TRIBUNNEWS.COM - Perkembangan teknologi informasi saat ini telah mengubah lanskap industri media secara drastis. Terutama ketika media sosial kini menjadi rujukan utama masyarakat untuk mencari informasi.
Kehadiran media sosial yang begitu masif nyatanya telah memberikan tantangan besar bagi media mainstream, baik itu media siber, televisi, maupun cetak.
Situasi ini kemudian menuntut pelaku industri media untuk bergerak cepat dan adaptif agar tidak tergilas oleh zaman.
Founder dan Komisaris Kumparan Arifin Asydhad mengakui, perubahan teknologi informasi memang berimbas pada kondisi media mainstream saat ini yang dinilainya sedang tidak baik-baik saja.
Menurut Arifin media mainstream kini tengah mengalami tekanan yang luar biasa, baik dari faktor eksternal maupun internal.
Kehadiran media sosial juga turut berpengaruh terhadap tekanan tersebut. Ditambah lagi dengan belum adanya regulasi yang memperketat penggunaan serta penyebaran informasi yang sangat bebas di media sosial.
"Saya kira teman-teman harus paham bahwa saat ini memang kondisi media itu tidak baik baik saja. Semakin banyak masalah. Baik itu memang kaitannya dengan perubahan teknologi informasi yang terjadi, ataupun memang kendala di internal kita. Ya di internal kita sampai sekarang yang masih jadi masalah itu kan."
"Nah belum ada regulasi yang signifikan buat kita sebagai media mainstream untuk bertahan untuk eksis, begitu ya. Yang berkembang malah media sosial dan di media sosial memang tidak ada regulasi juga yang memperketat media sosial."
"Ya jadi sangat bebas sehingga mau tidak mau kita ini terpengaruh. Ya media kita terpengaruh, terpengaruh dengan adanya media sosial," kata Arifin dalam materinya tentang 'Jurnalisme Berkualitas dengan Perspektif Multiplatform, di Kelas Journalism Fellowship on CSR, pada Senin (22/6/2026).
Arifin menilai penyebaran informasi di media sosial yang tidak disertai regulasi ketat, pada akhirnya memberikan dampak disrupsi yang nyata bagi media mainstream.
Namun kondisi ini tidak boleh membuat media mainstream menyerah. Bagi Arifin, strategi utama yang harus ditempuh adalah melakukan transformasi total dan ikut terjun ke dalam ekosistem media sosial.
Baca juga: Menghadapi Hadirnya AI di Ruang Redaksi, Jurnalis Tetap Punya Peran Penting untuk Pegang Kendali
"Kalau dikatakan disrupsi, kita memang mengalami disrupsi saat ini, tapi kalau kaitannya dengan itu, Kita bisa melakukan transformasi ke arah ekosistem media sosial. Karena memang yang paling banyak pembaca, audiens di situ. Sehingga kita perlu masuk ke situ."
"Kita masuk ke situ untuk memperbaiki informasi atau menyeimbangkan informasi, yang memang di media sosial lebih banyak informasi hoaks dan lain lain," terang Arifin.
Baca juga: Pers Wakili Publik Jadi Pilar ke-4 Demokrasi, Nurcholis Basyari Tegaskan Fungsi Kontrol Sosial Pers
Namun menurut Arifin, kendala tersebut harus dijadikan pemicu untuk melahirkan terobosan-terobosan baru. Arifin meyakini media mainstream yang mampu bertahan di masa-masa sulit ini akan memanen hasilnya di masa depan.
Karena pada akhirnya publik secara natural akan kembali mencari informasi yang kredibel melalui media mainstream.
" Tapi walaupun memang banyak kendala banyak tantangan disini, mau tidak mau kita sebagai media massa, tentu harus mencari terobosan-terobosan supaya tetap media massa media, media mainstream itu Tetap bertahan, tetap berperan. Karena menurut saya, bagi media mainstream yang bisa bertahan saat ini, saya yakin nanti suatu saat akan datang era baru."
"Era baru yang akhirnya membuat media mainstream itu peranannya akan semakin besar. Karena apa, karena menurut saya di media sosial orang sudah semakin paham Banyak hoaks dan lain lain, kan. Dia secara natural itu nanti akan mencari informasi yang bisa dipertanggungjawabkan. Informasi yang valid dan lain lain. Itu yang kita harus kita yakini," jelas Arifin.
Baca juga: Menjaga Eksistensi Pers di Tengah Derasnya Informasi Media Sosial, Kreativitas Wartawan Jadi Jawaban
Untuk mewujudkan transformasi menuju ekosistem media sosial, Arifin menyebutkan tiga faktor utama yang harus dimiliki oleh media mainstream, di antaranya adalah:
Melalui komitmen, konsistensi, dan inovasi yang tepat, transformasi media mainstream ke media sosial bukan lagi sekadar cara bertahan hidup.
Melainkan strategi mutlak agar media mainstream tetap eksis dan menjadi pilar informasi yang dipercaya oleh masyarakat.
(Tribunnews.com/Faryyanida Putwiliani)