Pencarian itu perlahan berubah menjadi kebiasaan. Lalu menjadi doa. Dan akhirnya menjadi rindu yang belajar hidup tanpa kepastian.
Waktu memang mengajarkan banyak hal. Ia mengajariku bahwa tidak semua penantian akan berakhir pada pelukan. Tidak semua cinta akan menemukan rumahnya.
Sedikit demi sedikit, perasaanku mulai memudar. Bukan karena aku berhenti mencintaimu, tetapi karena hidup memaksaku untuk terus berjalan.
Namun, anehnya...
Di sudut hati yang paling dalam, selalu ada ruang yang tetap menyimpan namamu. Seperti bunga yang telah layu, tetapi masih meninggalkan harum yang tak sanggup dihapus musim.
Tahun 2026.
Aku melihatmu lagi.
Waktu yang selama ini terus berlari, seolah memilih berhenti untuk beberapa detik.
"Datanglah ke pernikahanku bulan depan".
Kau mengatakannya dengan bangga.
Ada yang berubah!
Wajahmu tak lagi sama seperti remaja yang dulu membuatku jatuh cinta. Ada jejak kedewasaan, ada lelah yang tak pernah kukenal, ada cerita yang ditulis kehidupan di balik matamu. Begitu juga denganku.
Akkhhhhh,,,,,
Kita bukan lagi dua anak SMP penuh kepolosan. Kita telah tumbuh menjadi dua manusia yang membawa luka, harapan, dan perjalanan masing-masing.
Aku ingin mengatakan begitu banyak hal. Tentang bagaimana namamu pernah menjadi alasanku berdoa.
Tentang bagaimana aku pernah mencari wajahmu di antara ribuan manusia.
Tentang bagaimana ada seseorang yang selama bertahun-tahun tak pernah benar-benar berhasil melupakanmu.
Namun semua kata itu berhenti di ujung bibir. Karena akhirnya aku sadar bahwa ada cinta yang memang terlalu indah untuk dimiliki. Ia hanya ingin dikenang.
Kita berdiri di persimpangan dua jalan hidup yang berbeda. Memandang satu sama lain dengan senyum yang menyembunyikan ribuan kalimat yang tak pernah sempat lahir.
Tak ada air mata.
Tak ada pelukan.
Tak ada kata "andai".
Hanya ada keheningan yang terasa jauh lebih jujur daripada percakapan apa pun.
Saat itu aku memahami satu hal yang selama bertahun-tahun gagal kupahami: Cinta pertama bukan tentang siapa yang akhirnya menggenggam tangan kita.
Cinta pertama adalah seseorang yang diam-diam mengajarkan bahwa hati mampu mencintai sedalam itu, meski tak pernah memiliki.
Dan mungkin,
Di kehidupan ini, kita memang bukan akhir dari kisah satu sama lain.
Kita hanyalah dua orang yang dipertemukan semesta pada waktu yang indah, dipisahkan oleh takdir, lalu dipertemukan kembali.
Barangkali benar,
Beberapa cinta memang diciptakan bukan untuk bersatu, melainkan untuk hidup abadi sebagai kenangan.
Kini aku tak lagi melangkah menuju arahmu. Aku memilih berdiam dalam doa, menyebut namamu lirih dari balik jubah putih yang masih baru.
Jika dahulu aku berharap dapat menggenggam tanganmu, kini aku hanya berharap Tuhan senantiasa menggenggam hidupmu.
Sebab cintaku tak lagi mencari jalan untuk memilikimu, melainkan telah belajar mengasihimu dalam doa.
Do you believe that FIRST LOVE is everlasting? (*)
*) Stefan Bandar adalah seorang penulis dan penggemar karya sastra. Tinggal di Manila, Filipina.