Oleh: Dr. Elinda Rizkasari, S.Pd., M.Pd. - Dosen Prodi PGSD Universitas Slamet Riyadi Surakarta
DI balik foto-foto keluarga yang tampak hangat di media sosial, ada satu kenyataan yang jarang dibicarakan: makin banyak orang tua muda yang diam-diam kelelahan. Mereka tersenyum di depan kamera, tetapi runtuh dalam sunyi.
Mengasuh anak yang dahulu dianggap sebagai sumber kebahagiaan kini bagi sebagian orang tua milenial justru terasa seperti perjalanan panjang yang menguras emosi, energi, bahkan makna diri.
Fenomena itu dikenal sebagai parental burnout kelelahan fisik, emosional, dan mental akibat tekanan berkepanjangan dalam mengasuh anak. Ini bukan sekadar lelah biasa. Ini adalah kondisi ketika orang tua merasa kehilangan kendali, kehilangan kesabaran, bahkan kehilangan dirinya sendiri.
Di Indonesia, isu ini mulai terasa nyata. Orang tua muda hidup dalam tekanan berlapis. Mereka tidak hanya dituntut menjadi pengasuh yang sabar, tetapi juga harus menjadi guru, teman bermain, konselor emosional, sekaligus pencari nafkah. Di saat yang sama, mereka dibombardir oleh standar parenting yang nyaris sempurna yang justru sering kali datang dari media sosial.
Setiap hari, lini masa dipenuhi dengan potret anak-anak yang cerdas, kreatif, dan penuh prestasi. Di baliknya, ada narasi tersirat: menjadi orang tua berarti harus selalu benar, sabar, dan tanpa cela.
Namun realitas tidak sesederhana itu. Anak menangis, tantrum, sulit diatur. Orang tua lelah, marah, dan kadang merasa gagal. Ketika realitas tidak sesuai dengan ekspektasi, yang muncul adalah rasa bersalah yang terus menumpuk. Inilah ironi parenting modern.
Makin banyak teori, makin banyak metode, tetapi makin sedikit ruang bagi orang tua untuk menjadi manusia yang utuh yang boleh lelah, boleh salah, dan boleh berhenti sejenak.
Tekanan ini makin berat karena perubahan struktur sosial. Dahulu, mengasuh anak adalah tanggung jawab kolektif ada keluarga besar, tetangga, dan komunitas yang saling menopang. Kini, banyak orang tua muda harus menjalani semuanya sendiri. Tinggal di kota besar, jauh dari orang tua, dengan ritme hidup yang cepat dan tuntutan ekonomi yang tinggi, membuat proses mengasuh anak menjadi jauh lebih berat dari sebelumnya.
Penelitian global dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa parental burnout berkaitan erat dengan meningkatnya risiko depresi, kecemasan, bahkan gangguan relasi antara orang tua dan anak. Dalam kondisi ekstrem, burnout dapat membuat orang tua menjadi lebih mudah marah, lebih dingin secara emosional, atau justru menarik diri dari anaknya sendiri.
Jika ini terus dibiarkan, yang terdampak bukan hanya orang tua, tetapi juga generasi anak yang sedang tumbuh. Anak-anak tidak hanya membutuhkan orang tua yang “benar”, tetapi orang tua yang hadir secara emosional. Ketika orang tua kelelahan secara jiwa, kehadiran itu perlahan menghilang.
Pertama, kita perlu mengubah cara pandang tentang parenting itu sendiri. Mengasuh anak bukanlah kompetisi, bukan pula panggung kesempurnaan. Tidak ada orang tua yang sempurna, dan itu tidak masalah. Yang lebih penting adalah kehadiran yang cukup, bukan kesempurnaan yang dipaksakan.
Kedua, penting bagi orang tua untuk mengenali batas dirinya. Beristirahat bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab. Orang tua yang sehat secara mental akan lebih mampu membesarkan anak yang sehat secara emosional.
Ketiga, masyarakat dan lingkungan sekitar perlu kembali membangun budaya saling mendukung. Parenting tidak seharusnya menjadi beban individual. Komunitas, keluarga besar, bahkan kebijakan publik perlu hadir untuk meringankan beban orang tua muda.
Dan yang tidak kalah penting, media sosial perlu lebih bijak dalam membingkai realitas parenting.
Kita tidak membutuhkan lebih banyak standar yang membuat orang tua merasa tidak cukup. Kita membutuhkan lebih banyak ruang yang jujur—tentang lelah, tentang jatuh, dan tentang bangkit kembali.
Burnout orang tua muda bukanlah tanda kegagalan individu. Ia adalah sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki dalam cara kita memahami dan menjalani peran sebagai orang tua di era modern.
Karena pada akhirnya, mengasuh anak bukan hanya tentang membesarkan mereka. Ini juga tentang menjaga agar orang tua tetap utuh sebagai manusia. (*)