TRIBUN-TIMUR.COM, PINRANG - Ulama dan pejabat menghadiri Silaturahmi Nasional (Silatnas) Badan Otonom Darud Da'wah wal Irsyad (DDI).
Silatnas DDI di Ponpes Manahilil Ulum Addariyah DDI Kaballangan, Desa Kaballangang, Kecamatan Duampanua, Pinrang, Sulsel, digelar tiga hari mulai 3 sampai 5 Juli 2026.
Ponpes Manahilil Ulum Addariyah DDI Kaballangan merupakan lembaga pendidikan Islam didirikan tokoh besar Nahdlatul Ulama, AGH. Abdurrahman Ambo Dalle.
Nama Manahilil Ulum memiliki arti "penapis ilmu pengetahuan" atau patandana paddisengenge.
Tokoh penting hadir seperti Syekh Murtada Mas'ud Ahmad, Prof Anregurutta Abdul Rahim Arsyad, Prof Anregurutta Lukmanul Hakim, Ketua Umum DDI Prof Andi Syamsul Bahri, M A, Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif, juga hadir.
Syaharuddin Alrif juga alumni Pondok Pesantren Kaballangan.
Baca juga: Nurlaelah Abbas: Alumnus DDI dari Dusun Puse Bangkir Sulteng ke Mimbar Guru Besar UIN Alauddin
"Kami mengundang seluruh tokoh ulama dan tokoh lainnya khususnya di keluarga besar DDI," ujar Koordinator Humas Panitia Silatnas Alimuddin Budung, Sabtu (4/7/2026).
Tujuan utama dari silatnas ialah silaturahmi akbar.
Mereka ingin merajut kembali tali silaturahmi antar alumni yang sudah lama terpisah.
"Alhamdulillah hari ini alumni dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat tumpah ruah," kata Mantan Ketua PKB Pinrang ini.
"Banyak alumni dari Jakarta hingga Papua ikut menyumbang demi menyukseskan acara ini," pungkasnya.
Pertemuan ini sekaligus menjadi wadah melepas rindu bagi seluruh keluarga pesantren.
Masyarakat setempat turut menyukseskan acara dengan menyediakan puluhan rumah untuk tempat menginap.
Sebanyak 30 perumahan warga disiapkan secara gratis bagi para peserta dari luar daerah.
"Pesan utama yang ingin kami sampaikan adalah nilai pengabdian serta ketulusan," jelasnya.
Panitia juga memasang bendera organisasi dari Kota Parepare hingga ke Polewali Mandar.
Sejarah Darud Da'wah Wal Irsyad (DDI)
Darud Da’wah wal Irsyad (DDI) lahir atas inisiatif beberapa tokoh ulama besar, yakni K.H. Daud Ismail (Kadi Soppeng), K.H. Abd. Rahman Ambo Dalle (MAI Mangkoso), dan Syekh H. Abd. Rahman Firdaus dari Parepare.
Organisasi ini resmi dibentuk melalui Musyawarah Alim Ulama Ahlussunnah Wal-Jamaah se-Sulawesi Selatan yang dilaksanakan di Watan Soppeng pada tanggal 17 Februari 1947(16 Rabiul Awal 1366 H).
Pertemuan ini dipadukan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Pemilihan lokasi di Soppeng memiliki alasan strategis, yakni untuk menghindari kecurigaan Westerling, karena wilayah tersebut termasuk afdeling Bone yang relatif aman dari operasi pembantaian Belanda saat itu.
Fokus utama pendirian organisasi ini adalah untuk bergerak di bidang pendidikan, dakwah, dan sosial kemaslahatan umat.
Tujuannya adalah membina pribadi muslim yang mampu menyelenggarakan ajaran Islam secara murni serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Dalam musyawarah pembentukannya, sempat terjadi perdebatan mengenai nama organisasi dengan tiga usulan nama Al-Urwatul Wutsqa, Nasrul Haq, dan Darud Da’wah wal Irsyad.
Akhirnya, nama Darud Da’wah wal Irsyad yang diusulkan oleh Syekh K.H. Abd. Rahman Firdaus terpilih secara demokratis.
Nama tersebut memiliki arti filosofis, yakni Darud (rumah/tempat), Da’wah (ajakan masuk ke rumah tersebut), dan Al-Irsyad (petunjuk yang didapat melalui proses dakwah).
Pembentukan DDI juga merupakan wujud integrasi dan peningkatan status dari Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) Mangkoso yang telah berdiri sejak 11 Januari 1938.
Melalui integrasi ini, wadah yang awalnya hanya berupa organisasi sekolah ditingkatkan menjadi organisasi kemasyarakatan Islam dengan struktur yang lebih luas, baik secara vertikal maupun horizontal.
Hal ini memungkinkan DDI untuk menggarap bidang-bidang di luar pendidikan secara lebih terorganisir.
Sejak awal berdiri, DDI menegaskan posisinya sebagai lembaga yang independen dan tidak mencampuri urusan politik praktis.
Hal ini tertuang dalam Peraturan Dasar pertama mereka yang menyatakan bahwa badan tersebut bukan merupakan bagian dari organisasi politik manapun.
Meski dalam perjalanannya terdapat dinamika terkait keterlibatan tokoh-tokohnya dalam politik, nilai-nilai independensi ini tetap diupayakan untuk menjaga keutuhan warga organisasi.
Pertumbuhan DDI tergolong unik karena berkembang dari akar rumput di pedesaan sebelum akhirnya meluas ke kota-kota besar di berbagai provinsi seperti Sulawesi Tengah, Kalimantan Timur, hingga Riau.
Pengembangan organisasi dilakukan melalui dua pola pertama, melalui permufakatan rakyat dan penyediaan sarana pendidikan terlebih dahulu, kedua, melalui pembentukan pengurus organisasi untuk kemudian mensosialisasikan dan membangun madrasah sesuai kebutuhan setempat.
Laporan wartawan Tribun-Timur.com/Moh Faizal Lupphy S.