TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO- Riyanto (40) tampak sibuk merapikan tanaman hias yang dijualnya di sepanjang Jalan Raya Baturraden, Kabupaten Banyumas.
Di dekat Kantor Kecamatan Baturraden, menjadi sentral penjualan tanaman hias.
Ada sejumlah 25 pedagang tanaman hias yang berjajar di sepanjang jalan dengan menyewa tanah bengkok.
Satu di antaranya Riyanto yang akrab disapa Anto.
Dia sudah sekira 14 tahun menggeluti usaha tanaman hias dengan menyewa lahan seluas 700 meter per segi milik Pemerintah Desa Rempoah.
Namun siapa sangka, Anto dulunya hanya seorang pekerja dari penjual tanaman hias yang nekat membuka usahanya.
Anto mengatakan, dia dulu ikut orang selama beberapa tahun di usaha tanaman hias.
Tetapi dia kemudian ingin membuka usahanya sendiri.
"Mulai dari usaha kecil, karena belum begitu pengalaman. Modal awal kira-kira Rp 25 juta, itu hanya dapat sekira 100 tanaman" katanya kepada tribunbanyumas.com, Jumat (3/7/2026).
Anto mengatakan, usahanya lambat laun berkembang dan memiliki banyak langganan.
Saat ini dia memiliki sekira 500 jenis tanaman hias yang nilainya mencapai sekira Rp 100 juta.
Dalam satu minggu dia bisa menjual puluhan tanaman hias.
"Alhamdulillah dari yang awalnya kesulitan di modal, kini dapat berkembang. Saya tidak hanya mengandalkan pengunjung datang, kadang ikut kontraktor untuk bikin taman," ungkapnya.
Ikut Merawat Langsung
Anto saat ini memiliki dua karyawan yang membantunya merawat tanaman hias.
Dia pun secara langsung merawat tanaman-tanaman itu, dari penumpukan hingga membuatnya lebih bagus seperti membersihkan batang dan memotong ranting.
Tanaman hias yang dijual mulai dari bougenville, melati, kucai mini, begonia, tanaman gantung, kamboja fosil, anting putri, hingga bonsai.
"Di sini yang diunggulkan tanaman besar, seperti kamboja fosil dan bonsai. Tanaman di sini dari berbagai daerah, dari Jakarta, Cilacap dan sebagainya," katanya.
Menurut Anto, kebunnya ramai didatangi pembeli saat hari Sabtu- Minggu, baik baik anak muda, orangtua maupun kalangan ibu-ibu.
Ibu-ibu biasanya membeli tanaman jenis aglonema, harganya beragam mulai Rp 10 ribu sampai jutaan rupiah.
Anak muda carinya tanaman-tanaman kecil, seperti melati, kucai mini dan sebagainya, harga mulai Rp 100 ribu.
Sedangkan orangtua biasanya cari bonsai, harganya mulai Rp 500 ribu- Rp 20 juta.
"Paling favorit saat ini bougenville, karena musimnya pas, saat musim panas berbungan jadi kelihatan cantik," jelasnya.
Pernah Alami Rugi
Anto mengatakan, usahanya tidak selalu mulus tanpa jatuh bangun.
Dia yang juga banyak menjual tanaman bonsai sering mengalami kerugian.
Tanaman bonsainya mati karena ketidaktelitian saat membeli.
"Jadi bonsainya mati padahal baru beli. Misal beli saat di lokasi kelihatannya bagus dan baik-baik saja, tapi saat sudah dibawa pulang ternyata kena penyakit," katanya.
Menurut Anto, penyakit yang sering terkena di tanaman namanya penyakit bubuk.
Meski begitu, tidak banyak pohon yang terkena, hanya satu dua saja.
Sedangkan masa-masa untung terakhir saat pandemi Covid-19.
"Saat pandemi Covid-19 itu saya termasuknya untung. Mungkin saat itu banyak yang butuh hiburan, akhirnya beli tanaman hias," ungkapnya. (fba)